10.000 warga China telantar di perbatasan dengan Myanmar

10.000 warga China telantar di perbatasan dengan Myanmar

Arsip foto - Sejumlah pekerja asing mengantre di depan kantor pusat administrasi dan layanan bagi orang asing di Ruili, Provinsi Yunnan, Republik Rakyat China, pada Kamis (27/10/2016). Pemerintah China sejak 2013 telah mengeluarkan sekitar 50.000 izin bekerja bagi pekerja asing, sebagian besar dari Myanmar, untuk bekerja di Ruili dan di area pengembangan sekitar kota tersebut. ANTARA/Aditya E.S. Wicaks.

Beijing (ANTARA) - Lebih dari 10.000 warga negara China terjebak di pos perbatasan Ruili, Provinsi Yunnan, yang berbatasan dengan Myanmar.

Media China menyebut mereka hendak menyerahkan diri untuk pulang ke negaranya karena situasi politik yang memburuk dan pandemi COVID-19 di Myanmar.

Mereka ini sebelumnya melarikan diri ke Myanmar karena beberapa kasus kejahatan lintas-batas, seperti penipuan melalui alat telekomunikasi.

Kepulangan ribuan warga China itu ternyata tidak berlangsung mulus. Mereka terjebak dalam antrean panjang di pos perbatasan karena  protokol kesehatan ketat yang diterapkan oleh otoritas China.

"Hanya seratus orang per hari yang diizinkan melintas pos perbatasan Ruili. Mereka harus menunjukkan hasil tes PCR. Yang positif langsung dikirim ke fasilitas perawatan khusus, yang negatif langsung karantina," kata seorang petugas di Ruili sebagaimana dikutip Global Times, Minggu.

Derasnya gelombang kepulangan warga China itu terjadi setelah pemerintah China meminta warganya di Myanmar untuk mendaftarkan identitas diri.

Baca juga: Dianggap coreng China, 89 paspor pelaku kejahatan dinyatakan invalid

Kepada sejumlah media, pemerintah Ruili mengatakan bahwa regulasi baru tersebut dikeluarkan terkait situasi politik yang memanas dan  kasus COVID-19 di Myanmar memburuk.

Perkembangan itulah yang menjadikan warga China di Myanmar berbondong-bondong untuk menyerahkan diri kepada otoritas China.

Para warga itu berasal dari beberapa provinsi di China, seperti Hubei, Jiangxi, dan Henan. Provinsi-provinsi tersebut telah memberikan tenggat kepada para pelaku untuk menyerahkan diri.

Kota Tianmen di Provinsi Hubei memberikan tenggat sejak 15 Juni bagi siapa pun untuk menyerahkan diri. Jika tidak melewati batas waktu tersebut, mereka akan diberi keringanan hukuman.

Kerumunan massa yang terjadi di pos perbatasan itu membuat Kota Ruili kembali menghadapi risiko berat kasus COVID-19.

Kota di selatan China itu telah beberapa kali mengalami gelombang kasus COVID-19.

Povinsi Yunnan pada Sabtu (2/10) saja telah mendapati 14 kasus COVID-19 yang menimpa warga China yang sebelumnya melarikan diri ke Myanmar dan memutuskan menyerahkan diri. 

Baca juga: Kota Ruili di perbatasan China-Myanmar "lockdown"

Baca juga: Pejabat publik di kota perbatasan China-Myanmar dipecat terkait COVID

 

Tiga gajah liar sambangi kantor polisi di Yunnan, China

Pewarta : M. Irfan Ilmie
Editor: Tia Mutiasari
COPYRIGHT © ANTARA 2021