Sekretaris Daerah (Sekda) Pemkab Bangka Tengah, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Ahmad Syarifullah Nizzam menyebut, pengelolaan sampah berkontribusi terhadap emisi gas rumah kaca (GRK), terutama dari gas metan yang dihasilkan tempat pemrosesan akhir serta praktik pembakaran sampah terbuka.

"Pengelolaan sampah yang lebih baik menjadi bagian dari kebijakan mitigasi dan adaptasi perubahan iklim, termasuk melalui Program Kampung Iklim,” kata Syarifullah pada peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 2026 di Koba, Jumat.

Syarifullah mengatakan, persoalan sampah tidak hanya berkaitan dengan kebersihan lingkungan tetapi juga menjadi bagian dari isu perubahan iklim.

"Gas metan dari timbunan sampah di tempat pemrosesan akhir menjadi salah satu sumber emisi GRK," ujarnya.

Pemerintah Kabupaten Bangka Tengah, kata dia, terus mendorong pengurangan sampah dari sumbernya melalui penerapan prinsip reduce, reuse, dan recycle (3R).

Upaya ini dilakukan dengan meningkatkan peran bank sampah, pengelolaan sampah berbasis masyarakat, serta edukasi berkelanjutan kepada warga agar memilah sampah sejak dari rumah tangga.

Pemkab Bangka Tengah juga berupaya memperkuat pengelolaan tempat pemrosesan akhir (TPA) agar lebih ramah lingkungan.

"Pengendalian gas metan, pengurangan praktik pembakaran sampah terbuka dan pemanfaatan teknologi pengolahan sampah, menjadi bagian dari strategi menekan emisi gas rumah kaca di sektor persampahan," ujarnya.

Menurut Syarifullah, keterlibatan masyarakat menjadi kunci utama dalam mengatasi persoalan sampah.

"Tanpa kesadaran dan partisipasi aktif warga, berbagai kebijakan dan program yang dijalankan pemerintah tidak akan memberikan dampak maksimal terhadap lingkungan maupun penurunan emisi," ujarnya.

Pewarta: Ahmadi

Editor : Bima Agustian


COPYRIGHT © ANTARA News Bangka Belitung 2026