BNPB: 93 tahun lalu letusan eksplosif Gunung Rokatenda picu tsunami

BNPB: 93 tahun lalu letusan eksplosif Gunung Rokatenda picu tsunami

Gunung Rokatenda mengepulkan awan panas setelah terjadi letusan di Pulau Palue, Kabupaten Sikka, NTT, Minggu (11/8). Letusan gunung tersebut menelan lima warga tewas dan ratusan lainnya harus diungsikan ke tempat yang lebih aman. ANTARA FOTO/Aris Ninu/BT/Koz/Spt/pri.

Jakarta (ANTARA) - Badan Nasional Penanggulangan Bencana mencatat katastrofe letusan eksplosif Gunung Rokatenda 93 tahun lalu mengakibatkan jatuhnya korban jiwa, dengan sebagian besar tewas terhempas tsunami yang dipicu aktivitas vulkanik gunung di Pulau Palue, Nusa Tenggara Timur itu.

“Catatan sejarah menyebutkan bahwa letusan selama beberapa hari tersebut telah menyebabkan 266 warga menjadi korban. Katastrofe terjadi karena letusan tak hanya menyemburkan material vulkanik tetapi juga tsunami serta guncangan gempa,” ujar Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari dalam keterangannya di Jakarta, Rabu.


Ia mengatakan letusan dahsyat itu berlangsung selama beberapa hari, tepatnya pada 4 Agustus hingga 25 September 1928. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat kekuatan erupsi hingga volcanic explosivity index (VEI) 3, yang menghasilkan perubahan lava dome dan bekas letusan hingga empat kawah terbentuk.


Dari penelusuran media massa pada 10 Agustus 1928, New York Times mengabarkan estimasi ribuan orang meninggal dan 500 warga luka-luka oleh letusan hebat Gunung Rokatenda. Artikel dengan judul Volcano Kills 1.000 in Dutch East Indies; Wipes Out Six Villages on Paloeweh Island juga menyebutkan sisi selatan Pulau Palue tempat enam desa hancur oleh material vulkanik.


Gelombang pasang setinggi 4,6 meter dipicu aktivitas vulkanik menenggelamkan warga yang tengah berada di laut saat evakuasi.


“Gunung Rokatenda yang memiliki ketinggian 875 meter di atas pemukaan laut diperkirakan pernah mengalami erupsi hebat sebelum tahun 1928. Berdasarkan catatan PVMBG, keterangan penduduk menyebutkan bahwa letusan itu terjadi 200 tahun lalu atau sekitar delapan generasi sebelum letusan 1928,” ujar dia.


Erupsi Gunung Rokatenda yang pernah terekam berlangsung pada 1928, 1972, 1973, 1985, 2012 dan 2013. Dari sisi periode letusan, hal tersebut terjadi antara 1972 dan 1973 atau periode letusan terpendek. Kedua peristiwa pada tahun tersebut berupa letusan abu, sedangkan periode letusan terpanjang, tercatat 35 tahun, antara 1928 dan 1963.

Baca juga: Penduduk Palue terancam kelaparan


Karakteristik aktivitas vulkanik Gunung Rokatenda bersifat efusif dan eksplosif. Aktivitas tersebut berpotensi menghasilkan lava dan piroklastik. PVMBG telah mengidentifikasi potensi bahaya dengan memetakan Kawasan Rawan Bencana (KRB) Gunung Rokatenda.


KRB gunung api adalah kawasan yang pernah terlanda atau teridentifikasi berpotensi terancam bahaya erupsi gunung api, baik secara langsung maupun tidak langsung.


Misalnya, KRB III Gunung Rokatenda merupakan kawasan yang berpotensi dilanda awan panas, apabila gunung ini meletus kembali dengan jenis dan tipe erupsi yang relatif identik dengan erupsi-erupsi sebelumnya. Kawasan yang berpotensi terlanda yaitu mengarah ke bagian barat daya dan timur dengan jarak luncur maksimum 1,5-1,75 km dari pusat erupsi.


Potensi adanya aliran dan guguran lava yang mengarah ke sekitar puncak atau di kawah Rokatenda. Apabila erupsinya membesar maka kemungkinan lava mengalir lebih jauh dari pusat erupsi dan cenderung akan mengalir ke sektor barat daya dan timur dengan jarak jangkau maksimum 1-1,5 kilometer dari pusat erupsi.

 

KRB III juga berpotensi terjadi material lontaran dan hujan abu lebat. Rekomendasi PVMBG apabila terjadi erupsi besar, radius sektoral sebaran material lontaran batu pijar berukuran lebih dari enam sentimeter dan hujan abu lebat hingga radius dua kilometer dari pusat erupsi.
 

Gunung api di Pulau Palue atau di utara Pulau Flores ini di Kecamatan Awa, Kabupaten Sikka, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Pulau Palue memiliki luas 41 kilometer persegi atau 2,37 persen dari luas Kabupaten Sikka. Populasi penduduk pulau 9.442 jiwa tersebar di enam desa.


“Gunung Rokatenda atau Gunung Paluweh ini merupakan salah satu gunung api dari total 127 gunung aktif yang berada di wilayah Indonesia. Aktivitas vulkaniknya berada pada tingkat II atau Waspada. Secara umum, definisi tingkat Waspada berarti suatu gunung api memiliki potensi peningkatan kapasitas aktivitas dan ancaman bahaya erupsi di sekitar kawah,” ujarnya.


Terkait dengan risiko, BNPB mengidentifikasi 3,9 juta populasi penduduk yang tersebar di 18 provinsi berpotensi terpapar bahaya erupsi gunung api. Untuk memberikan pemahaman terhadap kesiapsiagaan dan keselamatan menghadapi bahaya letusan gunung api, masyarakat dapat mengakses buku saku Tanggap, Tangkas, Tangguh pada tautan berikut ini https://loker.bnpb.go.id/s/aerqq4dMPYe8ssn.


Baca juga: Pengungsi letusan Rokatenda minta segera direlokasi
Baca juga: Gunung Rokatenda masih berpotensi keluarkan letusan
Baca juga: 560 pengungsi Gunung Rokatenda dipindahkan
Pewarta : Devi Nindy Sari Ramadhan
Editor: M. Hari Atmoko
COPYRIGHT © ANTARA 2021