BMKG perbarui teknologi guna antisipasi iklim ekstrem di Indonesia

BMKG perbarui teknologi guna antisipasi iklim ekstrem di Indonesia

Dokumentasi. Tangkapan layar Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati dalam sambutan Rakorbangnas BMKG secara daring, Kamis (29/7/2021). (Antara/Devi Nindy)

Jakarta (ANTARA) - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terus memperbarui teknologi guna mengantisipasi perubahan iklim global yang semakin kompleks dan dinamis.

“BMKG terus berupaya mengembangkan teknologi sistem peringatan dini cuaca dan iklim, pun dengan sistem observasi yang didukung dengan sistem informasi. Dengan begitu, masyarakat yang kerap terdampak perubahan iklim seperti nelayan dan petani dapat memantau dan cepat beradaptasi pula,” kata Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati dalam keterangannya yang diterima di Jakarta, Senin.

Dwikorita mengatakan, pembaruan teknologi menjadi sangat penting agar dampak perubahan iklim yang begitu cepat bisa dimitigasi dengan baik. Selain itu, untuk menentukan langkah serta aksi yang diperlukan untuk beradaptasi dengan situasi tersebut.

Baca juga: Menteri PUPR sebut pentingnya data BMKG bagi konstruksi infrastruktur

“Meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer menjadi salah satu penyebab perubahan iklim global. Kita harus cepat memahami, beradaptasi, dan menyesuaikan diri dengan fenomena ini,” ujar dia.

Dwikorita mencontohkan, salah satu fenomena perubahan iklim yang dapat dirasakan adalah masih turunnya hujan di sejumlah wilayah di Indonesia meskipun pada bulan Juli, Indonesia tengah berada di musim kemarau.

Fenomena ini, kata dia, telah diprediksi BMKG sejak Maret 2021 lalu, dimana hasil analisis BMKG menunjukkan bahwa kondisi curah hujan di atas normal terjadi hampir di sebagian besar wilayah Indonesia. Kondisi ini agak mirip dengan tahun lalu, ketika curah hujan bulanan di atas normal terjadi di banyak wilayah Indonesia.

Situasi dan kondisi tersebut, kata Dwikorita, akibat letak geografis Indonesia yang berada di antara dua benua dan samudra sehingga cuaca dan iklim dipengaruhi interaksi yang terjadi diantara keduanya. Gangguan gelombang atmosfer dan gerak semu matahari juga memberi pengaruh terhadap situasi tersebut.

“Bulan Juli yang umumnya ditandai dengan kondisi kering di wilayah Indonesia bagian selatan, seperti Jawa, Bali, NTB (Nusa Tenggara Barat) dan NTT (Nusa Tenggara Timur), ternyata pada saat yang bersamaan justru merupakan periode puncak hujan bagi sebagian wilayah yang lain, yang berpotensi menimbulkan bencana banjir,” ujar dia.

Jadi, saat masyarakat sedang waspada pada potensi bencana kebakaran hutan dan lahan akibat kemarau, di saat bersamaan, masyarakat juga perlu waspada terhadap potensi bencana banjir, kata Dwikorita.

Dwikorita mengatakan, inovasi teknologi yang dilakukan BMKG saat ini diarahkan untuk mampu menangkap indikasi fenomena-fenomena cuaca dan iklim di luar kondisi iklim yang normal. Dengan demikian, informasi-informasi yang dihadirkan BMKG dapat mengantisipasi dampak negatif akibat anomali cuaca dan iklim tersebut di berbagai sektor.

Baca juga: BMKG kembangkan inovasi teknologi wujudkan mitigasi nihil korban
Baca juga: Menko PMK dorong investasi upaya kurangi risiko bencana oleh BMKG
Pewarta : Devi Nindy Sari Ramadhan
Editor: Triono Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2021