Fatmawati Jakarta yang hampir mati, kini hidup kembali

Fatmawati Jakarta yang hampir mati, kini hidup kembali

Mural besar pada tiang jalur transportasi moda raya terpadu (MRT) bergambarkan mendiang maestro pelukis Indonesia Basoeki Abdullah sekaligus menunjukkan arah menuju museum Basoeki abdullah, Cilandak, Jakarta Selatan, Kamis (4-7-2019). (Foto: Pamela Sakina)

Jakarta (ANTARA) - Transportasi moda raya terpadu (MRT) yang rampung pada tahun 2019 menghidupkan kembali perekonomian berbagai jenis usaha di kawasan Fatmawati, Jakarta Selatan.

Kawasan Fatmawati, terutama di Jalan RS Fatmawati Raya merupakan salah satu ruas jalan utama di Jakarta Selatan.

Di sana juga terdapat rumah sakit besar yang amat tenar bernama Rumah Sakit Fatmawati. Nama Fatmawati muncul ketika Fatmawati Soekarno yang saat itu sebagai Ibu Negara Republik Indonesia memberi gagasan untuk mendirikan sebuah rumah sakit khusus tuberkulosis bagi anak-anak.

Baca juga: Fatmawati Soekarno diabadikan jadi nama rumah sakit

Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI, 12 April 1961 fungsi rumah sakit berubah menjadi rumah sakit umum. Pada tanggal 23 Mei 1967 Ali Sadikin, Gubernur DKI Jakarta pada waktu itu, meresmikan perubahan nama RSU Ibu Soekarno menjadi RS Fatmawati sekaligus pemberian nama Jalan RS Fatmawati Raya.

Sejak dahulu, daerah ini juga terkenal dengan rentetan pertokoan dan kulinernya yang beragam juga legendaris. Menjadikannya salah satu pusat niaga sibuk di Jakarta Selatan.
Suasana pembangunan dari atas proyek pembangunan sarana transportasi massal mass rapid transit (MRT) di Jalan Fatmawati, Jakarta Selatan, Jumat (23-10-2015). MRT Tahap I (Lebak Bulus-Bundaran HI) yang memiliki panjang total 15,7 km dengan menghabiskan biaya Rp15 triliun tersebut diproyeksikan selesai pada tahun 2018. (ANTARA FOTO/Reno Esnir/foc/15)

Namun, sebelum proyek MRT rampung, pembangunan tersebut membuat perekonomian kawasan Fatmawati lumpuh. Langit Fatmawati kala itu keruh, mata terasa buram cokelat keabu-abuan akibat embusan tanah dan pasir yang terus mengepul dari proyek pembangunan bercampur asap knalpot kendaraan yang berdesakan.

Sinar matahari sangat terasa seperti di atas kepala akibat gersangnya daerah itu, aspal jalan kawasan Fatmawati pun bergelombang, ditambah penyempitan jalan karena dipagari pembatas proyek. Adanya proyek tersebut membuat kawasan ini selalu macet, hampir tidak ada lagi ruang berhenti untuk mampir ke toko sekitar sehingga tidak sedikit toko-toko di sana gulung tikar.

"Wah, dahulu ini semua toko-toko tutup dipasangi tulisan besar-besar 'disewakan' ada yang 'dijual', ya, habis bagaimana, ya, kondisinya semrawut," kata Firman, warga Fatmawati yang telah tinggal di sana selama 36 tahun, Kamis (4/7).

Pemerintah setempat pada tahun 2015 juga sempat melakukan pembongkaran toko-toko di area itu untuk membangun tiang-tiang besar setinggi kisaran 23 meter. Tiang jalur MRT tersebut yang saat ini membentang dari wilayah Lebak Bulus hingga kawasan Sisingamangaraja, Jakarta Selatan.

Proyek MRT rampung
Suasana kawasan Fatmawati, sekitar stasiun MRT Cipete Raya, Cilandak, Jakarta Selatan, Kamis (4-7-2019). Aspal jalan terlihat rata dan nyaman, para pejalan kaki yang turun dari stasiun MRT dapat langsung mampir ke toko maupun kedai-kedai makanan sekitar. (Foto: Pamela Sakina)

Kurang lebih 5 tahun berlalu, proyek transportasi kebanggaan Jakarta saat ini pun rampung. Pada hari Minggu, 24 Maret 2019, Presiden RI Joko Widodo akhirnya meresmikan MRT.

Sebelumnya, Country Manager Rumah.com Marine Novita sempat berkalkulasi, menurut dia, terealisasinya MRT Jakarta fase 1 akan mendongkrak harga properti karena meningkatkan konektivitas, akses masyarakat, dan memangkas waktu perjalanan.

"Harga tanah dan aset properti di sekitar wilayah Jalan Thamrin, Sudirman, Blok M, Fatmawati, dan T.B. Simatupang yang dilalui jalur MRT ini akan terdongrak. Sementara itu, wilayah sekitar Lebak Bulus dan T.B. Simatupang bisa menjadi kawasan pusat niaga baru di Jakarta Selatan,” ujarnya.

