Revitalisasi Kota Tua Ampenan dan potensi wisata sejarah

Revitalisasi Kota Tua Ampenan dan potensi wisata sejarah

Warga beraktivitas di kawasan Kota Tua Ampenan, Mataram, NTB, Kamis (3/1/2019). Pemerintah kota Mataram akan melakukan penataan kawasan Kota Tua Ampenan dengan dana bantuan dari pemerintah pusat sekitar Rp26 miliar untuk kegiatan penataan kawasan Kota Tua Ampenan yang saat ini mulai dirintis menjadi salah satu objek wisata andalan di daerah NTB. (ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi/aww.)

Deretan bangunan tua bergaya art deco masih berdiri tegak. Sementara di bibir pantai nampak sisa-sisa tiang pancang bekas sebuah pelabuhan peninggalan pemerintah kolonial Belanda.

Gedung-gedung tua yang beberapa bagian tembok dan catnya telah mengelupas dimakan usia itu menjadi saksi bisu kejayaan Kota Tua Ampenan puluhan tahun silam.

Menurut catatan sejarah Kota tua Ampenan dibangun sejak tahun 1924 oleh Belanda untuk mengimbangi kerajaan-kerajaan yang ada di Pulau Bali.

Kota tua Ampenan yang kini masuk wilayah Kota Mataram itu merupakan satu dari 16 kota tua yang masuk data Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa sebagai kota pusaka dengan klaster B.

Puluhan tahun silam Kota Kota Tua Ampenan menjadi salah satu pusat perekonomian di Pulau Lombok. Ampenan kala itu menjadi pusat perdangan dan salah satu pelabuhan ekspor ternak yang cukup sibuk.

Pada perkembangan selanjutnya pelabuhan Ampenan sebagai pemberangkatan jamaah haji asal Nusa Tenggara Barat yang menggunakan kapal laut untuk menunaikan ibadah haji di Mekah.

Namun, setelah pelabuhan laut ini dipindahkan ke Lembar, Kabupaten Lombok Barat karena alasan keamanan. Aktivitas di pelabuhan peninggalan Belanda itu kemudian sepi.

Sejatinya perjalanan panjang Kota Tua Ampenan tersurat dalam guratan sejarah kehidupan masyarakat di Pulau Lombok. Kota Tua Ampenan kini menjadi saksi bisu hiruk pikuk aktivitas perekonomian puluhan tahun silam.

Kota Tua Ampenan kini menyisakan bangunan tua yang kusam, namun sarat nilai sejarah yang perlu dilestarikan agar generasi mendatang bisa menikmati kejayaan kota tua ini sebagai pusat perdagangan dan kota pelabuhan.

Karena itu Pemerintah Kota Mataram mulai merevitalisasi Pantai Ampenan yang menjadi salah satu bagian dari sejarah kawasan Kota Tua Ampenan.

Wakil Wali Kota Mataram H Mohan Roliskana mengatakan tim revitalisasi Pantai Ampenan sudah mulai bekerja, sesuai dengan desain perencanaan yang ada dan tahun ini ditargetkan kegiatan revitalisasi bisa tuntas.

Untuk melakukan revitalisasi Pantai Ampenan tahun 2019 mendapatkan dukungan dana dari Pemerintah Provinsi NTB sebesar Rp2,8 miliar khusus untuk penataan kawasan pantai.

Penataan kawasan pantai yang dimaksudkan itu adalah penataan zona pedagang kaki lima (PKL) dan ruang publik di bekas Pelabuhan Ampenan.

Khusus untuk zona PKL, kata Mohan, telah dilakukan sedikit perubahan menyesuaikan dengan ketersedian ruang yang ada sehingga sarana pendukung tidak terlalu masif. Zona PKL yang ada saat ini akan kita perluas agar semua PKL bisa terakomodasi dan tidak ada lagi yang berjualan di luar zona.

Masalah itu telah disosialisasikan kepada para PKL, dan mereka juga diingatkan agar tidak ada tambahan pedagang lagi. Apalagi, berjualan di luar lapak yang disediakan.

Menurut Mohan, revisi penataan kawasan Pantai Ampenan tersebut dilakukan karena melihat populasi kunjungan masyarakat ke Pantai Ampenan yang cukup tinggi sementara kondisi pedagang cukup padat.

Kenyamanan Pengunjung

Dengan dilakukan revisi itu diharapkan bisa memberikan kenyamaan bagi para pedagang, terutama pengunjung agar bisa menikmati keindahan dan keunikan objek wisata Kota Tua Ampenan.

Mengenai revitalisasi Kota Tua Ampenan secara menyeluruh di luar Pantai Ampenan akan dilakukan menggunakan dana dari Bank Dunia sebesar Rp8 miliar.

Kegiatan revitalisasi dengan dana yang bersumber dari Bank Dunia juga sudah mulai berjalan, namun kegiatan difokuskan untuk penataan Kota Tua Ampenan termasuk bangunan-bangunan bersejarah yang rusak akibat gempa bumi.

