ASEAN - Tiongkok bicarakan perlindungan informasi

ASEAN - Tiongkok bicarakan perlindungan informasi

Menteri Komunikasi dan Multimedia Malaysia yang juga ketua ASEAN Digital Ministers’ Meeting (ADGMIN1) Annuar Musa melakukan pertemuan virtual membicarakan Dialog Tentang Perlindungan Informasi Tiongkok-ASEAN atau Dialogue on China-ASEAN Information Harbor, Minggu (26/9/2021). ANTARA/HO-KKM/1/aa.

Kuala Lumpur (ANTARA) - Menteri Komunikasi dan Multimedia Malaysia yang juga ketua ASEAN Digital Ministers’ Meeting (ADGMIN1) Annuar Musa melakukan pertemuan virtual, Minggu.

Annuar membicarakan Dialog Tentang Perlindungan Informasi Tiongkok- ASEAN atau Dialogue on China-ASEAN Information Harbor.

Dialog tersebut diselenggarakan di Wuzhen, Provinsi Zhejiang, Tiongkok.

Annuar Musa berbicara atas nama Malaysia, yang saat ini merupakan ketua ASEAN Digital Ministers’ Meeting (ADGMIN1) dan ASEAN Digital Senior Officials’ Meeting (ADGSOM).

Baca juga: Penerimaan orang Indonesia soal digitalisasi tertinggi ASEAN

Annuar Musa menyampaikan pentingnya ekonomi digital bagi Malaysia dan perlunya mewaspadai ancaman keamanan siber.

"Krisis COVID-19 telah mengubah digitalisasi dari layanan kesehatan menjadi pembelian dan pembayaran online," katanya.

Dia mengatakan ekonomi digital telah menjadi elemen penting dalam kehidupan kita sehari-hari dan memiliki potensi untuk menjadi pendorong utama dalam mengembangkan industri baru dan area pertumbuhan baru di ASEAN.

"Menurut Forum Ekonomi Dunia, ASEAN memiliki pasar internet yang paling cepat berkembang di dunia. Pada 2019, ekonomi internet di kawasan itu mencapai 100 miliar dolar AS, tiga kali lipat lebih banyak dari empat tahun terakhir. Pada tahun 2025, ekonomi internet di kawasan ini diharapkan tumbuh menjadi 300 miliar dolar AS. Ini akan menjadikan ASEAN pasar tunggal terbesar di dunia pada tahun 2030," katanya.

Pada Januari tahun ini, ujar dia, para Menteri Digital ASEAN meluncurkan ASEAN Digital Masterplan 2025 yang mendorong tujuan ASEAN untuk menjadi komunitas digital dan blok ekonomi terkemuka, didukung oleh layanan, teknologi, dan ekosistem digital yang aman dan transformatif, dan didukung oleh keamanan siber.

Baca juga: Indonesia berpartisipasi dalam literasi digital di ASEAN

"Untuk menumbuhkan kepercayaan dan ruang digital yang andal, yang tidak hanya melihat desain untuk pengembangan ekonomi digital, tetapi juga langkah-langkah implementasi khusus serta pedoman tata kelola digital," katanya.

Dia mengatakan Malaysia telah memperkenalkan Rencana Infrastruktur Digital Nasional atau Pelan Jalinan Digital Negara (JENDELA) untuk meningkatkan konektivitas digital di negara tersebut serta mempersiapkan Malaysia untuk transisi menuju teknologi 5G.

"Penyebaran 5G secara bertahap akan mengubah Malaysia menjadi pusat inovasi dan menarik investasi baru senilai 70 miliar Ringgit Malaysia di sektor digital, dari investor internasional dan lokal. Ini akan membantu negara untuk menciptakan peluang bisnis baru dan pekerjaan bernilai tinggi, dengan perkiraan 100.000 pekerjaan baru diharapkan antara tahun 2021 dan 2025," katanya.

Peluncuran MyDIGITAL dan Cetak Biru Ekonomi Digital Malaysia pada bulan Februari tahun ini, ujar dia, diharapkan dapat berkontribusi terhadap PDB sekitar 22,6 persen pada tahun 2025.

"Ekspansi ekonomi digital menciptakan banyak peluang ekonomi baru. Namun, dengan bangkitnya ekonomi digital, risiko ancaman keamanan siber menjadi lazim," katanya.

Baca juga: Menteri Digital ASEAN sepakati kerja sama dengan AS, China dan India

Dalam hal potensi industri keamanan siber, Malaysia adalah salah satu negara dengan peringkat terbaik di kawasan ini.

"Strategi Keamanan Siber Malaysia 2020-2024 yang diluncurkan pada Oktober 2020 dan peluncuran Program Pemberdayaan Keamanan Siber (SiberKASA) pada Maret tahun ini merupakan upaya untuk mengatasi ancaman keamanan siber," katanya.

Di tingkat ASEAN, ujar dia, Malaysia bekerja sama dengan Singapura, melalui badan-badan keamanan siber nasional untuk mengembangkan "Rencana Aksi ASEAN tentang Penerapan Norma-norma Perilaku Negara-Negara yang Bertanggung Jawab di Ruang Siber" untuk memastikan efektif dan praktis pelaksanaan norma-norma tersebut.

“Dengan mempertimbangkan momentum Tahun Kerja Sama Ekonomi Digital ASEAN-China dan kemungkinan Kerja Sama Digital ASEAN-China, program dialog ini merupakan wadah yang baik untuk mendorong kolaborasi yang lebih dalam, bertukar pikiran, dan mengeksplorasi poin-poin perkembangan baru dalam kerja sama digital. Malaysia merasa terhormat menjadi bagian dari Dialog tentang Pelabuhan Informasi China-ASEAN ini,” kata Annuar Musa.

Dialog tentang Pelabuhan Informasi China-ASEAN adalah bagian dari Konferensi Internet Dunia.

Ini adalah konferensi tahunan yang diselenggarakan oleh Administrasi Ruang Siber Republik Rakyat Tiongkok bekerja sama dengan Pemerintah Rakyat Provinsi Zhejiang di Wuzhen, Provinsi Zhejiang, Tiongkok sejak tahun 2014.

Acara bertema "Menuju Era Baru Peradaban Digital – Membangun Komunitas dengan Masa Depan Bersama di Dunia Maya", digelar secara daring dan luring tahun ini.

Hampir 2.000 perwakilan dari pemerintah dalam dan luar negeri, organisasi internasional, asosiasi industri, perusahaan terkemuka global, universitas, dan lembaga penelitian dari lebih dari 80 negara dan wilayah, akan menghadiri konferensi tersebut.

Baca juga: Ekosistem perdagangan digital inklusif perlu diperkuat di ASEAN
Baca juga: Puan dorong ASEAN perkuat kerjasama teknologi digital
Pewarta : Agus Setiawan
Editor: Mulyo Sunyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2021