Pencurian fasilitas di kawasan huntap Kota Palu dan Sigi kian marak

Pencurian fasilitas di kawasan huntap Kota Palu dan Sigi kian marak

Sejumlah anak bermain di jalan di kompleks hunian tetap (huntap) yang dibangun Kementerian PUPR, di Kelurahan Duyu, Palu, Sulawesi Tengah, Rabu (14/7/2021). Sebanyak 630 unit huntap bagi korban bencana di Kota Palu dan Kabupaten Sigi yang dibangun Kementerian PUPR telah rampung dan sebagian telah dihuni, dan selanjutnya kembali akan membangun 1.005 unit di tahap IB di Palu, Sigi, dan Donggala. ANTARA/Basri Marzuki

Palu (ANTARA) - Pencurian fasilitas hunian di kawasan hunian tetap (huntap) bagi penyintas bencana gempa, tsunami, dan likuefaksi di Kota Palu dan Kabupaten Sigi, Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) kian marak terjadi.

Pencurian fasilitas huntap tersebut bukan hanya mengakibatkan kerugian materiil saja, tapi juga menyebabkan penyintas lambat menempati huntap yang diberikan oleh pemerintah sebab pemerintah harus kembali melengkapi fasilitas hunian sebelum siap dihuni.

"Di kawasan Huntap Duyu sini meteran air dan kabel lampu penerangan jalan yang sering dicuri," kata salah satu penyintas penghuni Huntap Duyu yang juga Ketua RT 06 RW 02 Kawasan Huntap Duyu, Kelurahan Duyu Kota Palu Pengeran Antawiryo, Jumat.

Ia menyatakan penyebab maraknya pencurian di kawasan huntap bantuan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) tersebut, karena kurangnya penerangan lampu jalan.

"Sehingga mereka bisa mencuri di kawasan Huntap Duyu sini. Aksi pencurian tersebut sudah sering terjadi," ujarnya.

Mantan Kepala Balai Prasarana Permukiman Wilayah (BPPW) Sulteng Kementerian Ferdinand Kana Lo mengungkapkan saat ia menjabat Kepala BPPW Sulteng Kementerian PUPR selama beberapa tahun, kerap mendapat laporan dan menemukan di lapangan aksi tersebut, dan tidak hanya terjadi di huntap di Kota Palu, tapi juga di huntap bantuan Kementerian PUPR di Desa Pombewe, Kabupaten Sigi.

"Di sana pintu rumah hilang (dicuri), daun jendela hilang, kusen hilang, pintu toilet juga hilang. Hampir semua yang bisa dicabut dan punya nilai jual hilang," ujarnya pula.

Kepala BPPW Sulteng Kementerian PUPR Sahabuddin menyayangkan perbuatan melanggar hukum tersebut. Ia menegaskan semua pihak harus terlibat untuk mencegah aksi serupa terulang.

"Saya meminta semua penyintas yang menghuni huntap agar dapat melakukan ronda setiap malam, agar tidak ada lagi pencurian di kawasan huntap," ujarnya pula.

Ia mengatakan pihaknya memiliki keterbatasan waktu dan tenaga juga jika harus terlibat mencegah pencurian tersebut ,sehingga penyintas yang menghuni kawasan huntap sangat diharapkan dapat berpartisipasi untuk sama-sama mencegah aksi tersebut.

"Jumlah kami terbatas dan tidak setiap waktu kami berada di huntap, sehingga saya minta para penyintas yang sudah tinggal di huntap dapat bekerjasama dengan ketua RT atau penanggung jawab huntap untuk menjaga dan mengawasi huntap tersebut. Minimal melakukan ronda malam secara bergantian," katanya pula.
Baca juga: Kementerian PUPR: Huntap di Sulteng mesti bisa mencegah KBG dan KTA
Baca juga: Ketersediaan air bersih di huntap Duyu Palu masih minim

Pewarta : Muhammad Arshandi
Editor: Budisantoso Budiman
COPYRIGHT © ANTARA 2021