Mencoba berdamai dengan kabut asap

Mencoba berdamai dengan kabut asap

Sejumlah pengendara melintasi jalan yang diselimuti kabut asap di Pontianak, Kalbar, Senin (20/8/2018). ANTARA FOTO/Jessica Helena Wuysang/)

Pontianak (ANTARA) - Cuaca panas dirasakan hampir sepanjang hari oleh warga Kota Pontianak dan sekitarnya beberapa waktu belakangan. Warga yang biasanya tak cepat-cepat mandi saat terbit matahari, kini mengubah kebiasaan tersebut menjadi rajin mandi pagi. Alasannya, karena kepanasan.

Saking panasnya cuaca, saat mengecek suhu, ternyata menunjukkan angka 35 derajat Celsius.

Medio Maret 2019, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) merilis prakiraan cuaca bahwa puncak musim kemarau 2019 akan terjadi pada Agustus mendatang. Namun sejumlah wilayah di Indonesia akan mengalami kemarau lebih cepat, mulai April hingga Juli 2019.

Di Kalimantan Barat kemarau sudah dimulai pada April, dan ketika tidak ada curah hujan selama beberapa hari, maka cuaca panas muncul di Kalbar, terutama di Kota Pontianak.

Jika hanya udara panas yang dirasakan, warga dapat menguranginya dengan menyalakan kipas angin atau alat pendingin ruangan.

Tetapi kondisi akan berlainan jika bukan hanya panas saja, melainkan juga disertai terbakarnya lahan gambut. Karena setelah itu, tak lama kemudian akan disusul dengan munculnya kabut asap.

Dokumen rencana perlindungan dan pengelolaan ekosistem gambut (RPPEG) Kalbar tahun 2016 menyebut provinsi ini memiliki 14 kawasan hidrologis gambut dengan luas 2,8 juta hektare.

Sumber lainnya, yakni Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian menyebutkan luas lahan gambut di Kalbar berada di urutan keempat terluas di Indonesia, yakni mencapai 1,8 juta hektare.

Sedangkan luas wilayah Kalbar sendiri adalah 14,7 juta hektare atau 146.807 kilometer persegi. Wilayah bergambut tersebar di  sejumlah kabupaten/kota, di antaranya Kota Pontianak, Kabupaten Kubu Raya, Mempawah, Ketapang, dan Landak.

Jika beberapa wilayah bergambut mengalami kebakaran baik itu hutan maupun lahan, maka proses pemadaman akan memakan waktu lama. Semakin luas kawasan bergambut yang terbakar, akan semakin sulit pula untuk dipadamkan.

Proses pemadaman yang menggunakan air, justru memicu munculnya asap tebal atau kabut asap.

Pada gambut yang proses awal terbentuknya dari sisa-sisa pohon yang membusuk, jika semakin tebal dan luas (gambut muda) maka api yang memakannya akan semakin sulit untuk dipadamkan.

Gambut yang diketahui memiliki kandungan karbon tinggi, jika terbakar akan terjadi peningkatan emisi karbon dioksida (CO2). Pelepasan CO2 ke atmosfer dapat memunculkan efek gas rumah kaca yang berbahaya bagi pemanasan global.

Selain berdampak global, asap yang muncul dari terbakarnya gambut juga berbahaya bagi warga Kalbar. Seorang penderita asma atau penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) dan gangguan pernapasan lainnya, harus bersiaga kalau-kalau kabut asap muncul.

Karena tak dapat mencegah munculnya kabut asap, maka mereka mencoba untuk "berdamai" dengan kabut asap.

Karena kabut asap hampir dipastikan akan terjadi setiap tahunnya, terutama di Kota Pontianak. Jika tak hujan dalam sepekan saja, sebagian wilayah kota akan diselimuti kabut asap. Sementara pemerintah sampai saat ini belum berhasil mengatasinya.

Seperti pernyataan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo saat Rapat Koordinasi kementerian dan lembaga terkait mengenai kesiapan menghadapi kebakaran hutan dan lahan di Jakarta, Kamis (4/7).

Kepala BNPB menyatakan, bahwa 99 persen kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di Indonesia disebabkan oleh manusia dan hanya 1 persen yang disebabkan oleh faktor alam.

Cara-cara pemadaman karhutla dengan water bombing, modifikasi cuaca, dan pemadaman darat, masih belum berhasil karena kedalaman gambut yang terbakar berkisar antara 10-36 meter.