Menurut Mohan, untuk perbaikan bangunan bersejarah di Kota Tua Ampenan udah ada catatan dan acuan dari Jaringan Kota Tua Indonesia tentang bagaimana dan seperti apa bangunan tersebut harus dikembalikan.

Untuk melaksanakan kegiatan penataan kawasan Kota Tua Ampenan tersebut, Pemerintah Kota Mataram sudah tidak ada masalah dengan para pemilik rumah, bahkan pemilik rumah senang karena bangunan mereka akan diperbaiki pemerintah.

Mohan mengatakan sejumlah bangunan tua yang rusak akibat gempa akan segera diperbaiki. Bangunan itu kan dikembalikan sesuai dengan bentuk semula agar ciri khas Kota Tua Ampenan tidak hilang.

Akibat bencana gempa bumi yang mengguncang Lombok pada Agustus 2018, sejumlah bangunan ikon Kota Tua Ampenan memang mengalami rusak berat.

Beberapa bangunan hingga kini masih disangga menggunakan kayu dan bambu agar tak roboh. Kondisi itu sangat mengkhawatirkan, jika ada gempa susulan sangat mungkin bakal roboh total.

Revitalisasi Kota Tua Ampenan membutuhkan dana, terutama untuk perbaikan gendung-gedung tua yang mengalami rusak berat dan rusak ringan akibat gempa beruntun sejak Juli hingga Agustus 2018

Karena itu Pemerintah Kota Mataram mengusulkan bantuan dana sebesar Rp86 miliar untuk kegiatan revitalisasi kawasan Ampenan sebagai bagian dari kota pusaka di daerah ini.

Untuk melengkapi keberadaan Kota Tua Ampenan, Pemerintah Kota Mataram akan membangun museum bahari di bekas Pelabuhan Pantai Ampenan sebagai salah satu destinasi wisata baru di kota ini.

Rencana pembangunan museum bahari itu sudah dirintis sejak tahun 2017, yang akan menggunakan gedung bekas Bank Indonesia (BI), yang juga menjadi bagian bangunan di Kota Tua Ampenan.

Saat ini Pemerintah Kota Mataram masih melakukan proses negosiasi terhadap bangunan bekas kantor BI yang berada di kawasan Pantai Ampenan.

Dalam proses negosiasi ini Pemerintah Kota Mataram melibatkan tim penaksir harga agar penetapan harga yang untuk pembelian gedung tersebut bisa sesuai dengan ketentuan.

Untuk proses pembayaran, akan dibantu Dinas Pariwisata Provinsi NTB yang juga memberikan dukungan terhadap rencana pemanfaatan gedung tersebut.

Sesuai dengan namanya, kata Mohan, museum bahari itu nantinya akan diisi dengan berbagai barang bersejarah dan dokumentasi yang berkaitan dengan kebaharian, termasuk informasi lengkap tentang sejarah bekas Pelabuhan Ampenan di masa kejayaan puluhan tahun silam.

Kehadiaran museum bahari itu nantinya diharapkan bisa menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan.

Kepala Badan Perencana Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Mataram Amirudin pihaknya telah mengajukan permohonan bantuan dana ke United Nations Development Programme (UNDP) untuk membiayai penataan Kota Tua Ampenan, termasuk untuk memperbaiki bangunan-bagunan tua yang rusak akibat gempa Lombok.

Menurut dia, anggaran tersebut direncanakan untuk melakukan revitalisasi kawasan Ampenan di antaranya penataan kembali bangunan-bangunan tua bersejarah yang rusak akibat gempa bumi dengan tetap mempertahankan ke ciri khasnya.

Dengan demikian, Kota Tua Ampenan bisa terlihat lebih rapi, tertata dan representatif sebagai salah satu destinasi wisata seperti kota tua-kota tua di daerah lain. Selain tu, dilakukan penataan pada kawasan Pantai Ampenan sebagai salah satu destinasi wisata pendukung Kota Tua Ampenan.

Amiirudin mengatakan, dalam program revitalisasi kawasan Kota Tua Ampenan, tantangan terberat yang dihadapi Pemerintah Kota, salah satunya bangunan-bangunan bersejarah itu merupakan milik pribadi bukan aset pemerintah kota.

Karena itu, katanya, dalam upaya penataan pemerintah kota harus bekerja ekstra untuk melakukan sosialisasi dan pendekatan kepada pemilik agar mau mendukung serta bekerja sama dengan pemerintah.

Kota tua dengan bangunan tua peninggalan pemerintah kolonial Belanda kini ramai dikunjungi wisatawan nusantara maupun mancanegara. Di pesisir Pantai Ampenan berjejer pedagang berbagai jenis makakan dan minuman termasuk kuliner khas Lombok.*

Baca juga: Melacak jejak Islam di Ampenan dari Masjid Lebai Sandar

Baca juga: Denyut perdagangan di Pelabuhan Ampenan


 
Pewarta : Masnun
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2019