Banda Aceh (Antara Babel) - Peneliti Unsyiah menyampaikan bukti-bukti kedahsyatan tsunami Aceh yang terjadi 7.400 tahun silam setelah meneliti sebuah gua dekat pantai di Meunasah Lhok, Kecamatan Lhong, Kabupaten Aceh Besar.

"Tim peneliti Unsyiah yang bekerja sama dengan Nanyang Technological University (NTU) telah melakukan penelitian di Kecamatan Lhoong, Aceh Besar," kata Peneliti Unsyiah Nazli Ismail di Darussalam, Banda Aceh, Senin.

Mereka telah mengidentifikasi lapisan-lapisan pasir yang terendapkan oleh kejadian tsunami pada masa lampau di dalam gua itu di mana lapisan-lapisan pasir tsunami secara rapi bersusun silang dengan endapan guano.

Menurut dia melalui proses indentifikasi lapisan, penentuan umur radioaktif unsur karbon dan analisis fosil-fosil mikroskopis atau foraminifera, para ilmuwan mampu merangkaikan kembali peristiwa-peristiwa tsunami purba dahsyat yang pernah menghantam daratan Aceh.

Ia menyebutkan sejak 7.400 tahun lalu, kejadian tsunami di Aceh senantiasa berulang dengan periode perulangan sangat beragam. Ada tsunami yang berulang dalam 2.000 tahun sekali, tetapi ada juga yang berulang  dalam rentang kurang dari seratus tahun.

"Kemungkinan perulangan kembali tsunami-tsunami dahsyat di Aceh sangat besar. Berdasarkan hubungan antara ketebalan lapisan pasir tsunami di dalam gua dan interval perulangan tsunami, maka dapat kami simpulkan bahwa masa jeda (dormansi) yang panjang kemungkinan mengikuti tsunami 2004," katanya.

Kajian gua tsunami Aceh memberikan gambaran yang sangat penting tentang perulangan bahaya tsunami di sepanjang zona subduksi (megathrust Sunda) yang membentang di sebelah barat lepas pantai Sumatera.

Dengan mempelajari bukti-bukti tsunami purba pada gua dekat pantai itu, maka semakin terbantu usaha para ahli geologi untuk memecahkan teka-teki prediksi tsunami yang serupa dengan tsunami 2004 pada masa mendatang.

"Selama ini, informasi kejadian tsunami purba berdasarkan catatan sejarah dan rekaman peralatan kegempaan masih sangat singkat durasinya, sehingga rekaman tersebut tidak mampu memberikan gambaran yang menyeluruh tentang potensi tsunami-tsunami besar," kata Nazli.

Oleh karena itu perlu dicari bukti-bukti tsunami besar yang lebih lama, baik dari sisi waktu maupun dari sisi perulangan. Informasi-informasi tersebut akan sangat bermanfaat dalam membantu mengurangi risiko bencana pada masyarakat Aceh yang umumnya mendiami wilayah pesisir.

Nazli mengingatkan bahwa salah satu kekhawatiran yang perlu diwaspadai dari hasil temuan itu adalah adanya bukti ketidakteraturan periode ulang tsunami besar yang pernah terjadi di Aceh dalam masa 7.400 tahun itu.

"Ini merupakan tantangan yang besar bagi para ilmuwan dan pemerintah untuk penyelamatan masyarakat pesisir dari bahaya tsunami. Rekaman dari dalam gua membuktikan, perulangan kejadian tsunami besar di Aceh pernah terjadi dalam rentang waktu yang sangat singkat dan pernah juga terjadi dalam rentang waktu 200 tahun," katanya.

Dia mengharapkan pemerintah meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap ancaman tsunami melalui pendidikan. Guha Ek Lenutie di Kecamatan Lhong adalah salah satu situs yang dapat dijadikan tempat pembelajaran.

"Unsyiah berharap keberadaan gua tsunami tersebut dapat dilestarikan, mengingat di daerah tersebut telah terjadi kegiatan penambangan batu secara masif di sekitar Guha Ek Leuntie pada tahun 2016," pungkas dia.

Pewarta: Muhammad Ifdhal

Editor : Riza Mulyadi


COPYRIGHT © ANTARA News Bangka Belitung 2017