Bima Arya ajak mahasiswa ikut melawan COVID-19

Bima Arya ajak mahasiswa ikut melawan COVID-19

Wali Kota Bogor Bima Arya (Antara/HO/Pemkot Bogor)

Bogor (ANTARA) - Wali Kota Bogor Bima Arya mengajak mahasiswa untuk ikut berpartisipasi melawan pandemi COVID-19, baik melalui gagasan, program maupun kerelawanan.

"Pemerintah tidak bisa sendiri dalam menghadapi pandemi COVID-19, dibutuhkan kerja sama dengan semua pihak untuk saling berkolaborasi," kata Bima Arya, di Kota Bogor, Jumat, pada pembukaan kegiatan Bimbingan Mahasiswa Baru Institut Bisnis dan Informatika (Bimaru IBI) Kesatuan Bogor Tahun 2021, yang disampaikan secara virtual.

Pemerintah Kota Bogor, katanya, optimistis dapat membangun kolaborasi dengan semua pihak dan akan memberikan ruang bagi generasi muda untuk menjadi calon pemimpin masa depan, dengan berpartisipasi aktif pada masa pandemi COVID-19 saat ini.

Menurut Bima Arya, setiap zaman ada pemimpinnya, dan setiap zaman juga ada ujian dan tantangannya.

"Jika ada mahasiswa yang ingin masuk menjadi bagian dari ikhtiar Kota Bogor dalam menghadapi pandemi COVID-19, kami sangat terbuka sekali," katanya.

Bima melihat, IBI Kesatuan Bogor memiliki potensi untuk membangun kebersamaan dan persatuan di internal kampus, juga jaringan ke luar kampus.

Apalagi, kata dia, Rektor IBI Kesatuan Bogor Prof Moermahadi Soerja Djanegara adalah tokoh nasional dengan banyak pengalaman di lembaga pemerintahan.

Prof Moermahadi Soerja Djanegara, adalah Ketua Badan Pemerika Keuangan Republik Indonesia (BPK RI) pada April 2017 hingga Oktober 2019.

"Ini menjadi modal modal besar untuk kampus dan sivitas akademika dalam membangun jaringan, ditambah lagi banyak pakar ekonomi, SDM dan manajemen," katanya.

Pada kesempatan tersebut, Bima Arya juga menyampaikan hasil survei yang dilakukan IPB University tentang persepsi masyarakat dalam penyikapi pandemi COVID-19.

Menurut Bima, survei yang dilakukan dengan responden sebanyak 20.819 warga Kota Bogor, termasuk di dalamnya soal vaksinasi, yang disambut antusias oleh warga. "Pada survei itu hanya 2 persen responden yang memilih vaksin adalah teori konspirasi," katanya.

Jawaban lainnya dari responden, kata dia, 60 persen terdampak penghasilannya, 40 persen sempat kehilangan pekerjaannya, serta ada sekitar 300 anak yatim piatu yang kehilangan orang tua, dan lebih banyak warga yang terpapar secara ekonomi.
Pewarta : Riza Harahap
Editor: Masuki M. Astro
COPYRIGHT © ANTARA 2021