Antara ajak pelajar mengenal sejarah kota tua Ampenan

Antara ajak pelajar mengenal sejarah kota tua Ampenan

Sejumlah warga melintas dekat bangunan tua yang berada di kawasan Kota Tua Ampenan, Mataram, NTB, Kamis (3/1/2019). LKBN Antara Biro Nusa Tenggara Barat, Minggu (3/32019} mengajak para pelajar Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 15 Mataram berkunjung ke Kota Tua Ampenan. ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi/foc. (ANTARA FOTO/AHMAD_SUBAIDI)

Mataram (ANTARA) - Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) Antara Biro Nusa Tenggara Barat, mengajak para pelajar Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 15 Mataram untuk mengenal sejarah Kota Tua Ampenan.

LKBN Antara Biro NTB mengenalkan Kota Tua Ampenan dengan mengajak para pelajar itu berkunjung ke eks dermaga pelabuhan dan sejumlah bangunan tua yang menjadi bukti sejarah di masa kejayaannya, Ahad.

Kepala LKBN Antara Biro NTB Riza Fahriza usai mendampingi para pelajar di Ampenan, menjelaskan, Kota Ampenan tumbuh dan berkembang sebagai pusat perekonomian pada masa pemerintah Kolonial Belanda pada abad ke-19.

"Masa kejayaan Ampenan terekam dalam sejarah pada abad ke-19. Tepatnya tahun 1896, Ampenan dikenal sebagai pusat bisnis perdagangan," kata Riza Fahriza.

Dengan memanfaatkan dermaga pelabuhan yang dibangun pemerintah Kolonial Belanda di kawasan pesisir barat Pulau Lombok, Kota Ampenan kemudian berkembang sebagai pusat pengendali pasar dagang untuk wilayah Indonesia bagian Timur. Hasil bumi berupa rempah-rempah, menjadi komoditas andalan dalam dunia bisnis perdagangannya.

Seiring dengan padatnya aktivitas perdagangan, Dermaga Pelabuhan Ampenan menjadi jalur alternatif bagi kapal-kapal dagang. Tidak hanya kapal dagang lintas kepulauan, Dermaga Pelabuhan Ampenan juga menjadi tempat singgahnya kapal dagang internasional.

"Bahkan hasil bumi yang berkualitas, banyak diekspor ke luar negeri," ujarnya.

Sebagai kota yang sedang berkembang di zaman pemerintah Kolonial Belanda, Ampenan banyak dihuni oleh penduduk luar dari beragam etnis. Jejak penyebarannya terlihat dari nama-nama kampung yang berada di sekitar kawasan dermaga pelabuhan, seperti Kampung Melayu, Kampung Banjar, Kampung Bugis, Kampung Arab, dan juga komplek pecinan.

Dengan keragaman etnis yang hadir di Ampenan, menimbulkan adanya akulturasi budaya. "Jadi umumnya masyarakat Ampenan kala itu menggunakan bahasa Melayu sebagai bahasa keseharian," ucapnya.

Kemudian bukti lain sejarah kejayaan Kota Ampenan, dapat terlihat dari gaya arsitektur bangunan tuanya yang masih berdiri kokoh. Dengan arsitektur bergaya Belanda, banyak bangunan yang berdiri di sekitar kawasan dermaga pelabuhan.

Mulai dari Bank Dagang Belanda, gudang-gudang penyimpanan barang dagang, komplek pecinan di sepanjang Jalan Pabean. Kemudian Kelenteng Po Hwa Kong, dan kantor pegadaian di simpang lima Ampenan, menjadi bukti bahwa perekonomian kala itu berkembang pesat.

Sementara itu, Guru Bahasa Indonesia SMPN 15 Mataram Sahra, yang ikut mendampingi anak didiknya mengenal sejarah Kota Tua Ampenan bersama LKBN Antara Biro NTB, mengaku sangat terkesan dengan ide ini.

"Kami sangat berterima kasih kepada Antara yang sudah mengenalkan kepada anak didik kami tentang sejarah Kota Tua Ampenan. Kegiatan ini juga memberikan bekal kepada mereka untuk berkompetisi dalam ajang Festival Literasi Sekolah tingkat nasional," kata Sahra.

Menurut guru yang juga berperan sebagai pembina Olimpiade Bahasa Indonesia di SMPN 15 Mataram, kegiatan ini dapat menjadi alternatif dalam menerapkan metode pembelajaran di sekolah, khususnya di bidang mata pelajaran sejarah.

"Karena selama ini hanya teori saja yang mereka dapatkan di sekolah. Tapi dengan kegiatan ini, turun langsung ke lapangan, mereka bisa lebih mengenal dan paham tentang sejarah," ujarnya.

Ke depan,  Sahra akan mendorong pihak sekolah untuk menerapkan kegiatan semacam ini dalam program belajar-mengajar.

Baca juga: Revitalisasi Kota Tua Ampenan dan potensi wisata sejarah
Baca juga: Catatan keharmonisan di Kota Tua Ampenan
Baca juga: Kota tua Ampenan akan diusulkan menjadi cagar budaya

 
Pewarta : Dhimas Budi Pratama
Editor: Budhi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019