Pangkalpinang (Antara Babel) - Nelayan tradisional di Pangkalpinang, Provinsi Bangka Belitung (Babel), mengeluhkan  tingginya harga es balok untuk pengawet ikan hasil tangkapan sehingga menyulitkan mereka untuk memenuhi persediaan lainnya saat berlayar.

"Saat ini, harga es itu cukup tinggi berkisar Rp25 ribu hingga Rp30 ribu per balok sehingga kami terpaksa mengurangi pemakaian es itu," kata seorang nelayan, Mansyur di Pangkalpinang, Minggu.

Ia mengatakan, harga es yang tinggi itu cukup menyulitkan karena selain es mereka juga harus memenuhi kebutuhan yang lain selama berada di laut seperti beras, gula, kopi, minyak goreng dan lainnya sehingga harus mengeluarkan biaya yang lebih besar lagi.

"Saat ini harga kebutuhan pokok serba naik seiring menjelang Lebaran Idul Fitri 1436 Hijriyah. Untuk menyiasatinya beberapa persiapan kami kurangi atau kami lebih cepat kembali ke daratan dibanding sebelumnya," ujarnya.

Menurut dia, persediaan es di daerah itu cukup dan dapat memenuhi permintaan. Meski pun begitu namun tidak berdampak terhadap penurunan harga es tersebut.

"Selama 12 hari melaut nelayan menghabiskan sebanyak 17 es balok untuk mengawetkan hasil tangkapan. Meski pun harga es itu tinggi kami terpaksa tetap membelinya agar ikan tetap segar saat tiba di tempat pelelangan ikan," ujarnya.

Demikian juga Andi, seorang nelayan di daerah itu yang mengeluhkan tingginya harga es balok tersebut.

Ia berharap, pemerintah lebih memperhatikan nelayan kecil dan dapat memberikan kesejahteraan bagi kehidupan keluarga mereka.

"Kami berharap pemerintah dapat meninjau kembali harga es itu dan mengambil kebijakan yang tepat guna meringkan biaya nelayan saat melaut," ujarnya.

Pewarta: Mulki

Editor : Mulki


COPYRIGHT © ANTARA News Bangka Belitung 2015