Benar saja, setelah MRT beroperasi perekonomian daerah tersebut mulai hidup kembali, seperti salah satunya dirasakan oleh pemilik pujasera Warong Manado “Warman” Neta.

“Dampaknya luar biasa, banyak pengunjung yang berdatangan, bahkan tenan-tenan yang saya sewakan ini langsung penuh,” ujar Neta sambil membelalakkan matanya bersemangat.

Pemilik pujasera di kawasan Fatmawati, tepat depan stasiun MRT Cipete Raya, Jakarta Selatan ini mengatakan bahwa kebanyakan pengunjung datang tidak membawa kendaraan pribadi, tetapi turun dari stasiun MRT.

"Bahkan, mereka kadang datang berbondong-bondong. Ketika kereta sampai, semuanya 'kan turun bersamaan," tambahnya.
Agus (depan), penjual kuliner khas Jawa Timur "Pawon Memez" di kawasan Fatmawati, tepatnya depan Stasiun MRT Cipete Raya, Cilandak, Jakarta Selatan, Kamis (4-7-2019). (Foto: Pamela Sakina)

Selain Neta, ada pula Agus penjual makanan tidak jauh dari stasiun MRT Cipete Raya. Ia menjajakan ragam makanan khas Jawa Timur, seperti lontong kupang, lontong balap, tahu tek, tahu campur, dan tahu petis. Ia mengatakan bahwa pengunjung yang datang ke kedainya semakin ramai sejak proyek MRT rampung.

“Apalagi, malam lebih ramai, banyak juga bisnis-bisnis baru yang muncul di sekitar sini,” ucap Agus.

Sementara itu, pengguna MRT Nadia menunjukkan pernyataan yang senada. Setelah turun dari stasiun MRT Fatmawati, dia menyempatkan diri untuk mencari makanan di sekitar stasiun.

”Dahulu waktu MRT masih dibangun, saya naik ojek, jadi hanya melintas saja, malas berhenti soalnya macet. Sejak ada MRT, saya turun di sini (stasiun MRT Fatmawati) sekalian makan dahulu di dekat stasiun baru pesan ojek,” kata Nadia.

Museum Basoeki Abdullah
Seorang pengunjung hendak memasuki gedung Museum Basoeki Abdullah di Cilandak, Jakarta Selatan, Kamis (4-7-2019). (Foto: Pamela Sakina)


Dampak positif MRT juga dirasakan Museum Baseoki Abdullah, Cilandak, Jakarta Selatan berupa peningkatan jumlah pengunjung.

“Tentu ada peningkatan, misal yang tadinya sekitar 500 orang menjadi 700 orang, ya, masih proseslah,” kata Kepala Museum Basoeki Abdullah Maeva Salmah saat ditemui ANTARA di kantornya, Kamis.

Lokasi museum yang merupakan bekas rumah mendiang Basoeki Abdullah, maestro pelukis Indonesia, sangat berdekatan dengan stasiun MRT Fatmawati sehingga jumlah pengunjung museum meningkat.

Bahkan, saat ini nama Museum Basoeki Abdullah sudah tertera pada stasiun MRT Fatmawati sebagai destinasi terdekat.

Selain tulisan pada stasiun MRT Fatmawati, terdapat pula dua mural besar bergambar mendiang Basoeki Abdullah pada tiang MRT. Mural tersebut sekaligus menunjukkan arah menuju lokasi museum.

Maeva berharap dengan adanya banyak informasi mengenai museum dan kemudahan akses akibat MRT, kunjungan museum Basoeki Abdullah terus meningkat.

Baca juga: MRT beri imbas positif pada Museum Basoeki Abdullah

Masa yang akan datang

Masalah lumpuhnya kawasan Fatmawati telah usai, perekonomiannya pun terus membaik berkat MRT. Lima tahun mendatang, PT MRT Jakarta menargetkan pembangunan MRT fase 2 Koridor Bundaran HI sampai dengan Kota akan selesai.

"Fase 2 MRT sudah dimulai. Target kalau semua berjalan sesuai dengan rencana, sampai ke Kota itu akan diselesaikan pada tahun 2024," kata Direktur Utama PT MRT Jakarta William Sabandar di Jakarta, Rabu (19/6).

Biaya anggaran Rp22,5 triliun pun sudah disiapkan. Dana ini seluruhnya merupakan pinjaman lunak dari Jepang.

William menyebutkan sejumlah paket proyek MRT fase 2 sudah dimulai dan sedang dalam proses lelang, seperti pembangunan substation di Monas.

Proyek fase 2 MRT Jakarta Bundaran HI-Kota ini diperkirakan memiliki jarak sekitar 8,3 Km dan estimasi waktu tempuh sekitar 20 menit.

Baca juga: Jakarta butuh tempat penitipan sepeda di stasiun MRT dan Transjakarta
Pewarta : Pamela Sakina
Editor: D.Dj. Kliwantoro
COPYRIGHT © ANTARA 2019