Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan virus corona (COVID-19) sekaligus Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo menjelaskan soal proses pemakaman jenazah dengan protokol COVID-19.

"Sejumlah peristiwa jenazah pasien COVID-19 yang wafat dimakamkan dengan cara COVID, karena belum dilakukan tes atau hasil tesnya belum keluar, maka seluruh pasien COVID itu tetap dimakamkan secara COVID," kata Doni Monardo di kantornya di Jakarta, Senin.

Doni menyampaikan hal tersebut seusai mengikuti rapat terbatas dengan tema "Laporan Tim Gugus Tugas COVID-19" yang dipimpin Presiden Joko Widodo melalui "video conference" di Istana Merdeka.

"Artinya semua pasien dimakamkan secara COVID, sampai akhir hasilnya keluar baru bisa diputuskan jenazah itu statusnya COVID atau non-COVID," ungkap Doni.

Mekanisme tersebut diputuskan pasca kejadian salah seorang pejabat negara yang meninggal dunia namun belakangan baru diketahui positif COVID-19.

"Nah ini mengacu pada peristiwa beberapa minggu yang lalu, salah seorang pejabat kita ada yang wafat, kemudian dimakamkan dengan standar yang biasa, yang reguler. Setelah beberapa hari tenyata ditemukan positif COVID-19," tambah Doni tanpa menyebutkan nama pejabat tersebut.

Untuk menghindari agar hal serupa tidak terjadi lagi maka setiap pasein yang meninggal diperlakukan sebagai pasien COVID-19.

"Agar tidak salah dalam melakukan analisa dan mengambil keputusan, maka semua pasien yang meninggal dunia diperlakukan sebagai pasien COVID dan setelah ada hasilnya, Kementerian Kesehatan baru bisa memutuskan pasien itu positif atau negatif," tambah Doni.

Dinas Kesehatan setempat menurut Doni yang akan melaporkan status orang tersebut.

"Selama belum ada kepastian dari hasil tes yang diambil oleh Dinas Kesehatan di daerah maka pasien itu harus tetap diberikan status pasien COVID, setelah ada kepastian bukan pasien atau negatif nanti pencatatannya akan diatur dinas kesehatan dan dilapor Pusdatin Kemenkes dan disampaikan jubir Achmad Yurianto," ungkap Doni.

Sebelumnya Ketua Umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Daeng M Faqih menyebutkan jumlah kematian terkait virus corona di Indonesia mencapai 1.000 orang, hal tersebut berbeda dengan angka tersebut berbeda dengan yang terakhir disampaikan oleh juru bicara pemerintah terkait COVID-19 Achmad Yurianto yaitu 582 orang.

Daeng menjelaskan jumlah 1.000 tersebut merupakan gabungan antara data korban meninggal dari pasien yang sudah dinyatakan positif COVID-19 dan korban meninggal yang statusnya masih pasien dalam pengawasan (PDP) berdasarkan laporan langsung rumah sakit kepada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Menurut Daeng, kematian dengan status PDP banyak. Oleh pihak rumah sakit dilaporkan juga sebagai kematian perawatan COVID-19 sebab status PDP saat berada di RS juga dirawat menggunakan prosedur COVID-19 dan saat meninggal dunia juga dimakamkan dengan protokol pemakaman COVID-19.

Sementara jumlah tes yang dilakukan saat ini masih sedikit ditambah waktu yang diperlukan untuk mengetahui hasil tes juga memerlukan waktu beberapa hari sehingga sejumlah PDP statusnya baru diketahui hasilnya setelah pasien tersebut meninggal, atau bahkan ada yang tidak sempat diperiksa lalu meninggal.

Hingga Minggu (19/4), jumlah positif COVID-19 di Indonesia mencapai 6.575 kasus dengan 686 orang dinyatakan sembuh dan 582 orang meninggal dunia dengan jumlah pasien dalam pengawasan (PDP) mencapai 15.646 orang dan orang dalam pemantauan (ODP) berjumlah 178.883 orang.

Kasus positif COVID-19 ini sudah menyebar di seluruh 34 provinsi di Indonesia dengan daerah terbanyak positif yaitu DKI Jakarta (3.032), Jawa Barat (696), Jawa Timur (590), Sulawesi Selatan (370), Jawa Tengah (349), Banten (324), Bali (135), Papua (107), Kalimantan Selatan (96), Sumatera Selatan (89), Sumatera Utara (81)

Berdasarkan data dari situs Worldometers, hingga Senin (20/4) pagi terkonfirmasi di dunia ada 2.407.339 orang yang terinfeksi virus corona dengan 165.069 kematian sedangkan sudah ada 625.127 orang yang dinyatakan sembuh. Kasus di Amerika Serikat mencapai 764.265 kasus, di Spanyol 198.674 kasus, di Italia 178.972 kasus, di Prancis 152.894, di Jerman sebanyak 145.742, Inggris sebanyak 145.742, di China 82.747 kasus, di Iran 82.211.

Jumlah kematian tertinggi bahkan saat ini terjadi di Amerika Serikat yaitu sebanyak 40.565 orang, disusul Italia yaitu sebanyak 23.660 orang, Spanyol sebanyak 20.453 orang, Prancis sebanyak 19.718 orang, Inggris sejumlah 16.060 orang kemudian Belgia sebanyak 5.683 orang. Saat ini sudah ada lebih dari 213 negara dan teritori yang mengonfirmasi kasus positif COVID-19.

Pewarta: Desca Lidya Natalia

Editor : Rustam Effendi


COPYRIGHT © ANTARA News Bangka Belitung 2020