Musim kemarau NTT tujuh bulan

Musim kemarau NTT tujuh bulan

Ilustrasi petani melintas di sekitar sawahnya yang kekeringan. Foto menunjukkan yang terjadi di Kampung Malompong, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, Sabtu (12/8/2017). (ANTARA FOTO/Adeng Bustomi)

Kupang, NTT (ANTARA News) - Badan Meteorologo Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprakirakan, musim kemarau di NTT pada 2018 ini berlangsung selama sekitar tujuh bulan.

"Musim kemarau tahun ini diperkirakan akan berlangsung selama tujuh bulanan dan saya harapkan masyarakat bisa mengantisipasi, terutama soal soal kebutuhan air," kata Kepala BMKG Stasiun Klimatologi Kupang, Apolinaris Geru, di Kupang, Rabu, terkait kemarau tahun ini.

Dia juga meminta masyarakat di wilayah berbasis kepulauan itu untuk menampung air pada saat hujan agar bisa dimanfaatkan pada musim kemarau.

Menurut dia, musim kemarau tahun ini masih dianggap normal karena kemarau di wilayah itu biasanya berlangsung antara 7-8 bulan, sementara musim hujan 3-4 bulan.

"Kalau musim kemarau tujuh bulan lebih masih normal karena memang musim kita di NTT seperti ini. Kemarau lebih panjang ketimbang musim hujan," katanya menambahkan.

Berdasarkan prakiraan BMKG, awal musim kemarau pada 2018, pada 23 zona musim, di NTT berkisar pada Maret, April, dan Mei 2018.

Dia menjelaskan, sebanyak empat zona musim, memasuki awal musim kemarau antara dasarian I-III Maret 2018. Empat zona musim itu meliputi sebagian besar Pulau Flores bagian timur dan Sumba Timur serta Sumba Tengah bagian utara.

Sementara sebanyak 18 zona musim, akan memasuki awal musim kemarau antara dasarian I-III April 2018. Delapan ZOM itu meliputi sebagian besar Pulau Flores bagian barat, Pulau Alor, sebagian besar Pulau Sumba, sebagian besar Pulau Timor, Pulau Sawu dan Pulau Rote.

Sedangkan satu zona musim, akan memasuki awal musim kemarau antara dasarian I-III Mei 2018, meliputi Manggarai Barat bagian utara, Manggarai, Manggarai Timur, dan Ngada bagian utara.
Pewarta : Bernadus Tokan
Editor: Ade P Marboen
COPYRIGHT © ANTARA 2018