Hoaks berdampak buruk bagi psikologis masyarakat

Hoaks berdampak buruk bagi psikologis masyarakat

Maskot Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Bawas dan Lula menunjukan stiker pemilu bersih dan anti hoaks saat sosialisasi pemilu bersih dan berintegritas di car free day, Karawang, Jawa Barat, Minggu (25/11/2018). Sosialisasi tersebut untuk terwujudnya kampanye tanpa hoaks dan politik uang di Pilpres 2019. ANTARA FOTO/M Ibnu Chazar/aww.

Jakarta (ANTARA News) - Hoaks dan ujaran kebencian yang marak beredar di media sosial tidak hanya bisa memrovokasi dan menimbulkan perpecahan, tapi juga berdampak buruk bagi psikologis, sosial, bahkan fisik masyarakat.

Karena itu, psiko edukasi dan kampanye sebar cinta dan damai di medsos seperti ajakan #HateFreeDay harus terus digaungkan untuk menciptakan suasana aman, damai dan nyaman, terutama pada tahun politik sekarang, kata psikolog anak dan keluarga, Maharani Ardi Putri.

“Psiko edukasi bisa dilakukan dalam banyak hal, yakni bisa melalui iklan layanan masyarakat, menggunakan brosur yang disebarkan atau diviralkan melalui medsos dan sebagainya," katanya di Jakarta, Jumat.

Jadi, menurut Maharani, hal-hal yang negatif itu juga harus dilawan dengan hal-hal yang positif. "Kita juga harus lebih menonjolkan berita-berita baik sehingga masyarakat sadar masih banyak hal-hal baik daripada hal-hal buruk yang sudah mereka baca," katanya.

Menurut dia, hoaks dan ujaran kebencian di medsos menjadi masalah besar bagi bangsa ini. Ketika seseorang membaca berita hoaks secara psikologis akan terpengaruh, merasa kecewa, takut dan benci terhadap orang yang dibicarakan dalam hoaks, padahal semuanya tidak benar.

Lalu untuk orang yang dibicarakan dalam berita hoaks itu bisa timbul perasaan malu, marah,  bahkan traumatis.

"Jadi dampak psikologisnya bisa jadi pada orang yang dituju atau juga pada orang yang membaca berita hoaks tersebut,” kata Maharani yang juga  dosen Fakultas Psikologi Universitas Pancasila ini.

Hoaks, kata Maharani, juga berdampak sosial. Ketika hoaks itu menjadi viral, apalagi ditimpali ujaran-ujaran kebencian, maka secara sosial perilaku yang bersangkutan pun ikut menjadi berubah.

Tak hanya itu,  menurut dia, penyebaran hoax dan ujaran kebencian juga memiliki dampak secara fisik, yaitu ketika orang menjadi merasa sedih dan depresi karena membaca informasi tersebut.

Orang juga bisa kemudian takut untuk keluar rumah atau takut melakukan sesuatu karena berita-berita hoaks yang dia baca.

Diakuinya, perkembangan teknologi yang pesat membuat sulit untuk mencegah seseorang tidak memiliki akun medsos. Untuk itu keluarga berperan sangat penting dalam mengajarkan bagaimana bermedia sosial yang bijak terutama kepada anak.

"Mereka perlu diperkenalkan dengan hal-hal yang memang berpotensi menimbulkan masalah ketika itu diupload di medsos,” ujar kepala Biro Humas dan Ventura Universitas Pancasila ini.

Menurut dia, agar lingkungan pekerjaan dan keluarga bisa hidup rukun dan damai tanpa hoax dan ujaran kebencian, perlu adanya psiko edukasi atau pendidikan medsos juga bagaimana berinternet secara bijak.

“Ini harus dilakukan dalam setiap lapisan umur. Kenapa? Karena cara menangkap pesan-pesan atau pendidikan mengenai medsos ini tentunya akan berbeda-beda, harus disesuaikan dengan kapasitasnya, dengan bahasa yang kita gunakan, sehingga masyarakat menjadi lebih paham,” katanya.
Baca juga: Densus 88 sebut penyebaran hoaks juga bentuk teror
Baca juga: Tiga daerah dengan tingkat penerimaan hoaks tinggi menurut survei LIPI
Baca juga: Polri sebut penyebaran hoaks dimulai dari grup "WhatsApp"
Pewarta : Suryanto
Editor: Sri Muryono
COPYRIGHT © ANTARA 2019