Gotong royong, angkat marwah usaha mikro ke kancah nasional

Gotong royong, angkat marwah usaha mikro ke kancah nasional

Pelaku UMKM La Yapi (52) memperlihatkan minyak atsiri produksinya di Dusun Kranjang, Desa Wayame, Kecamatan Teluk Ambon, Ambon, Jumat (26/11/2021). (ANTARA/Indriani)

Ambon (ANTARA) - Nun jauh di perbukitan Kota Ambon nan tenang tepatnya di Dusun Kranjang, Desa Wayame, Kecamatan Teluk Ambon, Ambon, La Yapi (52) merintis usaha penyulingan minyak atsiri sejak lima tahun yang lalu.
 

Usaha penyulingan skala rumahan tersebut dengan nama Bunga Tani itu, menghasilkan minyak atsiri dari rempah seperti cengkeh, serai, nilam dan juga kayu putih yang memang dikenal sebagai komoditas unggulan Maluku sejak ratusan tahun lalu.
 

“Awalnya keluarga kami turun-menurun melakukan penyulingan minyak kayu putih. Tetapi sempat berhenti saat saya jadi kepala desa,” kata Yapi yang merupakan perantau asal Buton yang menetap di Ambon sejak tiga generasi yang lalu.
 

Proses penyulingan dilakukan di belakang rumah Yapi, dengan alat-alat sederhana seperti dandang aluminium dengan kapasitas 200 liter atau warga setempat menyebutnya sebagai ketel dan juga drum pendinginan.
 

Ketel dijerang di atas tungku batu bata berwarna coklat, dengan kayu sebagai bahan bakar utamanya. Sebelum proses penyulingan, cengkeh harus dijemur dulu selama dua hari baru kemudian diproses.
 

Untuk 40 kilogram cengkeh dijerang bersama lima liter air. Saat proses pemanasan berlangsung, ketel tersebut harus ditutup rapat yang ujungnya terhubung pipa dengan drum pendingin. Tujuannya agar minyak yang dihasilkan dari pemanasan tersebut tidak menguap. Pada drum pendingin tersebut terdapat keran untuk mengalirkan minyak pada jirigen penampungan.
 

Proses pemanasan tersebut berlangsung selama delapan jam. Setelah proses pendinginan, dilakukan pemisahan antara minyak dan air baru kemudian dikemas. Cengkeh atau tepatnya batang cengkeh tersebut didapatkannya dari Namlea, Pulau Buru. Batang cengkeh yang menjadi bahan baku penyulingan tersebut dibeli dengan harga Rp8.000 per kilogram.
 

“Pakainya batang cengkeh, kalau bunga cengkeh kami tidak mampu karena harganya mahal. Satu kilogram saja bisa Rp86.000,” kata Yapi.
 

Dengan bahan 40 kilogram cengkeh dapat menghasilkan minyak atsiri dengan berat dua kilogram. Satu kilogramnya dijual dengan harga Rp800.000.
 

“Untuk yang curah, biasanya permintaan datang dari spa-spa yang ada di Ambon. Kadang juga ada permintaan dari Makassar, Papua dan Nusa Tenggara Timur,” jelas Yapi lagi.
 

Kini, Yapi mulai mengemasnya dalam botol-botol kecil 40 mililiter yang dijual dengan harga Rp40.000 dan 160 mililiter dengan harga Rp100.000 dengan label Duskar.
 

Minyak atsiri dari cengkeh dipercaya sebagai obat gosok herbal untuk penghilang pegal-pegal, capek, sakit gigi hingga gatal-gatal. Batang cengkeh sisa dari penyulingan pun tidak langsung dibuang, tetapi dimanfaatkan sebagai bahan utama pembasmi hama di kebun.

Baca juga: Gernas BBI, dari Balikpapan hingga Turki

Baca juga: Kemenkomarves: Gernas BBI buat 16 juta UMKM masuk ekosistem digital

 

Permintaan tinggi

Pelaku UMKM La Yapi (52) memasukkan cengkeh yang menjadi bahan baku utama untuk minyak atsiri produksinya di Dusun Kranjang, Desa Wayame, Kecamatan Teluk Ambon, Ambon, Kamis (26/11/2021). (ANTARA/Indriani)

Pandemi COVID-19 yang melanda dunia dan membuat sejumlah sektor usaha terganggu, justru tak berdampak pada usaha Yapi yang berbasiskan pada kearifan lokal. Kearifan lokal yang membuat bangsa Indonesia bertahan sejak ribuan tahun lalu, juga turut dirasakan ketangguhannya oleh Yapi.

Yapi mengaku permintaan justru semakin tinggi. Terutama pada saat Indonesia menghadapi gelombang kedua COVID-19 pada Juli lalu. Pandemi sama sekali tidak mempengaruhi ekonomi keluarganya.
 

