Manado (ANTARA) - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebutkan gempa tektonik M6,4 (update) di Kabupaten Kepulauan Taluad, akibat adanya aktivitas deformasi batuan dalam Lempeng Maluku.
"Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat adanya aktivitas deformasi batuan dalam Lempeng Maluku," kata Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono dalam laporan yang dibagikan BMKG dalam grup percakapan 'BMKG dan Stakeholder' di Manado, Sabtu.
Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi memiliki mekanisme pergerakan mendatar turun (oblique normal).
Gempa bumi tersebut berdampak dan dirasakan di daerah Tobelo, Sitaro dengan skala intensitas III-IV MMI (bila pada siang hari dirasakan oleh orang banyak dalam rumah), daerah Morotai dengan skala intensitas III MMI (getaran dirasakan nyata dalam rumah. Terasa getaran seakan akan truk berlalu).
Sementara di daerah Ternate, Minahasa Utara, dan Bitung dengan skala intensitas II-III MMI (getaran dirasakan nyata dalam rumah. Terasa getaran seakan akan truk berlalu).
"Hasil pemodelan menunjukkan bahwa gempa bumi ini tidak berpotensi tsunami," ujarnya.
Baca juga: Gempa Magnitudo 7,1 guncang Melonguane, Sulawesi Utara
Hingga pukul 22.20 WIB, hasil monitoring BMKG menunjukkan adanya satu aktivitas gempa bumi susulan (aftershock) dengan magnitudo M4,6.
Dia berharap, untuk memastikan informasi resmi hanya bersumber dari BMKG yang disebarkan melalui kanal komunikasi resmi yang telah terverifikasi.
Pukul 21.58.25 WIB wilayah Pantai Timur Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara diguncang gempa tektonik.
Hasil analisis BMKG menunjukkan gempa bumi ini memiliki parameter update dengan magnitudo M6,4.
Episenter gempa bumi terletak pada koordinat 3,76° LU ; 126,95° BT, atau tepatnya berlokasi di laut pada jarak 40 kilometer arah tenggara Melonguane, Sulawesi Utara pada kedalaman 31 kilometer.
