Satgas COVID-19: Virus varian Delta terbanyak ditemukan

Satgas COVID-19: Virus varian Delta terbanyak ditemukan

Tangkapan layar Ketua Tim Pakar Satgas Penanganan COVID-19 Prof Wiku Adisasmito saat menyampaikan keterangan pers secara virtual yang dipantau dari kanal YouTube BNPB di Jakarta, Selasa (31/8/2021). (ANTARA/Andi Firdaus)

Jakarta (ANTARA) - Juru Bicara Satgas Penanganan COVID-19 Wiku Adisasmito mengakui bahwa variant of concern (VoC) virus SARS-CoV-2 yang paling banyak ditemukan di Indonesia adalah jenis Delta atau B.1.617.2.

"Sejak tahun 2020 hingga 1 September 2021 sudah dilakukan whole genome sequence untuk 5.790 sampel, dimana ditemukan 2.323 di antaranya merupakan VoC yang terdiri dari varian Alfa yaitu 64 kasus, Beta 17 kasus dan Delta 2.242 kasus," kata Wiku melalui konferensi video di Jakarta pada Kamis.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan Variant of Concern adalah varian virus corona yang menyebabkan peningkatan penularan, dan peningkatan kematian. Bahkan, varian virus corona yang masuk dalam kategori ini juga disebut memiliki kemampuan dalam memengaruhi efektivitas vaksin.

Varian-varian virus corona yang termasuk dalam kelompok yang dikategorikan sebagai VoC antara lain, yakni varian Alfa (B.1.1.7), varian Beta (B.1.351, B.1.351.2, B.1.351.3), varian Delta (B.1.617.2) dan varian Gamma (P.1, P.1.1, P.1.2).

"Sampai pada hari ini telah ditemukan sebanyak tiga dari empat jenis VoC yang di Indonesia yaitu Alpha, Beta dan Delta," tambah Wiku.

Menurut Wiku, mengingat bahwa kasus COVID-19 pada Agustus 2021 masih lebih tinggi dibandingkan dengan kasus pada gelombang pertama di bulan Januari 2021, maka tugas untuk menurunkan kasus masih belum selesai.

Apalagi saat ini WHO menambah memasukkan satu lagi varian virus COVID-19 ke kategori Variant of Interest (VoI) yaitu varian MU atau B1621 yang pertama kali diidentifikasi di Kolombia pada Januari 2021.

WHO menyebut VoI adalah varian virus SARS-CoV-2 yang memiliki kemampuan genetik yang dapat memengaruhi karakteristik virus. Kemampuan tersebut dapat memengaruhi tingkat keparahan penyakit, pelepasan kekebalan, penularan, hingga kemampuan menghindari diagnostik maupun pengobatan.

Karakteristik VOI diidentifikasi sebagai penyebab penularan di antara komunitas yang paling signifikan atau menjadi penyebab munculnya klaster COVID-19.

"Sejak 31 Agustus lalu, varian B1621 yang pertama kali ditemukan di Kolombia ini persebarannya sudah ditemukan di beberapa negara lain di Amerika Selatan dan Eropa. Status VoI diberikan kepada varian yang sedang diamati untuk dapat memberikan kesimpulan bahwa varian ini bersifat lebih infeksius dari pada varian aslinya," ungkap Wiku.

Menurut Wiku, walau saat ini kondisi cenderung normal dan pembukaan beberapa pembukaan sektor juga secara gradual dilakukan, pemerintah terus berusaha mengawasi mobilitas dalam dan luar negeri dengan penuh kehati-hatian.

Terkait vaksin yang dimiliki pemerintah dan diberikan ke masyarakat, Wiku mengakui bahwa vaksin-vaksin tersebut dikembangkan dengan menggunakan virus asli.

Baca juga: Pengetatan mobilitas akan persempit penyebaran varian baru COVID-19

Baca juga: Satgas imbau publik tidak panik varian baru COVID-19 E484K


"Sehingga munculnya varian baru berpotensi menurunkan angka efikasi yang telah dikeluarkan.
Meskipun menurun, masyarakat tak perlu khawatir akan kemampuan vaksin khususnya terhadap kelima jenis vaksin yang telah digunakan di Indonesia," ungkap Wiku.

WHO, menurut Wiku, telah menegaskan bahwa standar vaksin dengan kemampuan membentuk kekebalan yang baik akan memiliki akan memiliki nilai efikasi atau efektivitas di atas 50 persen.

"Sikap yang tepat dengan adanya penurunan angka efektivitas vaksin setelah adanya varian-varian baru ini ialah tidak berpuas diri terhadap angka capaian vaksinasi.
Bahkan baiknya melebihi 70 persen dari populasi agar menjamin kekebalan komunitas secara sempurna terbentuk," tambah Wiku.

Wiku menyebut kekebalan yang ditimbulkan oleh vaksin dapat terbentuk secara optimal apabila dosis yang diberikan sudah lengkap.

"Apabila setelah pemberian vaksin dosis pertama kekebalan akan turun dan perlu dilakukan 'booster' atau dosis kedua agar kekebalan terbentuk optimal dan bertahan dalam waktu yang lebih panjang.
Vaksin yang telah disuntikkan masih tetap memberikan kemampuan pembentukan kekebalan yang tergolong baik atau mampu baik berdasarkan hasil uji lab maupun pengujian di populasi terhadap varian baru secara global khususnya VoC," jelas Wiku.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan per Kamis (2/9) sudah ada 65.229.678 orang (31,32 persen dari target) yang mendapatkan vaksin tahap pertama sedangkan mereka yang mendapatkan vaksinasi dosis kedua adalah sebanyak 37.155.330 orang (17,84 persen dari target). Khusus untuk tenaga kesehatan sudah ada 668.538 orang (45,52 persen) yang mendapat vaksin dosis ketiga dengan menggunakan vaksin Moderna.

Pemerintah menargetkan 208.265.720 orang disuntik vaksin agar mencapai kekebalan komunal.

Baca juga: Epidemiolog ingatkan masa krisis COVID-19 belum berakhir

Baca juga: Satgas: Varian Delta masih mendominasi temuan kasus di Indonesia

 
Pewarta : Desca Lidya Natalia
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2021