Presiden Abbas umumkan akhir kerja sama dengan Israel

Presiden Abbas umumkan akhir kerja sama dengan Israel

Seorang pengunjuk rasa membawa bendera Palestina dan foto mantan pemimpin Palestina Yasser Arafat dan Presiden Mahmoud Abbas saat protes terhadap lokakarya Bahrain untuk rencana perdamaian Amerika Serikat, dekat perumahan Yahudi Beit El, di Tepi Barat, Senin (24/6/2019). (REUTERS/MOHAMAD TOROKMAN)

Ramallah, Palestina (ANTARA) - Presiden Palestina Mahmoud Abbas dalam satu pertemuan pimpinan Palestina pada Kamis malam (25/7) mengumumkan berakhirnya kerja sama mengenai kesepakatan dengan Israel dan dihentikannya pekerjaan mengenai semua kesepakatan yang ditandatangani.

"Setelah semua pelanggaran yang dilakukan terhadap rakyat kita, kami mengumumkan dihentikannya semua kesepakatan yang ditandatangani dengan Israel," tulis Abbas di dalam cuitan pada Kamis.

Abbas menekankan bahwa penghentian juga akan meliputi "kerja sama keamanan" antara Pemerintah Otonomi Palestina (PA) dan rejim Tel Aviv.

Abbas mengeluarkan pengumuman tersebut setelah pertemuan darurat yang diadakan di markas presiden di Kota Ramallah di Tepi Barat Sungai Jordan pada Kamis.

Kantor Berita Resmi Palestina, WAFA --yang dipantau Antara di Jakarta, Jumat malam, sebelumnya melaporkan pertemuan itu telah ditunda untuk membahas pemblokiran Israel atas uang pajak PA, berlanjutnya pembangunan permukiman dan pengusiran orang Palestina.

Selama pertemuan tersebut, presiden Palestina itu mengatakan pimpinan PA telah memutuskan untuk meletakkan "mekanisme" guna membentuk satu komite yang melaksanakan keputusan tersebut di tengah berlanjutnya "pelanggaran Israel".

"Penguasa pendudukan Israel telah memutuskan untuk mengabaikan semua kewajibannya sejalan dengan kesepakatan yang ditandatanganinya. Israel terus membunuh warga sipil Palestina, menangkapi mereka, menghancurkan rumah mereka dan menyita tanah mereka," kata Abbas di dalam pertemuan itu.

Abbas juga mencela "kesepakatan abad ini", yang dirancang Israel, sebagai pelanggaran nyata lain terhadap rakyat Palestina.

"Kita takkan hidup berdampingan dengan penguasa pendudukan dan kita tidak tidak akan menyepakatan 'kesepakatan abad ini', atau 'tamparan abad ini' atau 'kesepakatan memalukan' --semua nama untuk satu judul. Palestina dan Jerusalem tidak dijual atau bisa ditawar. Semua itu bukan 'kesepakatan real estate' di perusahaan real estate'," katanya.

Sumber: WAFA
Baca juga: Presiden Abbas serukan pertemuan mendesak pemimpin Palestina
Baca juga: Abbas puji sikap Rusia, China soal Palestina
Baca juga: Kushner: Kesepakatan Palestina-Israel tak sejalan inisiatif damai Arab
Pewarta : Chaidar Abdullah
Editor: Maria D Andriana
COPYRIGHT © ANTARA 2019