Pendaki melihat mayat di kawah bukit Kaba

Pendaki melihat mayat di kawah bukit Kaba

ilustrasi korban meninggal (ANTARA News/Ridwan Triatmodjo)

Rejang Lebong (ANTARA News) - Seorang pendaki Gunung Api Bukit Kaba di Kecamatan Selupu Rejang, Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu, Minggu, melihat sesosok manusia diduga kuat sudah meninggal dunia di bawah kawah mati gunung api tersebut.

Berita yang menghebohkan ini disampaikan Wahyu Dadang Candra (17) yang mengaku pada Minggu sekitar pukul 13.00 WIB melihat diduga mayat tergeletak di kedalaman mencapai 100 meter.

"Saat itu saya sedang melempar lempar batu ke dalam kawah, dan tidak lama kemudian saya melihat ada sesosok seperti tubuh manusia dengan posisi terungkup, lalu saya kasih tahu dengan pendaki lainnya," kata Wahyu yang merupakan warga asal Kota Lubuklinggau, Sumatera Selatan.

Posisi mayat yang belum diketahui jenis kelaminnya itu terlihat dalam kondisi telungkup dengan mengenakan celana panjang warna biru dan jaket warna hitam, sedangkan posisi kepalanya tidak terlihat, diperkirakan terbenam di kawah itu.

Kasus temuan diduga mayat di kawah Gunung Api Bukit Kaba itu sendiri membuat heboh masyarakat Kota Curup, dan sampai Minggu malam belum diketahui kejelasan temuan mayat ini mengingat kondisi dilokasi sedang turun hujan deras disertai kilat.

Sementara itu menurut keterangan Arta, salah seorang petugas Pokdarwis Bukit Kaba mengatakan, dirinya sudah melihat posisi mayat yang berada di dalam kawah dari bagian atas. Posisi mayat berada di kedalaman mencapai 300 meter dari bibir kawah.

Kasus temuan mayat itu sendiri sudah mereka laporkan ke pihak BKSDA Provinsi Bengkulu, namun untuk proses evakuasi belum bisa dilakukan pada malam itu.

Sedangkan kepala BPBD Rejang Lebong, Basuki, saat dihubungi mengaku belum mnegtahui adanya temuan mayat di kawah Bukit Kaba. Pihaknya masih akan melakukan penelusuran, dan untuk proses evakuasi mereka juga tidak bisa lakukan karena tidak memiliki peralatan yang memadai.
Pewarta : Nur Muhamad
Editor: Ruslan Burhani
COPYRIGHT © ANTARA 2017