“Saya bisa menyuling setiap hari dengan kapasitas satu kali suling 40 kilogram. Banyak yang pesan minyak cengkeh, karena membuat badan menjadi hangat. Kalau sekarang, saya menyuling 20 kali dalam sebulan,” terang dia.
 

Tak hanya minyak atsiri dari cengkeh, minyak atsiri dari bahan baku lain pun permintaannya cukup tinggi. Permintaan akan minyak atsiri dari serai misalnya banyak didominasi usaha spa karena aromanya yang harum.

Permintaan tidak hanya dari Ambon tetapi juga dari luar Ambon seperti Makassar. Pun begitu dengan minyak atsiri dari nilam dan kayu putih. Sejak beberapa tahun lalu, Yapi memutuskan untuk juga membudidayakan serai dan nilam di kebunnnya yang seluas tiga hektare.
 

Minyak atsiri dari nilam perlahan juga menjadi primadona karena khasiatnya dipercaya bisa sebagai antiinflamasi atau peradangan. Minyak atsiri dari nilam digunakan untuk mengobati luka luar yang masih basah.
 

“Saat ini memang penggunaannya sebagai obat luar, karena belum ada penelitian dan izin BPOM nya sedang diurus,” timpal Yapi lagi.
 

Yapi mengaku sebenarnya ingin mengembangkan produknya dan menjualnya dengan merk sendiri. Serta bisa memasok produknya ke pertokoan di Ambon. Sayangnya, akses pengetahuan untuk memulainya terbatas. Selama ini, ia lebih banyak menjual secara curah. Kalaupun dikemas dalam botol kecil, hanya untuk skala pameran.
 

Namun, jejak mengikuti pelatihan dari pemerintah yang merupakan bagian dari Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia (BBI) pada pertengahan November 2021, jalan Yapi untuk mengembangkan produk usahanya mulai terbuka. Ia pun dibantu untuk mengurus perizinan dan juga mendaftarkan merknya di Kemenkumham.
 

Selama ini, ia kesulitan menjualnya secara langsung karena tidak tahu dari mana harus mengurus perizinan dari Dinas Kesehatan dan juga pengujian di Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) daerah. Jika perizinan sudah selesai diurus, Yapi menargetkan pemasaran produknya tidak hanya di toko-toko yang ada di Ambon tetapi juga melirik pemasaran di e-commerce agar jangkauannya semakin luas.
 

“Untuk pengembangan produknya, kami juga dibantu Universitas Pattimura yang melakukan riset pada minyak atsiri kami,” kata dia lagi.

Baca juga: Kemendikbudristek gandeng e-commerce beri pelatihan pada UMKM

Baca juga: Kemendag: Gunakan produk dalam negeri, jadi pahlawan pemulihan ekonomi

 

Gotong royong angkat derajat UMKM
 

Mengangkat derajat UMKM agar dapat naik kelas dan dapat bersaing, merupakan satu upaya pemerintah melalui Gernas BBI. Program itu juga mengajak masyarakat Indonesia untuk bangga menggunakan produk lokal sehingga perekonomian domestik dapat meningkat.
 

Gerakan tersebut melibatkan 14 kementerian dan lembaga, tidak hanya pemerintahan tetapi juga melibatkan swasta. Direktur Eksekutif Asosiasi E-Commerce Indonesia (IdEA), Arshy Adini, mengatakan sejak Gernas BBI diluncurkan pada Juni 2020, setidaknya terdapat lebih dari sembilan juta UMKM yang onboarding pada platform penjualan digital atau e-commerce.
 

“Onboarding di sini maksudnya, berpindah pola penjualannya dari UMKM yang jualannya luring ke daring,” ujar Arshy.
 

Dalam gerakan tersebut, IdEA berperan dalam memfasilitasi percepatan UMKM agar bisa go digital atau onboarding ke platform e-commerce serta dapat merajai e-commerce di Tanah Air. Pihaknya juga mendorong bagaimana percepatan ekonomi didorong melalui pelatihan dan sejumlah kegiatan yang dilakukan melalui Gernas BBI. Semua pihak bersatu padu dalam menyukseskan gerakan yang menjadi bagian dari upaya pemulihan ekonomi nasional.
 

Terdapat lebih dari 14 kementerian dan lembaga yang terlibat dalam program tersebut. Setiap bulan, lanjut Arshy, pihaknya berkoordinasi dengan kementerian dan lembaga, untuk mendorong binaannya untuk bisa go digital.
 

“Kami juga mengukur outputnya. Kami menargetkan semakin banyak UMKM yang onboarding di platform digital,” terang Arshy.


Di lapangan, kata Arshy, pihaknya menemukan sejumlah kendala UMKM seperti permodalan dan juga logistik. Upaya yang dilakukan diantaranya mendekatkan lembaga permodalan pada UMKM agar bisa memberikan permodalan secara langsung. Juga diberikan edukasi pada UMKM bagaimana logistik yang baik dan juga pelatihan pemasaran digital.

