Ada paradoks yang unik dalam beberapa tahun terakhir. Ketika filter digital mampu menyempurnakan rupa seseorang, dalam kehidupan sebenarnya orang justru merindukan standar kecantikan yang lebih autentik.

Sepertinya memang di era kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), definisi kecantikan sedang bergeser yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Inilah yang terjadi saat ini, ketika teknologi memungkinkan manusia menciptakan wajah sempurna hanya dalam hitungan detik. Filter digital dapat menghilangkan kerutan, memperhalus kulit, mengubah bentuk wajah, bahkan menciptakan sosok yang sebenarnya tidak pernah ada.

Media sosial dipenuhi gambar-gambar yang telah melalui proses penyuntingan canggih sehingga batas antara realitas dan rekayasa semakin sulit dikenali.

Memang faktanya, AI telah menambahkan dimensi baru yang jauh lebih kompleks. Setelah selama bertahun-tahun, standar kecantikan sering dibentuk oleh industri hiburan, iklan, dan budaya populer.

Kini algoritma dapat menentukan wajah mana yang dianggap menarik berdasarkan jutaan data visual yang dianalisis. Akibatnya, muncul kecenderungan menuju standar kecantikan yang semakin seragam.

Wajah simetris, kulit tanpa cela, dan proporsi tertentu kerap menjadi gambaran ideal yang terus direproduksi oleh teknologi digital.

Namun di sisi lain, perkembangan tersebut justru memunculkan kesadaran baru. Semakin banyak orang mulai mempertanyakan apakah kecantikan harus berarti kesempurnaan.

Ketika teknologi mampu menciptakan wajah yang nyaris tanpa kekurangan, nilai autentisitas justru menjadi semakin penting. Masyarakat mulai mencari sesuatu yang lebih manusiawi, lebih nyata, dan lebih dekat dengan identitas diri.

Fenomena inilah yang terlihat dalam berbagai tren perawatan estetika modern. Jika beberapa dekade lalu banyak orang mengejar perubahan wajah yang drastis, saat ini kecenderungannya bergeser ke arah mempertahankan karakter alami sambil menjaga kesehatan dan kualitas kulit.

Fokusnya bukan lagi mengubah seseorang menjadi sosok lain, melainkan membantu seseorang menjadi versi terbaik dari dirinya sendiri.


Mencari kenyamanan

Pergeseran yang terjadi ini menurut Head of idsMED Aesthetics Indonesia Marisa Theresia, mendorong adanya tren perawatan estetika yang menginginkan hasil natural dengan proses yang praktis.

Pendekatan ini menunjukkan bahwa masyarakat tidak lagi sekadar mengejar perubahan fisik, tetapi juga mencari kenyamanan dan kesesuaian dengan gaya hidup mereka.

Sosok yang mampu merepresentasikan tren tersebut adalah mereka yang tetap mempertahankan karakter aslinya.

Jika harus mencontohkan publik figur boleh jadi aktris dan penyanyi Mikha Tambayong menjadi salah satu representasi cantik bagi standar yang dimaksud.

Mikha kerap dianggap mampu merepresentasikan perempuan Indonesia modern yang aktif, percaya diri, dan tetap menjadi dirinya sendiri yang senantiasa meningkatkan penampilan tanpa mengubah identitas diri.

Pandangan tersebut mencerminkan pergeseran paradigma yang lebih luas dalam dunia kecantikan. Jika sebelumnya kecantikan sering dipahami sebagai proses transformasi, kini kecantikan semakin dipandang sebagai proses penguatan jati diri.

Seseorang tidak harus memiliki wajah yang sama dengan publik figur atau standar digital tertentu untuk merasa cantik. Yang lebih penting adalah bagaimana seseorang merawat dirinya dengan cara yang sehat dan bertanggung jawab.

Mikha dalam sebuah wawancara sempat mengakui bahwa pemahamannya tentang kecantikan telah berubah seiring waktu. Setelah bertahun-tahun berada di industri kreatif sejak usia 13 tahun, ia melihat bahwa kecantikan bukan lagi sekadar persoalan penampilan.

