Gunung Merapi kembali keluarkan awan panas guguran sejauh 2.300 meter

Gunung Merapi kembali keluarkan awan panas guguran sejauh 2.300 meter

Ilustrasi - Pucak Gunung Merapi terlihat dari Desa Wedomartani, Ngemplak, Sleman, DI Yogyakarta. ANTARA FOTO/Hendra Nurdiyansyah/pras/pri.

Yogyakarta (ANTARA) - Gunung Merapi di perbatasan Provinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta, kembali meluncurkan awan panas guguran dengan jarak luncur sejauh 2.300 meter ke arah barat daya, pada Rabu malam.

Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Hanik Humaida melalui keterangan resminya di Yogyakarta, Rabu, menjelaskan awan panas guguran itu terjadi pada pukul 18.26 WIB.

"Awan panas guguran tercatat di seismogram dengan amplitudo 55 mm dan durasi 173 detik," kata dia.

Pada periode pengamatan pukul 12.00 sampai 18.00 WIB, gunung api aktif itu tercatat mengalami 80 kali gempa guguran dengan amplitudo 3-35 mm selama 11-118 detik, dan 46 gempa hembusan dengan amplitudo 2-11 mm dengan durasi 9-25 detik.

Baca juga: BPPTKG sebut kubah lava sisi barat daya Gunung Merapi bertambah tinggi

Baca juga: Gunung Merapi meluncurkan 18 kali guguran lava pijar hingga 1,5 km


Sebelumnya, awan panas guguran pertama, pada Rabu, meluncur dari Gunung Merapi pada pukul 10.13 WIB dengan jarak luncur 2.500 meter arah ke barat daya.

Deformasi atau perubahan bentuk tubuh Merapi yang dipantau BPPTKG menggunakan electronic distance measurement (EDM) pada 31 Agustus 2021, menunjukkan laju pemendekan jarak rata-rata 2,1 cm dalam tiga hari.

Guguran lava dan awan panas Gunung Merapi diperkirakan bisa berdampak ke wilayah sektor selatan-barat daya yang meliputi Sungai Kuning, Boyong, Bedog, Krasak, Bebeng, dan Putih. Saat terjadi letusan, lontaran material vulkanik dari Gunung Merapi diperkirakan dapat menjangkau radius tiga kilometer dari puncak gunung.*

Baca juga: Gunung Merapi mengalami 323 kali gempa guguran

Baca juga: Gunung Merapi meluncurkan awan panas guguran sejauh 3,5 km
Pewarta : Luqman Hakim
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2021