AAUI : total premi asuransi global 2021 akan tumbuh 10 persen

AAUI : total premi asuransi global 2021 akan tumbuh 10 persen

Dokumentasai. Seorang pria melintasi papan penyedia layanan asuransi di Jakarta, Senin (6/9/2021). Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat aset industri asuransi nasional hingga akhir Juli 2021 mencapai Rp949,44 triliun atau meningkat 8,11 persen dibandingkan periode serupa tahun lalu. ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay/foc.

Jakarta (ANTARA) - Asosiasi Asuransi Umum Indonesia menyebut total premi asuransi global tahun 2021 diperkirakan akan tumbuh 10 persen lebih tinggi dari kondisi sebelum krisis 2019.

“Pasar asuransi pasca pandemi akan pulih lebih cepat karena berbeda dengan krisis keuangan global 2008-2009 lalu, global diperkirakan tumbuh 10 persen lebih tinggi,” kata Direktur Eksekutif AAUI Dody Dalimunthe saat diskusi InfoBank TV secara daring, Rabu.

Pertumbuhan premi untuk Indonesia, lanjutnya, AAUI belum bisa memprediksi karena masih terlalu volatile.

“Minimal (total premi asuransi) Indonesia sama dengan 2019. Kalau global perkirakan 10 persen, ini suatu optimisme bagi kita di Indonesia,” ujar Dody.

Dody menyampaikan optimisme prospek positif industri global, termasuk di Indonesia juga didukung oleh pemulihan ekonomi pasca pandemi yang memicu pertumbuhan global yang tinggi meskipun tidak merata.

“Banyak pengamat yang memprediksi ekonomi global tumbuh 5,8 persen di tahun 2021. Produk domestik bruto riil negara berkembang diperkirakan tumbuh 6,6 peren di 2021,” tuturnya.

Begitu juga dengan permintaan asuransi global yang diprediksi akan tumbuh dengan tren di atas 3,3 persen pada 2021 dan 3,9 persen pada 2022. Pertumbuhan terbesar, kata Doddy, terdapat di lini komersial asuransi umum dan peningkatan kesedaran risiko akan mendorong permintaan perlindungan risiko.

Faktor keempat yang mendorong pertumbuhan industri industri adalah peningkatan tarif asuransi, khususnya di asuransi umum akan mendorong pertumbuhan di lini produk asuransi umum komersial. Asuransi liability dan asuransi keuangan akan menjadi produk asuransi yang diminta oleh korporasi selain produk-produk asuransi tradisional lainnya.

Sedangkan faktor terakhir adalah konsolidasi dan pertumbuhan peran asuransi di pasar negara berkembang yang akan meningkat terutama kawasan Asia yang akan menjadi semakin dominan.

“Diperkirakan pasar negara berkembang akan melampaui pasar negara maju dan Asia akan mengungguli kawasan lain karena sumber pertumbuhan asuransi global akan bergeser dengan kekuatan ekonomi dari barat ke timur,” ungkap dia.

Adapun Deputi Direktur Pengawasan Asuransi 2 OJK Kristianto Andi Handoko pada kesempatan yang sama menyampaikan industri asuransi per Juli 2021 terdapat peningkatan dibandingkan sebelum pandemi COVID-19. Hal tersebut sejalan dengan adanya peningkatan premi yang dibukukan industri asuransi.

Ia menyebut premi asuransi pada industri umum pada Juli 2021 sebesar Rp3,37 triliun atau naik 1,20 persen dibandingkan Juli 2020 yang berjumlah Rp3,37 triliun. Khusus untuk premi asuransi kesehatan pada industri jiwa meningkat 4,73 persen dari Rp8,45 triliun di Juli 2020 menjadi Rp8,85 triliun di Juli 2021.

“Hal ini menunjukkan bahwa pandemi COVID-19 meningkatkan kesadaran masyarakat untuk memproteksi diri dengan asuransi kesehatan,” kata dia.

Baca juga: AAJI: Bisnis asuransi jiwa 2021 akan lebih baik dari sebelum pandemi
Baca juga: AAJI: Pendapatan asuransi jiwa capai Rp119,74 triliun pada semester I
Baca juga: Investasi industri asuransi jiwa semester I-2021 capai Rp510,5 triliun

 

Pewarta : Kuntum Khaira Riswan
Editor: Biqwanto Situmorang
COPYRIGHT © ANTARA 2021