Kemenlu: kerja sama OKI bidang obat-obatan penting

Kemenlu: kerja sama OKI bidang obat-obatan penting

Dirjen Kerja Sama Multilateral Kemenlu Febrian A Ruddyard (tengah) memberikan keterangan pers jelang penyelenggaraan pertemuan NMRAs di Jakarta, Senin (19/11/2018). ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/wsj.

 Jakarta (ANTARA News) - Direktur Jenderal Kerja Sama Multilateral Kementerian Luar Negeri Febrian Alphyanto Ruddyard mengatakan kerja sama antar anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) di bidang obat-obatan penting untuk menjaga kemitraan dalam skala yang semakin luas.
   
"Ini penting untuk Kementerian Luar Negeri sebagai bagian dari kerja sama OKI. Ini bisa ke 'next level'," kata Febrian di Jakarta, Senin, merujuk pertemuan "The First Meeting of National Medicines Regulatory Authorities (NMRAs) from the Organization of Islamic Cooperation".

Menurut dia pertemuan otoritas Badan Pengawas Obat dan Makanan anggota OKI yang akan diselenggarakan tengah pekan ini di Jakarta menjadi bentuk kerja sama dengan dimensi yang luas.
   
Baca juga: Bangun solidaritas OKI, BPOM RI gelar forum diskusi pengembangan dan pengawasan obat

Saat awal OKI didirikan, kata dia, untuk menentang pendudukan Israel atas Palestina. Gerakan dari organisasi tersebut intinya adalah gerakan politik dengan perwujudan kerja sama sejumlah negara Islam.
   
"Pilar kerja sama itu awalnya politik saat terjadi pendudukan Israel. Kemudian ada kerja sama ekonomi, perdagangan. Kemudian ada kerja sama ilmu pengetahuan dan sosial budaya," kata dia.
   
Dia mengatakan pertemuan NMRAs OKI perdana itu juga memiliki posisi strategis sebagai kerja sama multilateral ukhuwah ke-Islaman antaranggota OKI.
   
"Jangan sampai politik saja tapi kemaslahatan umat juga perlu sehingga memperkuat hubungan antarnegara. Jangan isu politik saja. Ini kerja sama yang lebih relevan," katanya.
   
Febrian mengatakan kerja sama dalam berbagai hal di antara anggota OKI akan turut membantu negara berkembang termasuk Palestina sendiri.
   
"Kegiatan ini menjadi amal jariyah pembangunan kapasitas untuk membagi kemampuan kita terkait obat," kata dia merujuk pertemuan NMRAs yang salah satunya berisi "sharing" pengetahuan dalam regulasi obat di Indonesia kepada negara-negara OKI. 

Baca juga: BPOM: Indonesia berpotensi memimpin pasar obat herbal
Baca juga: BPOM: teknologi vaksin Indonesia unggul di kalangan OKI
Baca juga: Ini agenda pertemuan OKI 21-22 November di Jakarta
Pewarta : Anom Prihantoro
Editor: Budi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2018