Toboali, Bangka Selatan (Antara Babel) - Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Bangka Selatan, Provinsi Bangka Belitung (Babel), mengimbau petani setempat menanam tanaman bawang merah dan sayur mayur selama musim kemarau.
"Selama musim kemarau ini, jenis tanaman sayur mayur seperti bawang, bayam, cabai besar, cabai rawit, kacang panjang, kangkung, ketimun, sawi dan lainnya lebih sedikit membutuhkan air dibandingkan tanaman lainnya seperti tanaman padi," ujar Kepala Distanak Bangka Selatan, Efendi Ali di Toboali.
Ia menjelaskan, selama musim kemarau ini, animo petani menanami tanaman sayur menurun karena mereka kuatir akan gagal panen karena ketersediaan air untuk tanaman tersebut berkurang drastis.
"Saat ini, ketersediaan air di kolong atau bekas penambangan bijih timah, sungai dan tempat penampungan air lainnya untuk menyirami tanaman palawija masih mencukupi dan petani tidak perlu kuatir akan kekurangan air untuk tanaman tersebut," ujarnya.
Ia mengatakan, himbauan penanaman tanaman sayur mayur ini juga sebagai antisipasi kekurangan stok sayur mayur untuk konsumsi masyarakat yang cukup tinggi.
"Tingkat konsumsi masyarakat cukup tinggi, sehingga sebagian hasil komoditas palawija seperti jagung, kedelai, kacang tanah, cabai, bawang, wortel masih mengandalkan pasokan dari Pulau Jawa dan Sumatera," ujarnya.
Ia menjelaskan, luas pertanian bawang hanya sekitar satu hektare, palawija seperti bayam, cabai besar, cabai rawit, kacang panjang, kangkung, ketimun, sawi, melinjo, petai, jengkol di Kecamatan Toboali 16,106,9 hekater dengan produksi 525,9 ton per tahun, Kecamatan Pulau Besar seluas 9.494 hekare dengan produksi 129,73 ton per tahun, Air Gegas 1.125 hektare dengan produksi 40,2 ton per tahun.
Selanjutnya, luas lahan palawija di Kecamatan Payung 366 hektare dengan produksi 20,2 ton per tahun, Kecamatan Tukak Sadai seluas 2.265 hekare dengan produksi 70,2 ton per tahun, Air Gegas 10.834 hektare dengan produksi 173,5 ton per tahun, Lepar Ponggok seluas 2.623 hektare dengan produksi 49,9 ton per tahun.
"Kami berharap petani tidak menjadi alasan kemarau dan terus menanami tanaman sayur mayur untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan keluarga," ujarnya.
Menurut dia, saat ini, harga sayur mayur di pasaran mulai merangkak naik karena berkurangnya pasokan sayur dari petani.
"Saat ini, petani mulai membatasi penanaman sayur mayur, karena mereka kuatir air di penampungan mengering selama musim kemarau, pada hal yang tersedia masih cukup untuk kebutuhan tanaman sayur tersebut," ujarnya.
COPYRIGHT © ANTARA News Bangka Belitung 2013
"Selama musim kemarau ini, jenis tanaman sayur mayur seperti bawang, bayam, cabai besar, cabai rawit, kacang panjang, kangkung, ketimun, sawi dan lainnya lebih sedikit membutuhkan air dibandingkan tanaman lainnya seperti tanaman padi," ujar Kepala Distanak Bangka Selatan, Efendi Ali di Toboali.
Ia menjelaskan, selama musim kemarau ini, animo petani menanami tanaman sayur menurun karena mereka kuatir akan gagal panen karena ketersediaan air untuk tanaman tersebut berkurang drastis.
"Saat ini, ketersediaan air di kolong atau bekas penambangan bijih timah, sungai dan tempat penampungan air lainnya untuk menyirami tanaman palawija masih mencukupi dan petani tidak perlu kuatir akan kekurangan air untuk tanaman tersebut," ujarnya.
Ia mengatakan, himbauan penanaman tanaman sayur mayur ini juga sebagai antisipasi kekurangan stok sayur mayur untuk konsumsi masyarakat yang cukup tinggi.
"Tingkat konsumsi masyarakat cukup tinggi, sehingga sebagian hasil komoditas palawija seperti jagung, kedelai, kacang tanah, cabai, bawang, wortel masih mengandalkan pasokan dari Pulau Jawa dan Sumatera," ujarnya.
Ia menjelaskan, luas pertanian bawang hanya sekitar satu hektare, palawija seperti bayam, cabai besar, cabai rawit, kacang panjang, kangkung, ketimun, sawi, melinjo, petai, jengkol di Kecamatan Toboali 16,106,9 hekater dengan produksi 525,9 ton per tahun, Kecamatan Pulau Besar seluas 9.494 hekare dengan produksi 129,73 ton per tahun, Air Gegas 1.125 hektare dengan produksi 40,2 ton per tahun.
Selanjutnya, luas lahan palawija di Kecamatan Payung 366 hektare dengan produksi 20,2 ton per tahun, Kecamatan Tukak Sadai seluas 2.265 hekare dengan produksi 70,2 ton per tahun, Air Gegas 10.834 hektare dengan produksi 173,5 ton per tahun, Lepar Ponggok seluas 2.623 hektare dengan produksi 49,9 ton per tahun.
"Kami berharap petani tidak menjadi alasan kemarau dan terus menanami tanaman sayur mayur untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan keluarga," ujarnya.
Menurut dia, saat ini, harga sayur mayur di pasaran mulai merangkak naik karena berkurangnya pasokan sayur dari petani.
"Saat ini, petani mulai membatasi penanaman sayur mayur, karena mereka kuatir air di penampungan mengering selama musim kemarau, pada hal yang tersedia masih cukup untuk kebutuhan tanaman sayur tersebut," ujarnya.
Editor : Rustam Effendi
COPYRIGHT © ANTARA News Bangka Belitung 2013