Perundingan perjanjian perdagangan RI-Mozambik ditargetkan selesai 2019

Perundingan perjanjian perdagangan RI-Mozambik ditargetkan selesai 2019

Direktur Kerja Sama Afrika Kementerian Luar Negeri Daniel Tumpal Simanjuntak menyampaikan perkembangan diplomasi ekonomi Indonesia-Afrika di Jakarta, Jumat (21/12/2018). (ANTARA/Yashinta Difa)

Jakarta (ANTARA News) , 21/12 (Antara) - Perundingan perjanjian perdagangan preferensial (PTA) antara Indonesia dan Mozambik yang telah dibahas dalam dua putaran sejak April 2018, ditargetkan selesai pertengahan tahun depan.

"Harapan kami putaran ketiga perundingan bisa dilaksanakan Januari atau Februari tahun depan, mudah-mudahan Maret sudah selesai perundingan," kata Direktur Kerja Sama Afrika Kementerian Luar Negeri Daniel Tumpal Simanjuntak di Jakarta, Jumat.

Proses pembahasan PTA antara kedua negara telah dimulai sejak 2017, saat Menteri Luar Negeri Retno Marsudi berkunjung ke Mozambik.

Usulan untuk menjalin kesepakatan dagang ini kembali disampaikan Presiden Joko Widodo saat bertemu Presiden Mozambik Filipe Nyusi di sela-sela pertemuan Asosiasi Negara Lingkar Samudera Hindia (IORA) di Jakarta tahun lalu.

Barulah pada penyelenggaraan Indonesia-Africa Forum (IAF) di Bali, April lalu, Mozambik menyatakan kesiapannya untuk memulai perundingan PTA.

"Jika perjanjian ini terjadi, maka akan melengkapi upaya diplomasi kita di Afrika dari sisi membuka akses pasar dan investasi ke benua tersebut," ujar Tumpal.

Baca juga: Menlu usulkan tujuh kerja sama ekonomi Indonesia-Mozambik

Melalui PTA yang saat ini masih dibahas, kedua negara akan mengatasi hambatan tarif berkisar 25 persen untuk produk jadi dan 10 persen untuk produk setengah jadi.

Indonesia mengusulkan sekitar 100 produk untuk dibebaskan tarif ekspornya, termasuk diantaranya minyak sawit dan tekstil.

"Mozambik akan menjadi negara strategis untuk masuknya produk-produk kita ke Afrika," tutur Tumpal.

Selain Mozambik, Indonesia juga sedang melakukan negosiasi PTA dengan Tunisia, sebagai salah satu pasar non-tradisional yang ingin digarap di Afrika.

Baca juga: Indonesia tindaklanjuti diplomasi ekonomi dengan Afrika

Baca juga: LIPI: Afrika pasar potensial bagi Indonesia

Baca juga: Indonesia tingkatkan konektivitas dengan Afrika via Ethiopia

Baca juga: IAF catat kesepakatan bisnis 586 juta dolar

Pewarta : Yashinta Difa Pramudyani
Editor: Faisal Yunianto
COPYRIGHT © ANTARA 2018