Kemendikbudristek beri pendanaan untuk tim terbaik Bangkit 2021

Kemendikbudristek beri pendanaan untuk tim terbaik Bangkit 2021

Logo Bangkit dari Google (ANTARA/HO)

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) telah meloloskan proposal tim dengan ide terbaik lulusan Kampus Merdeka yang menyelesaikan kurikulum pembelajaran machine learning, komputasi awan, dan Android mobile development.

Bangkit 2021, program Kemendikbudristek bersama dengan perusahaan swasta, seperti Google, Gojek, Tokopedia dan Traveloka, telah meluluskan 2.250 peserta lulusan pertama Kampus Merdeka.

Dari program ini, terpilih 15 tim dengan ide terbaik yang mendapatkan pendanaan dari Google masing-masing sebesar 5.000 dolar AS. Tujuannya adalah mentransformasi prototipe mereka menjadi produk yang memecahkan tantangan nyata di bidang kesehatan hingga lingkungan dan pada akhirnya siap diperkenalkan kepada masyarakat.

Untuk mewujudkannya, para tim akan dibimbing oleh Lab Inkubasi & Kewirausahaan di 12 Kampus Mitra Bangkit. Hasilnya, 14 proyek inkubasi Bangkit dijadwalkan akan mendapatkan tambahan total pendanaan alias matching fund sebesar Rp855.712.788 dari Kedaireka, platform terbaru Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Dirjen Diktiristek) yang mewujudkan kolaborasi antara dunia pendidikan tinggi dan industri. Ke-14 proyek tersebut adalah Adil, Artesia, Baca, Bacara, Buangin, Citizen, Jagawana, Naratik, Next Parking, Obuce, Phoodto, Q-Hope, Samapta, dan Usahaq.

Baca juga: Google luncurkan program pendidikan Bangkit 2021

Baca juga: 3.000 mahasiswa bakal ikuti Program Bangkit 2021 Kemendikbud

"Indikator penilaian terhadap proposal bersama tersebut mencakup dampak kepada transformasi perguruan tinggi, keterlibatan peran mahasiswa, dampak kepada penyelesaian permasalahan Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI) atau Masyarakat, dan kelayakan program baik segi investasi dan keberhasilannya. Sedangkan tahapan seleksi mencakup seleksi administrasi, substansi proposal dan kelayakan program/anggaran," jelas Koordinator Matching Fund, Kedaireka, Endang Taryono dalam keterangan resmi, Rabu.

Pendanaan ini nantinya akan digunakan para tim untuk mentransformasi prototipe karya menjadi produk yang lebih siap untuk memecahkan masalah yang telah diidentifikasi sebelumnya. Pada akhirnya, diharapkan dukungan dana bisa membantu mewujudkan proyek inkubasi Bangkit 2021 menjadi produk yang siap bersaing di pasar dan, nantinya, inisiatif bisnis yang berkelanjutan.

“Harapan kami, matching fund ini dapat memberikan dampak lebih besar pada indikator kinerja utama (IKU) perguruan tinggi dan di sisi lain bisa memberi solusi pada dunia industri agar lebih produktif dan maju” ungkap Endang Taryono.

Salah satu tim yang menerima funding adalah pengembang aplikasi OBUCE, sebuah platform tele nutrisi yang akan membantu pengguna dalam mencapai berat badan ideal. Tim yang terdiri dari 8 mahasiswa IPB University, 1 mahasiswa Universitas Jember, dan 1 Universitas Brawijaya ini tengah dibina oleh Institut Pertanian Bogor untuk mengembangkan aplikasinya.

“Pendanaan dari Kedaireka dan Google merupakan sumber tenaga baru serta fasilitator agar kami semangat dalam ber-progres. Kami sangat berterima kasih karena telah diberi kesempatan untuk terus berkarya, berkembang, dan berdampak. Ke depan kami akan mengembangkan aplikasi ini dengan fitur pendeteksi objek makanan, asisten status gizi, asisten olahraga, dan konsultasi bersama ahli gizi. Pendanaan ini juga akan kami manfaatkan untuk mendapatkan hak paten hingga memperkenalkan aplikasi kepada masyarakat,” ujar tim OBUCE.

Tim lainnya bernama Naratik, yang terdiri dari mahasiswa Universitas Dian Nuswantoro, Universitas Diponegoro, dan Institut Teknologi Telkom Purwokerto. Mereka mengembangkan aplikasi berbasis mobile yang memanfaatkan teknologi AI untuk mengklasifikasi keaslian batik (membedakan antara batik tulis dan batik cetak) dan juga motif batiknya itu sendiri. Selain itu, aplikasi ini juga mencakup layanan jual beli khusus batik melalui kerjasama dengan UMKM dan industri di tingkat rumah tangga.

“Pendanaan ini sangat memotivasi kami untuk terus berkontribusi dan berkomitmen sehingga dapat memberikan dampak nyata yang bermanfaat di industri batik Indonesia. Ke depannya, kami akan mengembangkan sisi produk seperti aplikasi mobile, model pembelajaran mesin untuk klasifikasi keaslian serta motif batik sekaligus publikasi research paper, official website Naratik, dan Narashop Website (menyediakan layanan e-commerce eksklusif untuk produk - produk batik asli Indonesia," kata tim Naratik.

"Dari sisi bisnis, kami akan merancang dan mengeksekusi strategi bisnis serta pemasaran yang sesuai dengan target pasar kami, membangun distribution channel & supply chain, menjalin kerjasama dengan UMKM maupun home industry batik, dan juga kerja sama vendor dengan pihak - pihak tertentu sehingga dapat mengembangkan ekosistem yang ada menjadi lebih baik lagi. “With Batik We Grow, With Culture We Are Rich” ujar tim Naratik.

Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Anwar Makarim mengatakan Program Kampus Merdeka menghasilkan mahasiswa yang lulus yang kaya dengan pengalaman.

“Dengan Program Kampus Merdeka, mahasiswa diperbolehkan mencari pengalaman di luar kampus selama tiga semester, baik itu di luar program studi maupun di luar kampus,” ujar Nadiem dalam acara kelulusan Bangkit 2021 di Jakarta, pada pertengahan Juli lalu.

Dia menambahkan Kampus Merdeka memerdekakan mahasiswa dan dosen dalam mencari ilmu di berbagai tempat. Kemendikbudristek menciptakan suatu sistem kurasi yang menyetarakan program di luar kampus dengan suatu gelar maupun berbagai aktivitas yang berkontribusi pada kelulusan mahasiswa.

Baca juga: Kampus Merdeka hasilkan mahasiswa yang kaya dengan pengalaman

Baca juga: Kemendikbudristek optimistis inovasi mahasiswa buat masyarakat maju

Baca juga: Nadiem : Riset adalah magang model baru
Pewarta : Nanien Yuniar
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
COPYRIGHT © ANTARA 2021