BRGM bina pembatik manfaatkan limbah mangrove untuk pewarna alami

BRGM bina pembatik manfaatkan limbah mangrove untuk pewarna alami

Perajin batik mengikuti pembinaan dan pelatihan yang digelar Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) (Antara/HO/BRGM)

Jakarta (ANTARA) - Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) melakukan pembinaan dan pelatihan terhadap para perajin batik dengan melakukan inovasi pemanfaatan limbah mangrove maupun tanaman lain sebagai pewarna alam karya batik.

Kepala Kelompok Kerja Bidang Hubungan Masyarakat BRGM Didy Wurjanto di Jakarta, Sabtu mengatakan, kegiatan pelatihan dan pembinaan terhadap perajin batik tersebut merupakan kontribusi BRGM dalam melestarikan kearifan lokal dan menjadi sumber pendapatan tambahan ditengah pandemi.

"Diharapkan pelatihan ini dapat meningkat partisipasi masyarakat dalam perlindungan dan upaya restorasi gambut dan mangrove," ujarnya melalui keterangan tertulis.

Hingga saat ini, tambahnya, BRGM telah melakukan pelatihan terhadap sebanyak 110 perempuan dari seluruh provinsi yang menjadi target kegiatan pemberdayaan ekonomi oleh lembaga tersebut.

Baca juga: Sandiaga: Hari Batik tumbuhkan kecintaan dan rasa bangga pada budaya

Sementara itu Ketua Kelompok Keris Dewa di Desa Pedekik, Kabupaten Bengkalis, Riau Rita Afriyana mengatakan, pelatihan cara membuat pewarna alam yang digelar oleh BRGM sangat bermanfaat bagi warga karena mereka dapat menghasilkan produk seperti masker, kain batik, tas, hingga pakaian dengan pewarna alami.

"Kita diberi ilmu pembuatan pewarna alam, kita praktik untuk pemotifan secara kreatif dengan tangan sendiri manual, besoknya kita baru pembuatan pewarnaan dari bahan mangrove," katanya.

Menurut Rita, warna yang dihasilkan dari pewarna alam sangatlah eksotis, sehingga perajin bisa lebih kreatif dalam mengeksplore warna yang diinginkan.

Baca juga: Menlu sebut batik sebagai "soft power" diplomasi Indonesia

Kelompok usaha mereka, tambahnya, menghasilkan produk yang sudah dipasarkan seperti masker, tas, dompet dan juga batik, seperti yang sudah diajarkan BRGM.

Dikatakannya, pihaknya juga sudah memasarkan produk dengan pewarna alam ke media sosial sehingga banyak yang berminat membeli produknya sebagai oleh-oleh.

"Kami sangat beruntung karena program pelatihan pembuatan masker hingga membuat pewarna alam yang dilakukan oleh BRGM dapat menambah ekonomi kita,"ujar Rita.

Muliana, salah satu peserta lain dari Kelompok Eco Teratai Sasirangan di Desa Darussalam, Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan menambahkan, pelatihan yang diberikan BRGM membuat warga di daerahnya kini semakin produktif.

Menurut dia, kelompoknya yang beranggotakan 25 orang itu terdiri dari generasi muda yang kreatif dan inovatif, bahkan mereka juga menggerakan ibu-ibu untuk membantu proses produksi, sehingga warga di desanya kini mempunyai sumber penghasilan baru.

Sebagai pengrajin yang turut membuat motif dari pewarna alam, Lia menyatakan ingin membuktikan jika batik kini lebih ‘fashionable’ dengan motif yang lebih beragam.

"Kalau di sini, batik itu di pakai oleh semua lapisan dari anak-anak sampai dewasa. Dulu kan stigmanya batik untuk orangtua saja dan gak cocok untuk anak muda, gak modislah, tapi sekarang batik sudah banyak diminati anak muda karena banyak model yang bisa dikolaborasikan, jadi kita harus bangga pakai batik," katanya.
Pewarta : Subagyo
Editor: Budi Suyanto
COPYRIGHT © ANTARA 2021