Korsel berharap perdamaian abadi di Semenanjung Korea

Korsel berharap perdamaian abadi di Semenanjung Korea

Delegasi Korea Selatan dan Utara menghadiri pertemuan di desa gencatan senjata Panmunjom di zona demiliterisasi yang memisahkan kedua Korea, di Korea Selatan, Selasa (9/1/2018). (Yonhap via REUTERS)

Jakarta (ANTARA News) - Korea Selatan berharap pertemuan tingkat tinggi dengan Korea Utara pada April nanti bisa menjadi fondasi untuk mengakhiri perang Korea dan mewujudkan perdamaian yang abadi di Semenanjung Korea.

Duta Besar Republik Korea Selatan untuk Indonesia Kim Chang-beom dalam jamuan makan siang dengan wartawan di Jakarta, Kamis menyadari bahwa mewujudkan perdamaian abadi di Semenanjung Korea merupakan jalan yang masih panjang yang harus ditempuh kedua negara.

"Paling tidak pertemuan ini bisa meletakkan fondasi untuk memulai diskusi yang tulus untuk mewujudkan perdamaian abadi di Semenanjung Korea," kata Dubes Kim.

Kedua pemimpin Korea Selatan dan Korea Utara dijadwalkan akan bertemu di Peace House, di desa gencatan senjata, Panmunjeom pada 27 April 2018 untuk pertama kalinya sejak 2007.

Sementara itu, Korsel masih mempersiapkan sejumlah agenda untuk dibahas pada pertemuan tingkat tinggi Korea nanti.

Setidaknya ada tiga isu utama yang akan menjadi perhatian utama Korsel pada pertemuan nanti, kata Dubes Kim.

Pertama adalah bagaimana menyelesaikan isu denuklirisasi dengan Korut.

Senjata nuklir yang dikembangkan oleh Korut dipandang menjadi ancaman perdamaian dan stabilitas tak hanya di Semenajung Korea, namun juga di setiap belahan dunia.

"Tanpa kemajuan dalam pembahasan isu denuklirisasi, kita tidak akan melihat hubungan yang membaik antara Korut dengan Korsel dan juga dengan AS," ujar Kim.
 
Duta Besar Korea Selatan untuk Indonesia Kim Chang-beom dalam wawancara khusus dengan Antara di Jakarta, Kamis. (ANTARA News/Aditya Wicaksono)


Kedua, bagaimana menciptakan perdamaian yang abadi di Semenanjung Korea termasuk meredakan ketegangan militer karena secara teknis Korsel dan Korut masih dalam keadaan perang karena kedua negara itu hanya menandatangani perjanjian gencatan senjata pada 1953.

"Kita harus merubah perdamaian yang tidak stabil ini menjadi perdamaian yang stabil dan permanen," tutur Dubes Kim.

Kemudian, Korsel menaruh perhatian untuk bagaimana memperbaiki hubungan antar-Korea.

Namun demikian, hal itu akan sangat tergantung dari kemajuan dialog antar-Korea April nanti.

"Kami terbuka untuk membahas berbagai macam isu terkait hubungan antar-Korea seperti pertukaran kerja sama dan isu kemanusiaan seperti reuni keluarga yang terpisah setelah perang," kata Dubes Kim.

Pertemuan antar-Korea itu akan menjadi dialog tingkat tinggi pertama antara Korsel dan Korut setelah delegasi Korsel kembali dari Pyongyang.

Setelah pertemuan antar-Korea pada April nanti, perhatian dunia akan tertuju pada pertemuan tingkat tinggi antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden Korut Kim Jong-un yang kemungkinan digelar sekitar akhir Mei atau Juni nanti.
Pewarta : Aditya Eko Sigit Wicaksono
Editor: Unggul Tri Ratomo
COPYRIGHT © ANTARA 2018