Debat capres dan penurunan angka golput

Debat capres dan penurunan angka golput

Pasangan capres-cawapres nomor urut 01 Joko Widodo (tengah) dan Ma'ruf Amin (kiri) berjabat tangan dengan capres nomor urut 02 Prabowo Subianto seusai mengikuti debat kelima di Hotel Sultan, Jakarta, Sabtu (13/4/2019). Debat kelima tersebut mengangkat tema Ekonomi dan Kesejahteraan Sosial, Keuangan dan Investasi serta Perdagangan dan Industri. ANTARA FOTO/Wahyu Putro A/pras. (ANTARA FOTO/WAHYU PUTRO A)

Jakarta (ANTARA) - Debat kelima pasangan calon presiden dan wakil presiden pada Sabtu (13/4) malam mengakhiri rangkaian debat Pilpres 2019. Tema debat terakhir, yang menampilkan kedua pasangan calon, yakni nomor urut 01 Joko Widodo dengan Ma'ruf Amin dan nomor urut 02 pasangan Prabowo Subianto dengan Sandiaga Salahuddin Uno itu, adalah ekonomi dan kesejahteraan sosial, keuangan dan investasi serta perdagangan dan industri.

Empat rangkaian debat sebelumnya adalah, debat pertama pada 17 Januari 2019 dengan tema mengangkat tema hukum, HAM, korupsi, dan terorisme. Debat kedua berlangsung pada 17 Februari 2019 dengan tema energi dan pangan, sumber daya alam dan lingkungan hidup, dan infrastuktur.

Debat ketiga dilaksanakan pada 17 Maret 2019 dengan tema pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan serta sosial dan kebudayaan. Debat keempat pada 30 Maret 2019 bertema ideologi, pemerintahan, pertahanan dan keamanan serta hubungan internasional.

Berakhirnya debat yang disiarkang secara langsung sejumlah stasiun televisi tersebut sekaligus pula mengakhiri rangkaian kampanye Pilpres 2019 dan mulai Minggu, 14 April hingga Selasa, 16 April memasuki masa tenang, sebelum dilaksanakannya pencoblosan untuk Pemilu Legislatif dan Pemilihan Presiden atau Pilpres 2019 pada Rabu, 17 April.

Komisi Pemilihan Umum (KPU) selaku penyelenggara debat capres dan cawapres tentu berharap ajang itu mampu mencapai tujuan yang diharapkan, yakni publik dapat melihat dan mengetahui secara luas mengenai visi dan misi kedua pasangan capres - cawapres yang akan berkompetisi pada pemilihan umum mendatang.

Selanjutnya, diharapkan para pemilih yang hingga kini belum memutuskan pilihannya (undecided voters) untuk dicoblos dan para pemilih yang masih mungkin berubah pilihannya (swing voters) bisa menjadikan ajang debat capres - cawapres tersebut sebagai referensi untuk menilai kemudian dijadikan dasar dalam menentukan pilihannya.

Lalu bagaimana dengan para pemilih yang sejak awal sudah memutuskan untuk tidak memilih atau golput (golongan putih)? Akan kah mereka bisa berubah pikiran setelah menyaksikan lima kali ajang debat capres dan cawapres?

Kedua pasangan capres dan cawapres telah menunjukkan kualitasnya masing-masing dalam penguasaan isu-isu terkait, walaupun tentu saja masih ada plus dan minusnya.

Misalnya, capres dan cawapres nomor urut 01 Jokowi dengan Ma’ruf Amin yang menyampaikan visi misinya dengan cukup agresif sambil menyampaikan capaian kerjanya selama ini, selaku sosok petahana.

Demikian pula pasangan nomor urut 02 Prabowo Subianto dengan Sandiaga Salahuddin Uno, juga telah menyampaikan konsep dan visi-misi serta solusi dari berbagai persoalan bangsa yang akan dihadapi bersama ke depan, jika mereka terpilih dalam Pilpres 2019.

Sementara itu, Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo dalam sebuah kesempatan menegaskan bahwa pemerintah terus berupaya memaksimalkan jumlah pemilih pada Pemilu 2019, dengan mengajak seluruh masyarakat yang memiliki hak pilih, saling mengajak untuk mencoblos pada 17 April.

Mendagri mengaku optimistis bahwa tingkat golput akan terus berkurang, meskipun tidak mungkin hilang 100 persen karena golput juga adalah sebuah pilihan.

Golput memang merupakan fenomena dalam ajang demokrasi yang biasa terjadi di manapun dengan era pemilihan langsung seperti sekarang ini.

Ada sejumlah hal yang membuat orang memutuskan tidak memilih (golput). Pertama, karena namanya tidak masuk dalam daftar pemilih tetap (DPT) dan karena faktor kesibukan atau bekerja saat hari pencoblosan. Meski oleh pemerintah sudah dibuka kesempatan untuk mengurusnya agar dapat memilih, namun kenyataannya banyak yang malas mengurusnya.

Alasan golput lainnya adalah karena menganggap calon-calon yang ada tidak sesuai dengan ekspektasi yang mereka inginkan, sehingga pemilih sengaja tidak mau datang ke tempat pemungutan suara (TPS).

Selain itu, ada pula pemilih yang menganggap pemilu tidak penting karena tidak sejalan atau tidak berdampak langsung dengan tingkat kesejahteraannya.

Di sisi lain, sejumlah pengamat menilai, jumlah golput pada Pemilu 2019 tidak akan meningkat dibanding pada Pemilu 2014, karena pelaksanaan Pilpres 2019 digabung dengan pelaksanaan pemilu legislatif secara serentak.

Menurunkan golput

Salah satu tujuan dilakukannya debat capres adalah untuk mengurangi angka golput. Karena itu, kualitas jalannya debat capres menjadi sangat penting.

Hingga lima kali pelaksanaan debat, penampilan dua pasangan capres-cawapres, nomor urut 01 JokoWidodo - KH Ma’ruf Amin dan nomor urut 02 Prabowo - Sandi cukup mendapat perhatian masyarakat luas.

Meskipun pendapatkan perdebatan itu cukup beragam, namun setidaknya visi misi kedua pasangan calon telah disampaikan kepada publik di seluruh Tanah Air.

Karena itu, peran media massa dalam menginformasikan berita-berita pemilu dan pilpres serentak, termasuk debat capres dan cawapres, sangat penting.

Di samping peran penyelenggara pemilu dan peserta pemilu, peran media sangat besar untuk menekan angka golput melalui sosialisasi yang dilakukan medianya. Sejumlah media yang memberitakan tentang antusias warga yang menyambut gembira pelaksanaan pemilu patut dihargai.

Antusias warga dalam menyambut pemilu masih tergolong sangat besar, seperti terlihat di daerah terpencil yang jauh dari keramaian, penyandang disabilitas, narapidana di sejumlah lembaga pemasyarakatan, serta para petugas keamanan yang tetap menggunakan hak pilihnya, meskipun harus bekerja, dan lain-lain.(*)

Pewarta : Arief Mujayatno
Editor: Masuki M. Astro
COPYRIGHT © ANTARA 2019