Resensi: Menyaksikan film horor sambil tertawa di "Ghost Writer"

Resensi: Menyaksikan film horor sambil tertawa di

Peluncuran perdana film "Ghost Writer" di Jakarta, Selasa (28/5/2019) (ANTARA News/Maria Cicilia Galuh)

Jakarta (ANTARA) - Film horor identik dengan sesuatu yang mengejutkan dan menyeramkan, namun ketika menyaksikan "Ghost Writer", Anda akan mendapatkan pengalaman baru yang cukup menyenangkan yakni takut, tertawa sekaligus menangis.

"Ghost Writer" adalah sebuah film bergenre komedi horor dan ditambah dengan bumbu drama. Film ini bercerita tentang Naya (Tatjana Saphira) yang baru saja pindah ke sebuah rumah tua milik Slamet Rahardjo.

Naya yang kehabisan ide untuk menulis novel, menemukan sebuah buku harian tua milik Galih (Ge Pamungkas) yang sudah meninggal karena gantung diri. Kisah hidup Galih ternyata menginspirasi Naya untuk membuat sebuah novel. Galih pun menampakkan diri pada Naya dan akhirnya malah bekerja sama untuk menghasilkan novel berjudul "Maaf Terakhir".

Namun Bening (Asmara Abigail) adik dari Galih yang juga sudah meninggal karena kecelakaan tidak setuju dengan penerbitan buku itu. Dia pun melakukan sesuatu yang menakutkan untuk membatalkan niat Naya dalam menerbitkan novel tersebut.

Setidaknya ada tiga hal yang ingin ditonjolkan dari "Ghost Writer" yakni horor, komedi serta drama dan Bene Dion Rajagukguk sebagai sutradara mampu menerjemahkan ketiganya dengan sempurna. Bene tahu betul di mana meletakkan bagian yang harus horor, lucu dan drama.

Horor

Meski ada unsur komedi dan dramanya, horor di film ini tetap terasa, khususnya saat kedatangan Bening yang cukup mengejutkan bahkan film ini juga menggunakan efek-efek yang biasa digunakan dalam film horor. Belum lagi riasan untuk hantu Bening yang menguatkan bahwa ini adalah sebuah film horor.

Akting dari Asmara Abigail juga patut diacungi jempol. Meski terlihatnya hanya sepotong-sepotong namun dia mampu memperlihatkan karakternya melalui ekspresi wajah baik ketika sedang marah ataupun sedih.

Komedi

Film ini juga diperkuat oleh para komika seperti Ge Pamungkas, Arie Kriting, Muhadkly Acho, Arief Didu dan juga Ernest Prakasa yang juga bertindak sebagai produser. Ada juga Asri Welas dan pemain baru Moh Iqbal Sulaiman yang menambah kelucuan.

Dengan deretan nama tersebut, sudah dipastikan bahwa film ini cukup mengocok perut, bahkan Ge yang berperan sebagai hantu pun tetap memberikan kontribusi dalam memancing tawa. Tapi tentu porsinya tidak terlalu banyak, sebab perannya di sini bisa dibilang cukup serius.

Drama

Sama seperti Ernest, Bene juga mampu menghadirkan drama yang sangat menyentuh. Permasalahan keluarga yang ditampilkan begitu dekat dengan masyarakat. Jangan heran jika tiba-tiba Anda meneteskan air mata padahal sebelumnya tertawa atau ketakutan. Dialog dan adegannya membuat emosi naik turun.

Terlepas dari tiga tema tersebut, hampir semua karakter di film ini memiliki peran yang menonjol. Walaupun ada pemain perannya sedikit namun semua memiliki momen yang spesial. Misalnya tokoh Billy yang diperankan oleh Moh Iqbal Sulaiman, meski hanya beberapa kali nongol, namun adegan yang dimainkannya begitu terekam diingatan.

"Ghost Writer" mulai tayang pada 4 Juni 2019. Sebenarnya ada beberapa film Indonesia lain yang juga tayang di tanggal yang sama seperti "Hit & Run" dan "Si Doel The Movie". Namun dengan tema horor komedi yang bisa dibilang cukup jarang di Indonesia, film ini memiliki daya tarik yang tinggi ditambah lagi dengan jalan cerita yang sangat apik.

Baca juga: Pesan Ernest Prakasa di Hari Film Nasional: Tonton yang orisinal

Baca juga: Ernest Prakasa pertimbangkan berhenti jadi aktor

 
Pewarta : Maria Cicilia
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019