Ekonom berikan skenario bila Indonesia bertransisi pandemi ke endemi

Ekonom berikan skenario bila Indonesia bertransisi pandemi ke endemi

Tangkapan layar Ekonom senior Chatib Basri dalam webinar “Tren Masa Depan Dunia Kerja dan K3 Usai Pandemi” yang diikuti di akun Youtube ILO di Jakarta, Rabu (10/11/2021). (ANTARA/Hreeloita Dharma Shanti)

Jakarta (ANTARA) - Ekonom senior Chatib Basri memberikan skenario yang akan terjadi bila Indonesia berhasil bertransisi dari masa pandemi menuju endemi.

“Skenario pertama, pandemi masih terjadi. Jadi kita belum dapat yang namanya herd immunity (kekebalan kelompok) dan macam-macam belum masuk ke endemi,” kata Chatib dalam webinar “Tren Masa Depan Dunia Kerja dan K3 Usai Pandemi” yang diikuti di akun Youtube ILO di Jakarta, Rabu.

Chatib menuturkan pada skenario pertama, dunia perekonomian akan tetap terbatas karena adanya protokol akan membatasi segala bentuk aktivitas masyarakat sehingga berdampak pada produksi suatu barang atau jasa dan mempengaruhi transaksi jual beli.

Baca juga: Endemi tahun 2022 dapat dicapai bila pertahankan kondisi saat ini

Ia memberikan contoh, sebuah industri tidak akan memproduksi banyak barang bila tidak ada permintaan dari pembeli. Akibatnya, bunga bank menjadi turun namun kredit tidak mengalami pertumbuhan karena perusahaan tidak meminjam dana untuk melakukan usaha.

“Untuk apa orang produksi barang banyak-banyak kalau yang minta tidak ada? Motor dibuat, mobil dibuat akhirnya hanya jadi stok di dealer,” kata dia.

Chatib mengatakan apabila skenario ini masih terjadi, maka Indonesia sedang memasuki fase dimana pemerintah harus memfokuskan diri pada disaster relived di bidang kesehatan, sosial dan UMKM agar dapat bertahan.

Dalam fase ini, pola pemulihan akan terjadi secara berulang. Mulai dari pemerintah melonggarkan mobilitas sosial untuk membuat ekonomi menjadi membaik yang diikuti dengan bertambahnya kasus. Bertambahnya kasus kemudian akan menyebabkan risiko pengetatan aturan kembali sehingga mobilitas kembali turun.

Pola tersebut, kata dia, telah terjadi pada saat ekonomi triwulan II 2020 di mana perekonomian nasional terkontraksi 5 persen secara year on year (yoy).

Namun perekonomian mulai membaik seiring dengan pelonggaran aktivitas masyarakat. Oleh sebab itu, pada kuartal II 2021 kembali tumbuh secara positif menjadi 7 persen.

Sementara pada kuartal III 2021, adanya Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) menyebabkan mobilitas masyarakat menurun sehingga perekonomian tumbuh lebih rendah dari sebelumnya.

“Jadi pola ini akan berulang sampai pandemi bisa ditangani. Jadi saya katakan ekonomi tidak bisa pulih kecuali kesehatannya beres,” tegas Chatib.

Baca juga: Satgas: Indonesia siap menuju endemi bila kasus di lima provinsi turun

Sedangkan pada skenario kedua, apabila negara berhasil mengubah pandemi menjadi endemi, maka mobilitas dapat kembali meningkat dan menjalankan kegiatan produksi akibat meningkatnya jumlah permintaan terhadap suatu produk. Sehingga perekonomian bangsa menjadi lebih membaik.

Dalam skenario itu pula, dia menduga bahwa segala macam bentuk aktivitas akan berubah yang didominasi dilakukan secara hybrid (daring). Pada fase ini, industri akan menjadi pihak yang mengalami sedikit kesulitan karena butuh penyesuaian dalam menjalankan bisnis.

Selain industri, ada kemungkinan bila bidang pariwisata dan bisnis penerbangan akan merubah pola bisnis mereka karena ingin menyesuaikan diri dengan kebutuhan konsumen yang disesuaikan dengan protokol kesehatan. Dalam hal ini, pemerintah dapat dikatakan bisa memfokuskan diri pada bidang pembangunan ekonomi.

“Dalam konteks ini kita bisa berharap bahwa pertumbuhan ekonominya itu akan recover. Makanya kalau lihat dari jadwal pemerintah di tahun 2022, vaksin selesai ya 70-80 persen berarti fully recovery mungkin itu terjadi di 2023 provided tidak ada pandemi,” ujar dia.

Baca juga: Kemenkes jaga kasus COVID-19 tidak meningkat saat libur Natal
Pewarta : Hreeloita Dharma Shanti
Editor: Triono Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2021