Twitter akan bayar Rp11,5 triliun untuk selesaikan gugatan sekuritas

Twitter akan bayar Rp11,5 triliun untuk selesaikan gugatan sekuritas

Ilustrasi - Sejumlah orang yang sedang memegang gawai dengan latar belakang yang diproyeksikan dengan logo Twitter yang diambil di Warsawa, Jumat (27 /9/2013). ANTARA/REUTERS/Kacper Pempel/am.

Jakarta (ANTARA) - Twitter pada Senin (20/9) waktu setempat mengatakan akan membayar 809,5 juta dolar AS atau sekitar Rp11,5 triliun untuk menyelesaikan gugatan perwakilan kelompok (class action) sekuritas yang menuduh perusahaan media sosial itu menyesatkan investor tentang seberapa sering orang menggunakan platform-nya.

Penyelesaian tersebut akan menuntaskan kasus yang sudah hampir diadili. Seleksi juri telah dijadwalkan pada Senin, tetapi sidang pada 17 September mendatang ditunda hingga akhir November oleh Hakim Distrik Amerika Serikat, Jon Tigar, di Oakland, California.

Baca juga: Twitter luncurkan fitur "super follows" yang bisa hasilkan uang

Dari pihak Twitter, mantan Chief Executive Officer (CEO) Richard Costolo dan mantan Chief Financial Officer (CFO) Anthony Noto membantah melakukan kesalahan dalam menyetujui penyelesaian, yang membutuhkan persetujuan hakim Tigar.

“Persidangan juri adalah penyeimbang yang baik, bahkan untuk beberapa entitas paling kuat di planet ini,” kata Tor Gronborg, seorang mitra di Robbins Geller Rudman & Dowd yang mewakili para pemegang saham, sebagaimana dikutip dari Reuters pada Selasa.

Twitter mengatakan pihaknya berencana menggunakan uang tunai untuk membayar penyelesaian gugatan pada kuartal keempat tahun ini dan mencatat biaya terkait pada kuartal ketiga.

Pemegang saham telah menggugat Twitter pada September 2016 dengan tuduhan penggelembungan harga saham yang menyesatkan tentang keterlibatan pengguna.

Menurut gugatan itu, Twitter menghentikan pelaporan “tampilan garis waktu” pada akhir 2014 dan menyembunyikan stagnasi atau penurunan keterlibatan pengguna dengan melaporkan deskripsi yang tidak jelas tentang metrik pengguna.

Pemegang saham mengatakan Twitter mengakui kebenaran setelah Costolo meninggalkan perusahaan pada Juni 2015 dan harga sahamnya turun 20 persen.

Gugatan perwakilan kelompok ini mencakup investor yang membeli saham dari 6 Februari 2015 hingga 28 Juli 2015.

Menurut Securities Class Action Clearinghouse, sejak 1996 hanya sembilan dari lebih 5.000 kasus class action sekuritas AS yang diajukan oleh investor saham melalui pengadilan hingga sampai kepada putusan. Sedikit lebih dari separuh tuntutan hukum ditolak dan sebagian besar sisanya diselesaikan.

Baca juga: Twitter berkomitmen menindak kampanye berbahaya

Baca juga: Twitter catat "tech life" jadi tren percakapan tertinggi di Indonesia

Baca juga: Rusia denda Facebook dan Twitter karena tidak hapus konten
Pewarta : Rizka Khaerunnisa
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
COPYRIGHT © ANTARA 2021