"Kedalaman drainase di Kota Pangkalpinang, dari satu meter berkurang menjadi 90 centimeter karena endapan tanah, pasir dan sampah masyarakat,"
Pangkalpinang, 14/2 (Antara Babel) - Kedalaman drainase di Kota Pangkalpinang, Provinsi Bangka Belitung, dari satu meter berkurang menjadi 90 centimeter karena endapan tanah, pasir dan sampah masyarakat di daerah itu.

"Kedalaman drainase yang termanfaatkan untuk menampung air hujan hanya 10 centimeter, sehingga saat hujan turun air menggenangi jalan dan permukiman masyarakat," ujar Kepala Badan Lingkungan Hidup Kota Pangkalpinang Bani Baehaki di Pangkalpinang, Kamis.

Ia menjelaskan selama ini musibah banjir di Kota Pangkalpinang berasal dari luapan air drainase.

"Banjir yang terjadi bukan karena luapan air sungai, tetapi luapan air drainase," ujarnya.

Menurut dia, secara umum kesadaran masyarakat untuk menjaga kebersihan saluran drainase di lingkungannya masih rendah.

"Masyarakat kurang peduli untuk membersihkan saluran drainase, misalnya, saluran drainase di Kampung Katak yang sudah tertutup, karena masyarakat di kampung tersebut membuang sampah di saluran drainase," ujarnya.

Untuk itu, katanya, kami mengimbau masyarakat untuk memaksimalkan pemanfaatan fungsi drainase untuk mencegah banjir dan berbagai penyakit.

"Kami mengimbau mamsyarakat mengeruk tanah, pasir dan sampah di saluran, agar terhindar dari banjir dan berbagai penyakit seperti diare, demam berdarah, malaria, ISPA dan lainnya," ujarnya.

Ia mengatakan dalam upaya menekan musibah banjir dan berbagai penyakit ini, pihaknya terus melakukan pemeliharaan saluran, membersihkan dan mengeruk saluran air yang tertutup.

"Namun, petugas tidak mungkin mengawasi dan membersihkan seluruh saluran drainase ini, kami harapkan kesadaran masyarakat menjaga dan membersihkan drainase ini," ujarnya.




Editor : Aprionis

COPYRIGHT © ANTARA 2026