Koleksi Museum Aceh masa kolonial dipamerkan secara virtual

Koleksi Museum Aceh masa kolonial dipamerkan secara virtual

Tangkapan layar paviliun Rumoeh Aceh yang ditampilkan dalam pameran virtual Disbudpar Aceh, Senin (2/8/2021). (ANTARA/Khalis)

Banda Aceh (ANTARA) - Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh memamerkan secara virtual sejumlah koleksi Museum Aceh yang pernah diikutkan dalam pameran oleh Pemerintah Hindia Belanda di Semarang pada 1914.

Kepala Disbudpar Aceh Jamaluddin di Banda Aceh, Senin, mengatakan pameran virtual koleksi Museum Aceh itu digelar dalam rangka memperingati 106 tahun usia Museum Aceh, yang selalu diperingatkan setiap 31 Juli.

“Pameran ini bertujuan memperkenalkan sejarah panjang Museum Aceh dan menampilkan sejumlah koleksi yang tidak pernah dihadirkan pada pameran-pameran sebelumnya, sehingga generasi Aceh sekarang dan masyarakat Indonesia pada umumnya dapat mengenal Aceh lebih jauh,” katanya dalam keterangannya di Banda Aceh.

Baca juga: DPRA dorong percepatan pembangunan museum Al Quran kuno di Nagan Raya

Talkshow dan pameran virtual Koleksi Museum Aceh itu mengangkat tema Kilas Balik Sejarah Museum Aceh, yang berlangsung pada Senin (2/8) secara virtual.

Dia menjelaskan salah satu daya tarik pameran itu karena adanya ulasan mengenai beberapa koleksi awal Museum Aceh yang ditampilkan pada Expo De Koloniale Tentoonstelling yakni pameran kolonial internasional yang digelar Pemerintah Hindia Belanda di Semarang, 20 Agustus-15 November 1914.

Saat itu, kata dia, Paviliun Aceh menampilkan sejumlah koleksi hasil kurasi tentara Hindia Belanda Friedrich Wilhelm Stammeshaus dan berhasil meraih juara paviliun nusantara terbaik.

Baca juga: Museum Tsunami Aceh dianugerahi destinasi wisata unik terpopuler API

Kepala UPTD Museum Aceh Mudha Farsyah menyebutkan bahwa pameran virtual itu dikemas dalam bentuk talkshow, yang menampilkan sejumlah koleksi menarik lain yang jarang dipamerkan.

“Pameran ini dibuat secara virtual. Selain mengikuti tren masyarakat yang sudah terbiasa menggunakan perangkat digital, tujuan pameran virtual juga menyesuaikan dengan kondisi pandemi yang tidak memungkinkan museum dibuka untuk umum,” katanya.

Untuk diketahui, Museum Aceh awalnya berupa Rumoh Aceh yaitu rumah tradisional Aceh yang dibuat sebagai Paviliun Aceh pada pameran kolonial atau Der Koloniale Tentoonstelling.

Baca juga: Banda Aceh bakal miliki museum sejarah keislaman Aceh

Kala itu, pameran tersebut diikuti paviliun dari sejumlah negara dan paviliun nusantara. Pemerintah Hindia Belanda di Aceh mendelegasikan Friedrich Wilhelm Stammeshaus untuk mengikutsertakan Paviliun Aceh pada ajang tersebut.

Stammeshaus dipercayakan sebagai kurator, menampilkan koleksi pribadi dan pinjaman dari sejumlah pemuka Aceh. Hasilnya, Paviliun Aceh meraih empat medali emas, 11 perak dan tiga perunggu, sehingga menjadi paviliun terbaik.

Baca juga: Pengunjung dibatasi sesuai prokes, Museum Tsunami Aceh dibuka lagi

Kemudian, Stammeshaus kemudian mengusulkan Paviliun Aceh dibawa pulang ke daerah Tanah Rencong untuk dijadikan museum. Tak lama kemudian, Paviliun Aceh dibongkar dan dibawa pulang ke Koetaradja (kini Banda Aceh), Aceh.

Museum Aceh yang saat itu diberi nama Atjeh Museum diresmikan pada 31 Juli 1915 oleh Gubernur Sipil dan Militer Belanda di Aceh, Jenderal Henri Nicolas Alfred Swart dan Stammeshaus ditunjuk sebagai Kepala Museum Aceh.

Baca juga: Dokumen pembelian Dakota RI-001 ada di 100 tahun Museum Aceh
 
Pewarta : Khalis Surry
Editor: Agus Salim
COPYRIGHT © ANTARA 2021