Satgas: Pemerintah perketat kedatangan luar negeri cegah varian baru

Satgas: Pemerintah perketat kedatangan luar negeri cegah varian baru

Ketua Bidang Data dan IT Satgas Penanganan Covid-19 Dr. Dewi Nur Aisyah (kiri). (ANTARA/tangkapan layar)

Jakarta (ANTARA) - Ketua Bidang Data dan IT Satgas Penanganan COVID-19, Dewi Nur Aisyah mengatakan saat ini pemerintah memperketat kedatangan orang dari luar negeri dengan melakukan penambahan hari karantina guna mengantisipasi masuknya varian baru Omicron sambil menunggu informasi dari penelitian terbaru tentang varian tersebut.

"Pertama yang dilakukan pemerintah Indonesia dengan mengeluarkan surat edaran yang berlaku mulai 29 November 2021. Kedatangan dari negara-negara yang sudah teridentifikasi terdapat varian ini dikarantina selama 14 hari, di luar negara ini dinaikkan karantinanya menjadi tujuh hari," kata Dewi dalam konferensi pers daring tentang Analisis Gelombang ketiga COVID-19 di Indonesia yang dipantau di Jakarta, Senin.

Baca juga: Ketua DPR minta pengawasan karantina diperketat untuk cegah Omicron

Dia mengatakan bahwa varian Omicron menjadi perhatian serius pemerintah agar jangan sampai masuk ke Indonesia, karena adanya importasi kasus dari luar negeri.

Dewi menerangkan saat ini informasi mengenai varian Omicron B.1.1.529 masih sangat terbatas, karena belum banyaknya hasil studi yang dilakukan oleh para peneliti. Oleh karena itu, pemerintah Indonesia masih menunggu berbagai informasi lebih detil mengenai varian ini sebelum mengambil kebijakan lain sebagai langkah pencegahan.

Varian Omicron ditetapkan sebagai variant of concern oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO) pada beberapa hari lalu. Suatu varian virus disebut sebagai variant of concern apabila memiliki kategori meningkatkan angka penularan secara epidemiologi, meningkatkan perubahan gejala penyakit, dan menurunkan efektivitas usaha kesehatan publik, pengobatan, dan alat diagnostik yang saat ini tersedia.

Dewi memprediksi varian Omicron ini sudah menyebar dan terjadi penularan di level komunitas dikarenakan lamanya perbedaan waktu antara pengambilan spesimen pada 9 November dan diumumkan pada 24 November.

"Kemungkinan besar sudah terjadi transmisi di komunitas terutama di Afrika Selatan. Yang di Botswana ada konfirmasi spesimen yang diambil 11 November, kemudian menyebar lagi di beberapa negara seperti Belgia, Hong Kong, Israel, dan beberapa negara Eropa kita lihat di akhir November mulai keluar," kata Dewi.

Baca juga: Gejala omicron mirip infeksi virus pada umumnya

Baca juga: Presiden: Antisipasi varian baru Omicron harus sedini mungkin


Temuan mengenai varian Omicron sejauh ini belum ada perbedaan gejala atau mirip dengan varian yang sudah ada sebelumnya. Bahkan, juga ditemukan beberapa individu yang tidak ada gejala sama sekali ketika terinfeksi varian Omicron.

Temuan yang kedua ada kemungkinan lebih cepat menular jika melihat grafik varian Omicron yang tiba-tiba naik dalam waktu singkat. Varian Omicron disebut lebih cepat menular dibandingkan kecepatan penularan varian Delta.

Selanjutnya, juga ada efek signifikan terhadap penurunan kemampuan antibodi dalam menetralisir virus. Namun, Dewi mengatakan efek resistensi terhadap vaksinasi belum diketahui karena masih belum ada hasil penelitian yang dipublikasikan hingga saat ini.
Pewarta : Aditya Ramadhan
Editor: Endang Sukarelawati
COPYRIGHT © ANTARA 2021