Baca juga: Kabut asap tebal kembali selimuti kota Pontianak
Baca juga: Sekolah di Pontianak diliburkan karena asap karhutla

Upaya perlindungan

Seorang penderita asma akan merasakan kondisi tak nyaman berlebihan jika ada kabut asap. Tapi karena kabut asap selalu ada sepanjang tahunnya pada saat musim kemarau, maka ia harus berupaya melindungi dirinya sendiri.

Jika ia berada di dalam rumah yang telah dimasuki asap dari lahan gambut yang terbakar, yang bisa dilakukan untuk upaya perlindungan jangka pendek agar sakitnya tidak kambuh, salah satunya dengan menetap di dalam ruang tertutup yang sedikit terpapar asap. Misalnya di dalam kamar.

Ia dapat menyalakan alat pengatur suhu udara seperti air conditioner (AC) atau menggunakan kipas angin listrik. Dan ketika keluar kamar (walaupun masih di dalam rumah), ia dianjurkan mengenakan masker pelindung hidung dan mulut.

Macam-macam masker dari bahan kain dan fiber seharusnya sudah tersedia di rumah.

Dokter Risa Febriana, Sp.P, dari Rumah Sakit Umum Daerah Dr Soedarso Kalbar menyatakan penggunaan masker sangat penting untuk mengurangi paparan asap.

"Penggunaan masker bukan hanya untuk penderita gangguan pernapasan seperti asma, tetapi juga untuk warga yang sehat, ketika kabut asap muncul, menjadi suatu yang penting," katanya menjelaskan.

Karena di dalam kabut asap terdapat partikel yang berbahaya bagi kesehatan. Partikel berbahaya itu di antaranya adalah CO2 dan karbon monoksida (CO), juga ada N2O, NOx, dan logam berat lainnya.

Pegawai fungsional pada Dinas Kesehatan Kalbar ini mengatakan, saat asap masuk lewat hidung, akan ada yang terasa gatal di hidung dan memunculkan pilek.

"Dari hidung, ke tenggorokan dan saluran pernapasan. Ke tenggorokan bisa membuat gatal-gatal di tenggorokan atau sakit seperti iritasi. Kalau ke saluran pernapasan, bisa sesak napas," katanya lagi.

Untuk yang punya riwayat asma, lanjutnya lagi, bisa terjadi sesak napas, karena saluran napasnya menjadi sempit sebagai reaksi alergi terhadap asap.

Ia menganjurkan agar penderita asma tak keluar rumah saat kabut asap muncul. Jika pun terpaksa harus keluar rumah karena alasan pekerjaan atau keperluan penting lainnya, maka masker pelindung hidung harus tetap dikenakan.

Dokter spesialis paru itu menyatakan, penggunaan inhaler dan nebulizer bagi penderita asma atau penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) yakni penyakit peradangan paru yang berkembang dalam jangka waktu panjang, merupakan upaya pertolongan pertama.

"Tetapi jika sudah tidak membaik atau pulih, maka penderita asma itu harus dibawa ke dokter atau rumah sakit," katanya mengingatkan.

Selain penggunaan masker baik saat di rumah maupun luar rumah, Dr Risa menganjurkan agar mereka yang terpapar kabut asap, lebih banyak minum air putih dan makan makanan yang mengandung antioksidan. Baik sayuran maupun buah-buahan.

Sayuran yang mengandung anti oksidan seperti bayam, bawang putih, tomat dan wortel, dan lain-lain. Sedangkan buah-buahan seperti plum, strawberry, dan kiwi, dan lain-lain.

Karena itu, selama kesadaran akan perlindungan kesehatan dari bahaya kabut asap masih rendah di masyarakat, ditandai dengan masih terjadinya aktivitas pembakaran hutan dan lahan gambut  untuk membuka lahan perkebunan, maka warga tampaknya masih harus "berdamai" dengan kabut asap.

Dan  selama pemerintah belum berhasil mengatasi kabut asap, yang bisa dilakukan  penderita asma atau PPOK adalah dengan melindungi diri sendiri dan lagi-lagi berdamai dengan kabut asap.  

Jika pun kabut asap semakin tebal dan tak ada tempat berlindung lagi di rumah, maka alternatif lainnya adalah mengungsi ke daerah tak berkabut asap.  

Baca juga: Singapura berterima kasih pada Indonesia tidak ada asap lintas batas
Baca juga: Asap lintas batas negara jadi sejarah, sebut Kepala BRG
 
Pewarta : Nurul Hayat
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2019