Korban gempa Kulawi butuh tenda

Korban gempa Kulawi butuh tenda

Dokumentasi - Diego Maradona (6) (kika), Owen Michael (11), Cliff Bredley (10), Glen Hizkiawengku (8), Ozil Ropiwa (8), Ferdiansyah Agusto (7) merupakan anak-anak pengungsi dari Desa Jono Oge, Sigi, yang terkena gempa dan likuifaksi berbincang dengan Antara di tenda Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemnedikbud) di Desa Pombewe, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, Selasa (9/10/2018). (ANTARA/Virna P Setyorini)

Sigi, Sulawesi Tengah (ANTARA News) - Sejumlah korban gempa di Kecamatan Kulawi, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, membutuhkan bantuan tenda dari pemerintah. "Tenda yang ada hanya terpal. Tenda besar untuk dapur umur," kata korban gempa Desa Laone, Kecamatan Kulawi, Nujum, Senin.

Tenda yang ada atau yang digunakan korban saat ini, kata dia, hanya terpal. Itupun hanya sebagian warga yang dapat, sebagian tidak.

Saat gempa mengguncang pada 28 September 2018, sebagian besar rumah warga roboh dan sebagian rusak berat. Karena itu, warga masih tetap di tenda-tenda pengungsian yang hanya menggunakan terpal.

"Bantuan makanan dan air minum, sudah ada. Namun untuk tenda, hanya sebagian yang dapat," ujar Nujum.

Bantuan tenaga medis, untuk penanganan kesehatan korban gempa telah tiba di Kulawi. Hal itu cukup membantu korban di wilayah itu.

Ia mengaku, bahwa aktivitas warga mulai normal untuk wilayah Kecamatan Kulawi. Namun, belum semua korban beraktivitas seperti biasa.

Kulawi selain diguncang gempa, juga diikutkan dengan longsor dan banjir bandang. Beberapa desa terdapat korban jiwa seperti Desa Boladangko Desa Namo dan Desa Salua.

Dia mengemukakan, akses menuju Kulawi terputus karena longsor. Longsor terjadi di beberapa titik sepanjang jalan menuju Kulawi di jalur pegunungan.

Pemkab Sigi, Pemprov Sulteng terus berupaya untuk membuka akses menuju Kulawi agar masyarakat dapat dievakuasi dan penyaluran bantuan.*

Baca juga: Tim kemanusiaan Minahasa tembus pedalaman Sigi

Baca juga: Yang menarik dari kekayaan budaya Kulawi di Sigi


 
Pewarta : Muhammad Hajiji
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2018