Menengok "kota hantu" eks Kampung Gafatar

Menengok

Mantan anggota Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) tiba di Blitar, Jawa Timur, Senin (25/1). Sebanyak 24 warga eks-Gafatar tersebut selanjutnya dipulangkan ke kampung halaman mereka. (ANTARA FOTO/Irfan Anshori)

Tanjung Selor (ANTARA News) - Alam Desa Penisir, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara sebenarnya cukup indah, dengan hamparan hijau lahan pertanian potensial di antara bukit-bukit di sekelilingnya.

Di kiri-kanan jalan desa, terlihat juga berbagai jenis hortikultura yang siap panen, durian, duku, rambutan dan lai (durian jingga khas Borneo).

Pemborong buah tampak sibuk memuat hasil panen hortikultura milik warga lokal, khususnya durian, ke dalam mobil-mobil pikapnya.

Suasana hidup di Desa Penisir itu hanya bersifat musiman, yakni hanya saat musim buah saja karena ternyata yang kini tinggal di sana hanya sekitar 20 KK (kepala keluarga).

Jika dicermati, sesungguhnya  suasana desa tersebut cukup menakutkan karena sebagian rumah ternyata tidak berpenghuni.

Lihat saja sejumlah rumah dekat sekolah PAUD (pendidikan anak usia dini) semua kosong  serta tampak tidak terurus karena halamannya dipenuhi semak dan ilalang. Alat-alat bermain di halaman PAUD juga tampak dililit tumbuhan menjalar.

Beberapa rumah tampak masih memiliki kain tirai namun sebagian sudah terkoyak dihembus angin karena pintu dan jendela tak berdaun lagi.

Jadi di sana dulu pernah ada kehidupan dengan berbagai kegiatan, namun kini hanya sisa-sisa bangunan telantar.

Tepat tiga tahun silam atau Januari 2016, pemerintah harus mengungsikan, dan kemudian memulangkan hampir 150 jiwa warga kelompok sesat Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) karena khawatir terjadi konflik horizontal.

Sejak warga Gafatar meninggalkan kawasan itu,  warga lokal juga enggan tinggal di Desa Penisir sehingga penampakan eks pemukiman Gafatar mirip "Kota Hantu".

Berbagai alasan warga lokal enggan kembali, di antaranya trauma dengan kehadiran Gafatar. Apalagi sampai kini pemerintah enggan membangun jaringan listrik.

Pernah Berkembang  

Pada 2013, sejumlah orang datang ke Desa Penisir berniat menyewa lahan dan rumah warga seperti yang lainnya. Mereka ternyata merupakan perkumpulan Gafatar.

Sebelum Gafatar masuk, di Penisir sudah ada permukiman, yakni warga yang sejak lama bermukim dan warga baru dari pemukiman transmigrasi lokal.

Gafatar akhirnya berhasil meyakinkan warga Penisir (umumnya transmigran lokal) untuk melakukan nota kesepahaman (MoU) pinjam pakai dengan pola tahun pertama bagi hasil 50:50, tahun kedua 60:40, dan seterusnya 80:20.

Mereka menyakinkan tujuan organisasi itu bersifat sosial, utamanya ketahanan pangan sehingga warga tidak curiga.

Didukung oleh kemampuan SDM (sumber daya manusia) karena pendidikan lebih baik, bahkan sebagiannya sarjana, maka sektor pertanian di Penisir sangat berkembang pesat.

Saat paham sesat Gafatar mulai terkuak sebenarnya tidak ada masalah dengan situasi di Desa Penisir.

Akan tetapi maraknya berita, khususnya di televisi nasional terkait penolakan terhadap Gafatar hingga pembakaran rumah di provinisi lain  membuat warga Kaltara resah.

Data awal tercatat ada 21 KK atau 87 jiwa warga Gafatar yang beragama Islam dan juga non-Islam. Kemudian diperkirakan jumlahnya bertambah hampir 150 jiwa karena ada yang tidak terdaftar resmi.

Akhirnya, Kantor Agama Pemkab Bulungan, bersama Polri dan TNI mengadakan pertemuan dengan warga Gafatar dan penduduk setempat membahas situasi memanas itu.

Akhirnya, diputuskan mereka ditampung Pemkab Bulungan dan selama di penampungan itu mereka dibina dan dibimbing agar kembali ke ajaran masing-masing. Kemudian dipulangkan ke daerah asalnya baik yang Muslim maupun  yang non-Muslim.

Dalam jumpa pers di gedung MUI, Jakarta, Februari 2016, Ketua Umum MUI Pusat saat itu, KH Ma`ruf Amin mengemukakan dasar atas fatwa sesat terhadap Gafatar karena merupakan metamorfosis Al-Qiyadah Al-Islamiyah dan menjadikan Ahmad Musadeq sebagai pemimpinnya.

Gafatar juga sesat karena menganut ajaran Millah Abraham, yakni mencampur-adukkan agama Islam, Nasrani, dan Yahudi. Terhadap mereka yang meyakini paham itu maka dinyatakan murtad dan keluar dari ajaran Islam.

 Kian Sepi

Sejak itu, jumlah warga di Desa Penisir terus berkurang seperti disebutkan seorang guru di SD Desa Penisir.

Guru yang enggan disebutkan namanya itu menjelaskan bahwa jumlah pelajar di SD Penisir hanya 16 orang dari kelas 1 sampai 6. Artinya satu kelas terdapat hanya 2-3 murid. Ironisnya jumlah siswa makin berkurang setiap bulan.

Menyinggung kondisi sekolah beberapa tahun silam, ia mengakui jumlah siswa saat itu cukup banyak. Mereka merupakan pelajar dari warga lokal. Sebab anak-anak warga Gafatar tidak disekolahkan oleh orangtuanya di sekolah umum.

Lagi-lagi karena alasan SDM, mereka secara eksklusif mendidik anak warganya bukan di sekolah formal. Guru tersebut sempat menanyakan hal itu tapi saat itu tidak curiga.

Setelah Gafatar terbongkar, Desa Panisir kian sepi karena sebagian warga lokal ikut pindah dan para penyewa lahan serta rumah yang dulu pernah ramai, enggan datang lagi.

Diperkirakan karena warga trauma dengan Gafatar, listrik tidak ada, dan belakangan ada cerita-cerita mistis atau rumor yang membuat warga semakin banyak yang pindah.

Kini, Desa Penisir masih memiliki keindahan alam dan potensi pertanian yang lumayan, namun semakin hari kian terlantar.

Denyut kehidupan Penisir kini sangat lemah, ibarat orang sakit parah yang telah kehilangan semangat untuk pulih. 

 Baca juga: MUI: Gafatar sesat dan pengikutnya keluar dari Islam
Baca juga: Pemimpin Gafatar divonis lima tahun penjara
 
Pewarta : Iskandar Zulkarnaen
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2019