 

Pelatihan tidak hanya diberikan pada UMKM yang digerakkan oleh masyarakat, tetapi juga oleh satuan pendidikan khususnya pendidikan vokasi. Produk-produk hasil satuan pendidikan vokasi tersebut turut dipasarkan secara daring. Terutama produk-produk yang memiliki potensi untuk berkembang.
 

“Jadi ada pendampingan khusus bagi UMKM yang masuk ke dalam klasterisasi. Sekarang kita buka sebanyak-banyaknya, tapi nanti kira-kira UMKM yang siap maka akan diberikan pemantapan seperti mentoring dan kurikulum khusus,” imbuh dia.
 

IdEA menargetkan pada 2022, UMKM dapat memperluas pasar tidak hanya di dalam negeri tetapi juga melirik pasar ekspor. Dia menilai produk-produk UMKM Indonesia memiliki keunggulan tersendiri yang tidak dimiliki produk dari negara lain.

 

Libatkan satuan pendidikan

Tangkapan layar Mendikbudristek Nadiem Anwar Makarim pada peluncuran awal Bangga Buatan Indonesia #AromaMaluku yang dipantau di Jakarta, Jumat (24/9/2021). (ANTARA/Indriani)

Pelaksanaan Gernas BBI rutin dilakukan secara bergantian setiap bulannya oleh 14 kementerian dan lembaga yang terlibat. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemdikbudristek) kembali ditunjuk untuk menjadi manajer kampanye Gernas BBI dengan mengusung tema #AromaMaluku.
 

“Gernas BBI akan mendorong UMKM untuk mempromosikan narasi rempah dan kekayaan alam Maluku melalui digital marketing. Sehingga, potensi skala lokal dapat maju ke panggung global,” ujar Mendikbudristek Nadiem Anwar Makarim pada peluncuran Gernas BBI Aroma Maluku pada akhir September 2021.

Gerakan tersebut menjadi langkah bersama dalam memulihkan perekonomian Indonesia. Pemulihan pada bidang pendidikan dan kebudayaan ditentukan oleh para guru dan pelaku budaya yang bergerak mewujudkan Merdeka Belajar.

Dalam membangkitkan ekonomi nasional, sektor pendidikan dan ekonomi memainkan peran strategis dalam mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan. Pembangunan berkelanjutan yang dimaksud adalah pembangunan yang memenuhi kebutuhan pada masa sekarang dan yang akan datang. Untuk mewujudkan hal itu, sektor pendidikan dan ekonomi harus bersinergi dan harus menghilangkan sekat-sekat.

"Sehingga inovasi yang lahir di lingkungan pendidikan dapat memberikan dampak yang besar bagi pembangunan bangsa," kata Nadiem lagi.
 

Salah satu program utama dari Gernas BBI Aroma Maluku adalah pelatihan pemasaran digital untuk pelajar vokasi dengan pemateri yang berasal dari Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo), Asosiasi e-Commerce Indonesia, dan Komunitas Pegiat UMKM yang difokuskan untuk memberikan wawasan, pengetahuan, dan keahlian dalam menunjang proses onboarding UMKM pendidikan vokasi.

Gernas BBI akan menjadi langkah strategis untuk memulihkan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat Indonesia. Menurutnya, Indonesia maju dan berkelanjutan adalah visi nasional yang harus diwujudkan bersama-sama melalui kolaborasi, inovasi, dan rasa bangga dengan karya-karya anak negeri.
 

Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi (Dirjen Diksi), Kemendikbudristek, Wikan Sakarinto mengatakan bahwa Gernas BBI merupakan momentum yang sangat baik untuk membangun kemitraan lebih lanjut dengan perdagangan yang dilakukan secara elektronik (e-commerce) yang tergabung dalam IdEA.
 

Ditjen Diksi saat ini telah melakukan kerja sama kemitraan yang lebih luas dan mengarah pada penguatan kualitas satuan pendidikan vokasi termasuk SDM-nya.
 

“Saat ini telah dilakukan proses penyesuaian (onboarding) UMKM dan produk satuan pendidikan vokasi ke dalam berbagai e-commerce dengan menyediakan halaman website yang pertama kali dilihat pengunjung (landing page) khusus #AromaMaluku,” jelas Wikan.
 

Gernas BBI menjadi langkah strategis untuk memulihkan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat Indonesia. Indonesia maju dan berkelanjutan adalah visi nasional yang harus diwujudkan bersama dengan kolaborasi, inovasi, dan rasa bangga terhadap karya-karya anak bangsa. 

 

Baca juga: Gernas BBI diharapkan bisa mendorong pembangunan kemitraan

Baca juga: Produk satuan pendidikan vokasi dipromosikan melalui Garuda Shop

 

Pewarta : Indriani
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2021