Pangkalpinang (Antara Babel) - Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bangka Belitung (Babel) mengungkapkan produksi cabai propinsi itu pada 2012 sebanyak 2.873 ton, lebih rendah 403 ton (12,30 persen) dibandingkan produksi 2011.


"Penurunan produksi cabai rawit ini karena luas lahan pertanian berkurang seiring minat petani mengembangkan pertanian tersebut menurun," kata Kepala BPS Babel, Herum Fajarwati di Pangkalpinang, Rabu.


Ia menjelaskan, penurunan produksi cabai rawit tersebut terjadi di Kabupaten Belitung turun sebesar 44 ton, Kabupaten Bangka Barat turun sebesar 75 ton, dan Kabupaten Bangka Tengah turun 662 ton.


Sedangkan kenaikan produksi cabai rawit terjadi di Kabupaten Bangka sebesar 58 ton, Kabupaten Bangka Selatan sebesar 315 ton, Kabupaten Belitung Timur sebesar 0,1 ton, dan Kota Pangkalpinang sebesar 5 ton.


Sementara itu, kata dia, luas lahan pertanian cabai rawit 2012 seluas 479 hektare atau mengalami penurunan dibanding tahun sebelumnya seluas 492 hektare.


"Petani kurang berminat mengembangkan cabai ini karena membutuhkan biaya yang tinggi dan perawatan yang khusus, sehingga sebagian petani beralih berkebun karet, sawit, lada putih dan komoditas perkebunan lainnya," ujarnya.


Menurut dia, saat ini, untuk memenuhi kebutuhan cabai warga, pemerintah daerah masih mengandalkan pasokan dari daerah sentra produksi di Pulau Jawa dan Sumatera, sehingga perkembangan harga jenis sayur tersebut berdasarkan mekanisme pasar.


"Apabila pasokan cabai tersendat dan permintaan meningkat, maka harga cabai akan melambung tinggi," ujarnya.


Ia mengatakan, prospek pengembangan cabai ini berpotensi untuk meningkatkan kesejahteraan petani seiring harga cabai di pasaran yang cukup tinggi.


Misalnya, saat ini, harga cabai rawit merah mencapai Rp60 ribu per kilogram dan cabai merah keriting berkisar Rp30 ribu per kilogram.


"Saat ini, harga cabai cukup tinggi karena pasokan yang kurang dan meningkatnya biaya transportasi angkutan darat, laut dan udara sebagaidampak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi yang memicu meningkatnya tingkat inflasi di daerah kepulauan tersebut," ujarnya.

Pewarta: pewarta: aprionis

Editor : Rustam Effendi


COPYRIGHT © ANTARA News Bangka Belitung 2013