Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono mengatakan gempa tektonik di Laut Sulawesi akibat aktivitas deformasi batuan yang disebabkan oleh mekanisme slab pull dalam Lempeng Sangihe.

"Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi memiliki mekanisme mendatar turun (oblique normal)," kata Daryono dalam rilis yang dibagikan BMKG dalam grup percakapan "BMKG dan Stakeholder" di Manado, Rabu.

Berdasarkan estimasi peta guncangan (shakemap), kata dia, gempa bumi tersebut menimbulkan guncangan di daerah Ponelo Kepulauan, Gorontalo Utara, dengan skala intensitas II MMI (getaran dirasakan oleh beberapa orang, benda-benda ringan yang digantung bergoyang).

Hingga saat ini belum ada laporan dampak kerusakan yang ditimbulkan akibat gempa bumi tersebut.

Dari hasil pemodelan menunjukkan bahwa gempa bumi tersebut tidak berpotensi.

Hingga pukul 11.20 WIB, hasil monitoring BMKG belum menunjukkan adanya aktivitas gempa bumi susulan (aftershock).

"Pastikan informasi resmi hanya bersumber dari BMKG yang disebarkan melalui kanal komunikasi resmi yang telah terverifikasi," ujar Daryono.

Pukul 1:10:01 WIB wilayah Laut Sulawesi diguncang gempa tektonik, hasil analisis BMKG menunjukkan gempa bumi tersebut memiliki parameter update dengan magnitudo M5,0.

Episenter gempa terletak pada koordinat 3,11 derajat Lintang Utara dan 122,89 derajat Bujur Timur (BT) atau tepatnya berlokasi di laut pada jarak 248 kilometer arah barat laut Kota Boroko-Bolaang Mongondow Utara, Sulawesi Utara, pada kedalaman 487 kilometer.

Pewarta: Karel Alexander Polakitan

Editor : Bima Agustian


COPYRIGHT © ANTARA News Bangka Belitung 2026