200 anak imigran siap bersekolah di SD Pekanbaru

200 anak imigran siap bersekolah di SD Pekanbaru

Imigran Gelap Afghanistan Seorang remaja puteri imigran gelap asal Afghanistan berada di Kantor Imigrasi (Kanim) Pekanbaru, Riau, Rabu (15/6/2016). Sekitar seratus imigran gelap asal Afghanistan kembali menduduki halaman Kanim Pekanbaru sebagai tempat tinggal sementara, yang didominasi anak - anak dibawah umur yang terancam kesehatannya akibat lingkungan yang tidak higienis. (ANTARA FOTO/Aswaddy Hamid)

Pekanbaru (ANTARA) - Dinas Pendidikan Kota Pekanbaru siap menampung sekitar 200 anak dari keluarga imigran yang mencari suaka politik ke wilayah setempat pada Sekolah Dasar Negeri (SDN) yang ada.

"Kami akan mulai menempatkan anak-anak imigran itu pada tahun ajaran baru 2019/2020," kata Kepala Dinas Pendidikan Kota Pekanbaru Abdul Jamal di Pekanbaru, Minggu.

Abdul Jamal menjelaskan kebijakan ini dilakukan atas perintah Kemenkumham dan Kemendiknas dimana Kota Pekanbaru yang menjadi lokasi penampungan dan singgahnya imigran yang memiliki anak-anak usia sekolah.

"Pekanbaru diminta berpartisipasi untuk memberikan tempat bagi anak-anak imigran usia sekolah agar mendapat pendidikan," tuturnya.

Sambil menunggu mendapatkan negara suaka, mereka sebaiknya bersekolah supaya tidak menjadi masalah sosial.

"Ini merupakan tindaklanjut pertemuan di Jogyakarta di mana Pekanbaru menjadi lokasi penampungan imigran, selain Medan," katanya.

Jamal menyebutkan untuk semua biaya sekolah tentunya harus bayar dan itu ditanggung oleh Intenational Organization Migration (IOM). Ini adalah salah satu lembaga khusus imigran di PBB (UNHCR).

"Jadi, kita hanya menyalurkan atau memfasilitasi saja," ujarnya.

Jamal menambahkan tentunya syarat utama untuk anak-anak yang akan bersekolah wajib bisa berbahasa Indonesia. Selain akan ada pendampingan nantinya. Tujuannya agar anak-anak bisa berbaur dan mengikuti pelajaran. Adapun lokasi sekolah akan disesuaikan di sekitar tempat penampungan.

"Sistemnya kami titip saja. Sekolah yang disasar tentulah yang muridnya kurang. Ada yang kami titip tiga orang di satu sekolah, atau bisa lebih. Sesuai dengan jumlah yang bisa di sekolah itu," ujarnya.

Diakui Jamal, banyak sisi positif dari rencana ini. Anak-anak ini tentu tak lagi jadi anak tanpa pendidikan. Selain itu, mereka bisa perdalam Bahasa Indonesia juga budaya kita. Sebaliknya, anak-anak SD negeri tersebut bisa pula belajar Bahasa Inggris.

"Anak-anak imigran ini kan pintar berbahasa Inggris. Nah, anak-anak kita bisa pula belajar dan saling dapat keuntungan," pungkas Jamal.

Baca juga: IOM kunjungi Medan layani anak-anak pengungsi imigran

Baca juga: 239 pengungsi di Pekanbaru masih anak-anak
 
Pewarta : Vera Lusiana
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2019