Saham Asia gelisah jelang data PDB China, minyak sentuh tertinggi baru

Saham Asia gelisah jelang data PDB China, minyak sentuh tertinggi baru

Pejalan kaki melintas di depan layar elektronik pergerakan Indeks Nikkei di Bursa Efek Tokyo, Jepang. ANTARA/REUTERS/Kim Kyung-Hoon/am.

Hong Kong (ANTARA) - Saham-saham Asia gelisah pada Senin pagi menjelang rilis data ekonomi China untuk kuartal ketiga, karena investor khawatir tentang kesehatan ekonomi terbesar kedua di dunia itu bahkan ketika perusahaan-perusahaan AS melaporkan perolehan laba kuartalan yang kuat.

Harga minyak mencapai puncak baru multi-tahun, melanjutkan lonjakan baru-baru ini di tengah kekurangan pasokan energi global, dengan minyak mentah AS di level tertinggi baru tujuh tahun dan Brent di level tertinggi tiga tahun.

Sementara itu, Bitcoin berada di titik tertinggi sepanjang masa, berada di 62.500 dolar AS dan tidak jauh dari rekor April di 64.895 dolar AS, setelah naik minggu lalu dipicu harapan bahwa regulator AS akan mengizinkan pembentukan aset digital berupa kontrak berjangka untuk exchange traded fund (ETF) atau jenis reksa dana yang dapat diperdagangkan di bursa yang menggunakan underlying Bitcoin.

Indeks MSCI dari saham Asia Pasifik di luar Jepang sedikit berubah pada awal perdagangan Senin, turun 0,07 persen, sementara Nikkei Jepang turun 0,12 persen. Indeks berjangka saham AS, e-mini S&P 500 juga melemah 0,13 persen.

Pasar saham global berakhir dalam suasana bullish pekan lalu membukukan hari terbaik mereka dalam lima bulan pada Jumat (15/10) karena laporan laba perusahaan-perusahaan AS yang kuat memicu optimisme tentang ekonomi, meskipun harga minyak yang kuat membuat risiko inflasi tetap hidup dan mengangkat imbal hasil obligasi pemerintah.

Sejumlah data dari China kemungkinan akan menunjukkan bahwa produk domestik bruto (PDB) tumbuh 5,2 persen pada Juli-September dari periode sama sebelumnya - laju terlemah sejak kuartal ketiga 2020, menurut perkiraan median dari 56 ekonom yang disurvei oleh Reuters.

Analis Barclays mengatakan dalam sebuah catatan bahwa mereka memperkirakan PDB akan melambat “mengingat pelemahan terus-menerus dalam konsumsi dan jasa-jasa di tengah wabah COVID yang berulang, dan memudarnya basis rendah tahun sebelumnya.”

Investor juga menunjuk kekurangan listrik, kemacetan pasokan dan meningkatnya kegelisahan di sektor properti, karena kisah tentang nasib pengembang properti yang terlilit utang China Evergrande Group bergemuruh.

Yi Gang, gubernur bank sentral China mengatakan pada Minggu (17/10) bahwa ekonomi China "berjalan dengan baik", tetapi menghadapi tantangan seperti risiko gagal bayar untuk perusahaan-perusahaan tertentu karena "salah urus".

Di tempat lain, investor terus memposisikan diri mereka bahwa Federal Reserve AS mulai mengurangi pembelian aset besar-besarannya tahun ini.

Imbal hasil pada obligasi pemerintah AS 10-tahun yang jadsi acuan naik menjadi 1,5904 persen pada Senin, bergrerak kembali menuju level tertinggi empat bulan di 1,6310 persen yang dicapai pada Selasa (12/10) pagi, sebelum goyah di akhir pekan.

Analis di CBA mengatakan mereka memperkirakan suku bunga AS dapat naik lebih lanjut karena tekanan inflasi meningkat, mendukung dolar AS yang "memiliki tren kenaikan lebih lanjut menurut pandangan kami"

Pound bisa naik pada dolar minggu ini karena "dinamika ekonomi dan inflasi Inggris mendukung pergeseran naik untuk suku bunga Inggris", sementara yuan China yang diperdagangkan di luar negeri dapat dirugikan oleh data PDB China, tambah mereka.

Pada awal perdagangan Senin, sebagian besar mata uang tenang. Greenback sedikit berubah terhadap sekeranjang mata uang utama rivalnya di 93,992, dari level tertinggi satu tahun di 94,563 yang dicapai Senin (11/10) lalu, sementara yen melayang di dekat level terendah hampir tiga tahun terhadap dolar.

Minyak mentah AS terakhir naik 0,92 persen menjadi diperdagangakan di 83,04 dolar AS per barel, sementara minyak mentah Brent terakhir diperdagangkan 0,57 persen lebih tinggi pada 85,35 dolar AS per barel.

Emas terakhir naik 0,14 persen menjadi diperdagangkan di 1.769,60 dolar AS per ounce, setelah jatuh 1,5 persen pada Jumat (15/10), tertekan imbal hasil obligasi AS yang lebih tinggi dan kenaikan penjualan ritel AS.
 
Pewarta : Apep Suhendar
Editor: Ahmad Buchori
COPYRIGHT © ANTARA 2021