Penasihat kesehatan sebut pandemi munculkan anak nol dosis imunisasi

Penasihat kesehatan sebut pandemi munculkan anak nol dosis imunisasi

Tangkapan layar penasihat kesehatan senior dari Save the Children Internasional Karrar (kanan) bersama penerjemah isyarat (kiri) dalam webinar Pentingnya Imunisasi Rutin untuk Anak di Masa Pandemi COVID-19 secara daring diikuti di Jakarta, Kamis (30/9/2021) (ANTARA/Hreeloita Dharma Shanti)

Jakarta (ANTARA) - Penasihat kesehatan senior dari Save the Children Internasional, Karrar mengatakan pandemi COVID-19 telah mengakibatkan pemburukan imunisasi pada anak bahkan memunculkan fenomena zero dose children  atau anak dengan nol dosis imunisasi. 

“Ini merupakan dekade yang hilang karena imunisasi yang tidak berhasil diberikan kepada anak-anak akibat pandemi. Oleh sebab itu, ini menyebabkan zero dose children atau anak anak dengan dosis nol imunisasi,” kata Karrar dalam webinar Pentingnya Imunisasi Rutin untuk Anak di Masa Pandemi COVID-19 yang diikuti di Jakarta, Kamis.

Menurut Karrar, sebenarnya kondisi ini telah ada sejak sebelum wabah COVID-19 terjadi di seluruh dunia. Namun, pandemi COVID-19 membuat situasi pemberian imunisasi pada anak semakin memberikan jurang ketimpangan di setiap tempat.

Baca juga: IDAI: Pemberian imunisasi di masa pandemi harus tetap dilakukan

Berdasarkan data yang dia miliki, secara global angka anak-anak yang tidak mendapatkan vaksinasi atau imunisasi mengalami peningkatan dari sebelumnya berjumlah 13,6 juta anak menjadi 17,1 juta anak.

Penyebab anak-anak tidak mendapatkan dosis  imunisasi itu, kata dia, adalah hampir sebesar 50 persen tinggal di daerah perkotaan yang masuk ke dalam komunitas terpencil, daerah terpencil serta populasi yang berada di daerah konflik.

“Jadi dua per tiga dari 50 persen anak-anak ini, berada di negara seperti Nigeria, India, Kongo, Pakistan dan Ethiopia. Kalau kita memiliki strategi untuk mengurangi zero dose children ini, kita bisa mulai fokuskan di lokasi di mana anak-anak ini tinggal dan kita bisa tekankan upaya di daerah- daerah tersebut,” ujar dia.

Akibat tinggal di daerah tersebut, anak kurang mendapatkan cakupan imunisasi seperti campak dan polio karena orang tua tidak memiliki akses pelayanan kesehatan dan memiliki kondisi keuangan di bawah garis kemiskinan.

Baca juga: ProSehat sediakan layanan imunisasi dan vaksin anak "home service"

Karrar melanjutkan pandemi juga telah menghambat pemerintah untuk memberikan edukasi seputar imunisasi kepada masyarakat dan karena adanya pembatasan masuk ke setiap negara, maka pasokan suplai vaksin imunisasi tersebut mengalami penundaan dan tidak dapat dikirimkan lebih cepat sehingga sulit menjangkau anak-anak.

Pandemi COVID-19 juga memberikan dampak pada penurunan pendapatan dan pengeluaran per kapita negara, sehingga Karrar mengatakan akan berdampak pada pemberian imunisasi anak-anak tersebut.

“Hal ini mempengaruhi ekonomi yang menurun, maka anggaran untuk imunisasi juga berpengaruh. Pendanaan dari donor juga semakin mengecil,” ucap Karrar.

Health Officer and Vaccine Demand Unicef Indonesia Sartini Saman mengatakan kondisi tersebut juga terjadi di Indonesia karena beberapa hal antara lain beban pelaksanaan vaksinasi COVID-19 dengan jumlah sangat besar dalam waktu yang singkat.

Baca juga: UNICEF Aceh: Imunisasi anak penting meski di tengah pandemi

“Sehingga tenaga-tenaga pejuang imunisasi di lapangan itu terserap waktu, tenaga, keringat, air mata semuanya menyukseskan untuk kita keluar dari pandemi ini. Jadi waktu untuk imunisasi rutin terdampak,” kata Sartini.

Penutupan posyandu di sebagian besar daerah juga menjadi penyebab selanjutnya. Dia mengatakan sejak awal tahun lalu hingga saat ini, banyak kegiatan imunisasi yang terpaksa ditunda akibat COVID-19.

Hal serupa juga terjadi di banyak sekolah yang akhirnya harus melakukan kegiatan pembelajaran secara daring, sehingga pelaksanaan bulan imunisasi anak di sekolah ikut mengalami penundaan.

Sartini juga menjelaskan, kondisi ikut diperparah karena orang tua khawatir untuk membawa anak mengikuti imunisasi di fasilitas kesehatan karena takut tertular virus SARS-CoV-2 dan terakhir akibat hoax soal imunisasi yang merebak di masyarakat.

“Kami highlight pertama, orang tua khawatir untuk membawa anaknya karena takut terkena virus corona. Jadi di rumah saja dulu termasuk bila waktu sudah dijadwalkan. Kemudian tentu saja yang sangat tren di Indonesia berita negatif mengenai imunisasi,” kata dia.

Baca juga: Sejumlah pihak komitmen dukung pelaksanaan imunisasi anak di Jatim

Pewarta : Hreeloita Dharma Shanti
Editor: Agus Salim
COPYRIGHT © ANTARA 2021