Thimphu (ANTARA News) - Saat itu hampir pukul 21.30 waktu setempat ketika Wangmo sampai di rumah, setelah menurunkan penumpang terakhirnya pada hari itu, sementara anak-anaknya sudah tidur.

Itu adalah kegiatan rutin sehari-hari buat Wangmo, ibu yang berusia 37 tahun dengan tiga anak; ia telah mengemudikan taksi di Bhutan selama empat tahun. Perempuan tersebut adalah seorang pengemudi profesional, dan memegang izin-PD. Ia adalah salah satu dari kurang 30 perempuan pengemudi di Bhutan, di antara ribuan pria pengemudi.

Buat seorang perempuan, mengemban profesi semacam itu bukan cuma tidak umum di masyarakat kecil yang sangat dipengaruhi oleh prinsip-prinsip Bhuddisme dan budaya konservatif tradisional. Karena bermacam alasan, perempuan pengemudi seringkali dipandang dengan keraguan atau stigma sebagai tidak cocok di masyarakat.

Tapi buat Wangmo, tak ada yang bisa menghentikan dia untuk mengemudikan mobil, tentu saja kegiatan tersebut telah menjadi sumber tunggal nafkahnya. Di satu kabupaten kecil, Wangdue, di antara 350 pria pengemudi, ia adalah satu-satunya perempuan pengemudi.

"Orang tua saya adalah petani sederhana dari Bhutan Timur. Mereka sangat miskin dan tak bisa menyekolahkan kami," kata Wangmo kepada Xinhua yang dikutip Kamis pagi. "Karena kami enam bersaudara, orang tua harus melewati kesulitan besar untuk membesarkan kami."

Ia menikah dini dan menjadi ibu tiga anak. Ketika anak-anak masih kecil, suaminya memiliki penghasilan yang cukup buat keluarga dengan lima anggota, sebab sekolah dan perawatan kesehatan gratis. Tapi saat mereka lebih besar, mereka harus belajar di perguruan swasta, dan selanjutnya semua biaya meningkat dengan cepat.

"Saya tak mempunya pilih selain melakukan sesuatu, dan mengemudi adalah apa yang saya nikmati sepenuh hati," kata Wangmo.

Seperti banyak perempuan pengemudi, Wangmo mengatakan ia juga sepanjang waktu diganggu dan dikecam oleh lelaki pengemudi dan tetangga, tapi ia tak pernah membiarkan itu melukai kebanggaannya. "Banyak penumpang bertanya kepada saya, mengapa kamu mengemudi taksi, ini adalah pekerjaan lelaki. Tapi saya menjawab pertanyaan mereka dengan senyum lebar," katanya.

"Ini mungkin bukan profesi yang layak atau memiliki penghasilan besar, tapi penghasilan kami cukup untuk membiayai rumah tangga," kata Jamyang, perempuan lain pengemudi yang meminta untuk menggunakan nama yang ia sebutkan. "Saya mulai mengemudi setelah suami saya meninggalkan saya dengan dua anak."

Perempuan tersebut mengatakan mereka menghadapi banyak tantangan, tidak seperti lelaki pengemudi. Yang paling meresahkan ialah mendengar berita mengenai penumpang yang menikam dan bahkan membunuh pengemudi taksi dalam berbagai kejadian.

"Kami berusaha menyampaikan kekhawatiran kami tapi kami selalu menyimpan kekhawatiran," kata Jamyang kepada Xinhua. "Hidup tidak mudah, tapi ini jauh lebih baik daripada tergantung atas penghasilan orang lain."

Jamyang mengatakan melupakan tetangga, sebab ia dikecam oleh anggota keluarganya, yang dengan tegas menyarankan ia meninggalkan pekerjaannya.

Perempuan pengemudi mengatakan meskipun terjadi peningkatan persaingan dengan bertambahnya jumlah pengemudi di negeri itu, lelaki pengemudi menjadi lebih memahami situasi mereka dan memperlakukan mereka sebagai rekan kerja tidak seperti sebelumnya.

"Saya tidak melihat ada yang salah dengan mengemudi taksi," kata seorang lelaki pengemudi, yang juga adalah anggota komite bagi pengemudi taksi. Benar bahwa hanya ada sedikit perempuan pengemudi di antara ribuan lelaki pengemudi tapi mereka bekerja dan memperoleh penghasilan buat keluarga mereka.

Dunia berkembang, demikian juga dengan Bhutan, tempat keadaan berubah lebih cepat daripada kilatan lampu, kata seorang lelaki pengemudi. Di Thimphu banyak perempuan melakukan pekerjaan aneh selain mengemudi taksi.

Ia mengatakan makin banyak perempuan di Bhutan melakukan pekerjaan yang dulu didominasi lelaki, seperti mengemudi taksi. Dari pilot sampai polisi dan pengusaha sampai politikus, perempuan di negara-kecil berkembang itu mulai muncul, sekalipun lamban tapi menjebol tabu.

Sementara itu, Wangmo mengatakan ia sudah lelah terutama dengan jalan jelek dan harus melakukan perjalanan ke seluruh negara, dan mengemudi terus selama berhari-hari.

Ia berharap bisa berhenti mengemudi taksi setelah membantu anak-anaknya lulus perguruan tinggi. "Saya memiliki rencana untuk kembali ke desa saya di Mongar dan membantu orang tua saya, yang sudah berusia lanjut, dalam mengelola ladang mereka," katanya.

(C003)

Editor: Unggul Tri Ratomo
Copyright © ANTARA 2016