Baginya, kecantikan berkaitan dengan kesadaran terhadap apa yang dilakukan, apa yang dikonsumsi, dan bagaimana seseorang merawat dirinya secara menyeluruh.

Perspektif ini semakin relevan ketika masyarakat menghadapi banjir informasi dan standar visual yang terus berubah akibat perkembangan teknologi.

Menurut Mikha, kepercayaan diri kini menjadi inti dari kecantikan. Seseorang dapat merasa bangga terhadap dirinya sendiri dan tubuhnya sendiri ketika mampu merawat diri dengan baik, baik dari dalam maupun dari luar.

Pandangan ini menunjukkan bahwa kecantikan semakin dipahami sebagai bagian dari kesejahteraan hidup, bukan sekadar penampilan fisik yang dapat dilihat orang lain.


Nilai autentik

Perubahan cara pandang tersebut juga mempengaruhi pilihan masyarakat terhadap upaya memelihara dan merawat diri. Di tengah kesibukan dan mobilitas yang tinggi, banyak orang tidak lagi memiliki waktu untuk menjalani perawatan yang membutuhkan masa pemulihan panjang.

Mereka mencari solusi yang efektif namun tetap memungkinkan aktivitas sehari-hari berjalan normal.

Pebisnis di bidang estetika dan kecantikan Andy Rahardja melihat tren ini sebagai salah satu perubahan paling signifikan dalam industri estetika saat ini.

Menurut dia, perempuan maupun laki-laki yang aktif bekerja ingin tetap merawat diri tanpa harus mengganggu rutinitas mereka. Karena itu, permintaan terhadap perawatan dengan waktu pemulihan minimal atau minim downtime terus meningkat.

Namun yang paling penting dalam perkembangan dunia estetika modern bukanlah kecepatan teknologi semata, melainkan bagaimana teknologi tersebut digunakan secara bertanggung jawab.

Di sinilah peran tenaga medis menjadi sangat krusial. Ketika informasi mengenai kecantikan beredar sangat cepat melalui media sosial, masyarakat membutuhkan sumber pengetahuan yang kredibel agar mampu membedakan antara tren sesaat dan praktik yang benar-benar aman.

Karena itu, keterlibatan dokter estetika dan dan berbagai profesi pendukungnya menjadi bagian penting dalam upaya edukasi masyarakat mengenai perawatan non-invasif.

Pakar dan dokter estetika dr Aji Bayu Chandra menekankan pentingnya peran medis dalam membantu memastikan bahwa diskusi tentang kecantikan tidak berhenti pada aspek penampilan, tetapi juga mencakup faktor keamanan, kesehatan kulit, dasar ilmiah, serta manfaat jangka panjang bagi individu.

Dan di era AI, ketika teknologi mampu menciptakan versi digital yang tampak sempurna, justru muncul kebutuhan yang lebih besar untuk kembali pada nilai-nilai yang autentik.

Masyarakat mulai menyadari bahwa kecantikan sejati tidak selalu identik dengan wajah tanpa cela. Kecantikan dapat hadir melalui kesehatan yang terjaga, rasa percaya diri yang tumbuh dari dalam diri, serta kemampuan menerima setiap fase kehidupan dengan bijaksana.

Masa depan kecantikan mungkin tidak akan ditentukan oleh seberapa sempurna seseorang terlihat di layar, melainkan oleh seberapa nyaman seseorang hidup dengan dirinya sendiri.

Teknologi akan terus berkembang, AI akan semakin canggih, dan standar visual akan terus berubah. Namun kebutuhan manusia untuk merasa percaya diri, dihargai, dan menjadi dirinya sendiri kemungkinan akan tetap menjadi inti dari definisi kecantikan yang sesungguhnya.

Oleh karena itulah tren kecantikan modern bergerak, bukan menuju keseragaman yang diciptakan algoritma, melainkan menuju penghargaan yang lebih besar terhadap keaslian, kesehatan, dan kualitas hidup manusia.

Pewarta: Hanni Sofia

Editor : Rustam Effendi


COPYRIGHT © ANTARA News Bangka Belitung 2026