Forhati tingkatkan wawasan kader melalui Sekolah Demokrasi

Forhati tingkatkan wawasan kader melalui Sekolah Demokrasi

Sekjen Forhati Jumrana Salikki (paling kanan) bersama Anggota Presidium Kahmi Viva Yoga Mauladi (tengah) serta Mentor Sekolah Demokrasi insan Cita, Ferry Mursidan Baldan (kedua dari kanan) dan Syamsuddin Ch Haesy (paling kiri). (ANTARA/FOTO: Riza Harahap)

Jakarta (ANTARA News) - Forum Alumni Himpunan Mahasiswa Islam Wati (Forhati) berupaya meningkatkan wawasan dan pengetahuan para kadernya melalui Sekolah Demokrasi Insan Cita yang diselenggarakan di Jakarta, pada 26-30 September 2018.

"Sekolah Demokrasi Insan Cita ini terutama diperuntukkan kepada kader Forhati yang menjadi caleg (calon anggota legislatif), agar mereka memiliki pengetahuan dan wawasan yang mumpuni sebagai anggota legislatif," kata Koordinator Presidium Nasional Forhati, Hanifah Husein, dalam sambutannya pada pembukaan Sekolah Demokrasi Insan Cita, di Jakarta, Rabu.

Hadir pada kesempatan tersebut antara lain, Anggota Presidium KAHMI Viva Yoga Mauladi, Sekjen Forhati Jumrana Salikki, Kepala Sekolah Demokrasi Insan Cita Hamsina Mukadas, serta Mentor Sekolah Demokrasi Insan Cita Ferry Mursidan Baldan dan Syamsuddin Ch Haesy.

Sementara, siswa Sekolah Demokrasi Insan Cita tahap pertama ada sebanyak 15 orang kader Forhati yang menjadi caleg dari partai-partai politik peserta pemilu 2019. Mereka berasal dari provinsi, Sumatera Utara, Riau, Sumatera Barat, Banten, DKI Jakarta, Kalimantan Utara, Gorontalo, Maluku, dan Maluku Utara.

Menurut Hanifah Husein, pendidikan di Sekolah Demokrasi Insan Cita ini merupakan bentuk perhatian dan pengawalan dari Forhati kepada kader HMI Wati yang menjadi caleg di berbagai partai politik, agar nantinya dapat menjadi anggota legislatif yang berkualitas.

"Dalam UU Partai Politik mengatur bahwa partai politik harus mengusulkan caleg dari kaum perempuan dengan kuota minimal 30 persen. Forhati menginginkan, caleg kaum perempuan itu berkualitas, bukan sekadar memenuhi kuota pengusulan caleg," katanya.

Kepala Sekolah Demokrasi Insan Cita, Hamsina Mukadas menambahkan, materi yang diberikan di sekolah ini adalah pengayaan wawasan dan pengetahuan kepada para caleg, yakni 60 persen substansi pengetahuan serta 40 persen penambahan wawasan. "Pengetahuan yang akan diberikan adalah, soal politik, pemilu, hukum, dan pemerintahan," katanya.
 
Pola pemberian materi, menurut dia, tidak hanya ceramah dari mentor kepada siswa, tapi juga akan dibentuk kelompok-kelompok dan dilakukan diskusi. Hamsina menambahkan, setelah menjalani Sekolah Demokrasi Insan Cita selama lima hari, para pserta akan melakukan studi ke Malaysia, pada 1 Okotober 2018.
Pewarta : Riza Harahap
Editor: Ruslan Burhani
COPYRIGHT © ANTARA 2018