Pulau Enggano kembali diteliti tim Balai Arkeologi Sumsel

Pulau Enggano kembali diteliti tim Balai Arkeologi Sumsel

Tari Perang Suku Enggano Masyarakat suku Enggano mempertunjukkan tarian perang tradisional mereka seusai upacara HUT RI di Desa Apoho, Pulau Enggano, Bengkulu Utara, Bengkulu, Rabu (17/8/2016). Tarian perang tersebut diperankan 100 orang warga suku asli Enggano yang bercerita mengenai perang antarsuku yaitu suku Kauno, Kaitora, Kaarubi, Kaharuba, Kaohoa dan suku pendatang Ka'may dalam memperebutkan wilayah kekuasaan. Peperangan berakhir dengan perdamaian dan mereka hidup rukun harmonis hingga saat ini.(ANTARA/David Muharmansyah)

Palembang, (ANTARA News) - Tim Balai Arkeologi Provinsi Sumatera Selatan dijadwalkan akan meneliti kembali Pulau Enggano di Provinsi Bengkulu pada April 2019 setelah pada tahun lalu menemukan fakta-fakta menarik di pulau terluar gugusan kepulauan Indonesia itu.

Peneliti Balai Arkeologi Sumsel, Sigit Eko Prasetyo di Palembang, Senin mengatakan, adanya fakta bahwa pulau tersebut secara geografis tidak pernah menyatu dengan Sumatera membuat para peneliti sangat tertantang untuk menggali lebih dalam mengenai asal muasal nenek moyang dari suku-suku di Enggano.

"Penelitian kedua ini lebih kepada pengembangan dan pengayaan. Tentunya kami akan melibatkan masyarakat setempat untuk menelusuri jejak suku-suku di Enggano," kata dia.

Ia mengatakan suku-suku di Enggano ini memiliki keunikan karena berdasarkan hasil penelitian yang pertama, mereka memiliki bahasa dan budaya sendiri yang berbeda dengan suku-suku yang ada di pulau sekitar.

Dengan jumlah penduduk berkisar 3.000 orang maka sangat menarik jika akhirnya dapat diketahui asal muasal dari nenek moyang suku-suku di Enggano.

Fakta menarik lainnya, di pulau itu banyak ditemukan bangunan peninggalan zaman kolonial karena daerah tersebut sempat dijadikan "basecamp" tentara Jepang di masa perang dunia kedua.

"Mengapa Pulau Enggano yang dipilih, ini yang ingin kami cari jawabannya," kata dia.

Pulau Enggano sebenarnya sudah menjadi objek penelitian para peneliti asing sejak 2003. Namun, di dalam negeri sendiri kurang menjadi perhatian meski Balai Arkeologi sudah pernah meneliti pada 1996.

Pulau Enggano masuk dalam wilayah administratif Kabupaten Bengkulu Utara memiliki enam desa yaitu Desa Meok, Desa Apoho, Desa Malakoni, Desa Kaana dan satu desa transmigrasi Banjarsari.

Pulau Enggano didiami masyarakat adat yang terdiri lima suku asli, yaitu Suku Kauno, Suku Kaahoa, Suku Kaharuba, Suku Kaitaro, Suku Kaharubi. Di pulau itu ada hukum adat yang unik yaitu seluruh pendatang diwadahi dalam satu suku tersendiri, yaitu Suku Kaamay.

Di sekitar Pulau Enggano masih ada beberapa pulau kecil, yaitu Pulau Dua, Pulau Merbau dan Pulau Bangkai yang terletak di sebelah barat dan Pulau Satu yang berada di sebelah selatan.

Dari Pulau Sumatera atau dari Kota Bengkulu jarak Pulau Enggano sejauh 156 km atau 90 mil laut. Jarak dengan Manna, Ibu Kota Kabupaten Bengkulu Selatan sekitar 96 km.

Baca juga: Lanal Bengkulu gelar ekspedisi Pulau Enggano

Baca juga: Kapal asing di perairan Enggano kian meresahkan

Baca juga: LIPI ekspos keanekaragaman hayati Pulau Enggano

Baca juga: Dua Pulau di Sekitar Enggano Hilang
Pewarta : Dolly Rosana
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2019