Studi: Long COVID pengaruhi 1 dari 7 anak 15 minggu setelah positif

Studi: Long COVID pengaruhi 1 dari 7 anak 15 minggu setelah positif

Anak-anak terlihat mencuci tangan mereka di Heath Mount School, seiring dengan dibukanya kembali beberapa sekolah di tengah pandemi COVID-19 di Watton-at-Stone, Inggris, 2 Juni 2020. (ANTARA/REUTERS/ANDREW COULDRIDGE)

Jakarta (ANTARA) - Sebanyak 1 dari 7 anak-anak mungkin memiliki gejala berkepanjangan yang terkait dengan virus corona (long COVID) beberapa bulan (sekira 15 minggu) setelah dites positif COVID-19, menurut laporan studi Inggris tentang long COVID pada remaja, dikutip dari Reuters, Kamis. 

Anak-anak jarang menjadi sakit parah karena COVID-19, tapi mereka juga dapat menderita gejala yang berkepanjangan, menurut studi tersebut. Penelitian juga memberikan pandangan tentang seberapa umum apa yang disebut "long COVID dalam kelompok usia".

Studi yang dipimpin oleh University College London dan Public Health England, menemukan bahwa anak berusia 11 hingga 17 tahun yang dites positif terkena virus dua kali lebih mungkin melaporkan tiga gejala atau lebih dalam waktu 15 minggu lebih lambat daripada mereka yang dites negatif.

Baca juga: Mengatasi nyeri sendi usai kena COVID-19

Baca juga: Perhimpunan dokter paru minta masyarakat waspadai gejala "Long Covid"


Para peneliti mensurvei 3.065 anak berusia 11 hingga 17 tahun di Inggris yang memiliki hasil positif dalam tes PCR antara Januari dan Maret, dan kelompok kontrol yang terdiri dari 3.739 anak berusia 11 hingga 17 tahun yang dites negatif selama periode yang sama.

Di antara mereka yang dites positif, 14 persen melaporkan tiga atau lebih gejala seperti kelelahan yang tidak biasa atau sakit kepala 15 minggu kemudian, dibandingkan dengan 7 persen yang melaporkan gejala pada saat itu di antara kelompok kontrol.

Para peneliti mengatakan bahwa sementara temuan menunjukkan sebanyak 32 ribu remaja mungkin memiliki beberapa gejala yang terkait dengan COVID-19 setelah 15 minggu, prevalensi COVID panjang pada kelompok usia lebih rendah daripada yang ditakuti beberapa orang tahun lalu.

"Secara keseluruhan, ini lebih baik daripada yang diperkirakan orang pada bulan Desember," kata Profesor Terence Stephenson dari Institut Kesehatan Anak Great Ormond Street UCL.

Temuan adalah pra-cetak yang belum diabsahkan melalui penelaahan sejawat (peer-review). Para penulis mengatakan bahwa setiap keputusan untuk memperpanjang vaksinasi kepada anak berusia 12 hingga 15 tahun di Inggris tidak mungkin didasarkan pada penelitian ini, karena tidak ada cukup data tentang apakah vaksinasi bisa melindungi dari long COVID.

"Kami mendapatkan semakin banyak bukti tentang keamanan vaksin pada anak berusia 12 hingga 15 tahun dan itu lebih mungkin untuk dipertimbangkan," kata Liz Whittaker, seorang dokter anak di Imperial College London.

Baca juga: Reisa: Pasien COVID-19 berpotensi terkena Post COVID Syndrome

Baca juga: Tips jaga kesehatan agar tak terjadi "long COVID-19"

Baca juga: Reisa minta penderita Post COVID agar rutin konsultasi dengan dokter
Pewarta : Arnidhya Nur Zhafira
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
COPYRIGHT © ANTARA 2021