Survei RISED ungkap pola kemitraan ojol dan perusahaan berjalan baik

Survei RISED ungkap pola kemitraan ojol dan perusahaan berjalan baik

Petugas menyemprotkan cairan disinfektan ke helm ojek daring di kawasan Jl. Kendal, Jakarta. ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/aww.

Jakarta (ANTARA) - Survei dari Research Institute of Socio-Economic Development (RISED) bertajuk "Kemitraan Transportasi Daring Selama Masa Pandemi COVID-19" menyebut bahwa mitra transportasi daring mayoritas (87 persen) menganggap kemitraannya dengan perusahaan aplikasi sudah berjalan dengan baik.

"Sektor ekonomi digital yang identik dengan konsep sharing economy sering dianggap sebagai sektor yang rentan bagi pekerja. Sebab, hubungan kerja dalam ekosistem sharing economy merupakan relasi kemitraan," kata ekonom Universitas Airlangga sekaligus Ketua Tim Peneliti RISED, Rumayya Batubara, dikutip pada Kamis.

"Oleh karenanya kami mengadakan survei ini, untuk mengetahui bagaimana sebenarnya pendapat para mitra. Temuan menariknya adalah mayoritas mitra menganggap hubungan kemitraan mereka dengan perusahaan aplikasi sudah berjalan baik dan unsur-unsur kemitraan seperti yang tercantum dalam undang-undang UMKM sudah terpenuhi," imbuhnya.

Baca juga: Gojek bentuk tim khusus untuk lindungi data pribadi konsumen

Baca juga: GoTo donasikan 1.000 unit konsentrator oksigen


Rumayya melanjutkan, mayoritas mitra (75 persen) memilih fleksibilitas waktu kerja sebagai alasan bergabung mitra, dan hampir semua mitra (94 persen) menganggap fleksibilitas waktu kerja sebagai hal penting.

Ini artinya, mitra transportasi dairng memiliki alasan khusus dalam memilih pekerjaannya dan mengindikasikan bahwa mereka juga sadar bahwa hubungan kerjanya dengan aplikator berbeda dengan hubungan kerja pada sektor konvensional.

Sehingga, pengaturan kerja sama antara mitra dan perusahaan aplikasi lebih tepat diakomodasi sebagai kemitraan yang telah diatur di dalam UU No. 20 Tahun 2008 tentang UMKM.

Poin yang juga menarik, menurut Rumayya, adalah faktor kedua terbesar yang dipilih oleh mitra sebagai alasan untuk menjadi mitra adalah belum memiliki pekerjaan tetap. Hal tersebut menunjukkan bahwa bergabung menjadi mitra transportasi online juga dilihat sebagai alternatif sebelum beralih ke pekerjaan lain.

"Unsur fleksibilitas waktu yang menjadi alasan utama mitra terjun di industri ini akan hilang bila pengaturan hubungan kerja dilakukan dengan undang-undang lainnya," kata dia.

"Contohnya, bila hubungan diubah menjadi pekerja-pemberi kerja akan ada peraturan jam kerja yang mengikat dan tidak fleksibel, sedangkan dalam pola hubungan kemitraan mitra memiliki kebebasan untuk menentukan kapan mulai dan selesai beraktivitas," tambahnya.

Survei juga menemukan bahwa mitra pengemudi transportasi online telah menerima berbagai bentuk bantuan dari perusahaan termasuk bantuan operasional dan pelatihan dan pengembangan.

"Dalam isu kemitraan di ekonomi digital, kami melihat pentingnya peran pemerintah untuk terus memberikan pengawasan dan perlindungan kepada kedua belah pihak, supaya terjadi hubungan yang saling menguntungkan dan kontribusi positif industri transportasi online tetap bisa dirasakan oleh masyarakat. Apalagi pada masa pandemi sektor ini terbukti telah menjadi safety net bagi pekerja sektor informal," kata Rumayya.

Sementara itu, survei ini dilakukan kepada 700 mitra pengemudi daring roda dua dan roda empat di 10 kota yang melibatkan para mitra pengemudi dari Grab dan Gojek dengan metode non probability sampling.

Baca juga: GoTo Financial tingkatkan peluang bisnis UMKM ritel lewat KONTAG

Baca juga: Kemendag: Sinergi kunci utama adaptasi di era digital dan pandemi

Baca juga: GoPay hadirkan promo 17-an, bangkit bersama usaha lokal
Pewarta : Arnidhya Nur Zhafira
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2021