Polisi gagalkan penjualan kayu ilegal di Kepulauan Meranti

Polisi gagalkan penjualan kayu ilegal di Kepulauan Meranti

Rencana penjualan kayu-kayu hasil penebangan tanpa surat-surat resmi digagalkan Dua Kapal Ditpolairud Polda Riau. (Foto:Antara/HO-Humas Polda Riau).

Kota Pekanbaru (ANTARA) -
Dua Kapal Ditpolairud Polda Riau, berhasil menggagalkan 7 kubik kayu hasil penebangan ilegal di Kepulauan Meranti, Provinsi Riau, yang akan dijual ke Sawang, Kecamatan Kundur Barat, Kabupaten Karimun, Provinsi Kepulauan Riau.

Barang bukti ini diamankan dari Kapal Pompong tanpa nama yang dikemudikan Izan (40) warga Jalan Ismail Saleh, Tanjung Sari, Kecamatan Tebing Tinggi, Meranti, Selasa (31/8) sekitar pukul 14.15 WIB.

"Laki-laki pengemudi kapal tersebut diamankan saat membawa barang bukti di Parit Beringin, Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau, dengan titik koordinat 0°51'499''N 103°0.306' E.," kata
Kombes Eko Irianto melalui Kasubdit Gakkum AKBP DR Wawan SH MH, kepada wartawan di Pekanbaru, Kamis.

Pria 40 tahun ini ditangkap oleh KP IV-1007 dan KP IV-2002 Ditpol Airud Polda Riau, yang melakukan Patroli Rutin, Selasa (31/8/2021) kemarin.

Sebelum ditangkap dua kapal ini melihat dan menemukan satu Kapal pompong membawa kayu dari arah Sei Tohor menuju Karimun.

"Setelah terkejar di perairan Parit Beringin Kecamatan Tebing Tinggi, tim langsung melakukan penangkapan," jelas Wawan.

Dari pengakuan Izan selaku nahkoda Kapal bahwa kayu tersebut diduga hasil curian. Izan mengaku membawa kayu yang diambil dari Sei Tohor, Kabupaten Meranti dan akan dibawa ke Sawang, Kecamatan Kundur Barat.

Hasil pengecekan petugas dan pengakuan pelaku, kayu tersebut merupakan jenis meranti berjumlah 7 Meter kubik lebih.

"Pasal Yang disangkakan adalah Pasal 83 ayat (1) huruf b Jo Pasal 12 huruf e UU.RI No 18 Tahun 2013 Tentang Pencegahan dan Pemberantasan Pengrusakan Hutan sebagaimana dirubah dengan UU.RI No 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja Jo Pasal 55 ayat 1 Ke 1 KUHPidana tindak pidana bidang Kehutanan yaitu Mengangkut, menguasai atau memiliki hasil hutan kayu yang tidak dilengkapi secara bersama surat keterangan sahnya hasil hutan," katanya.

Pewarta : Frislidia
Editor: Adi Lazuardi
COPYRIGHT © ANTARA 2021